Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 48


__ADS_3

Pagi di hari senin merupakan salah satu pagi tersibuk yang menjadi momok bagi sebagian orang. Sindrom I Hate Monday seakan sudah mendarah daging, memunculkan ketakutan yang mampu menjatuhkan semangat sampai di level yang paling tidak menyenangkan. Begitulah senin.


Beberapa kali melewati hari senin, aku menjadi paham bahwa di luar sana ada orang-orang yang memiliki pressure pekerjaan sangat tinggi. Bahasa frontalnya “dimarahi adalah bagian dari pekerjaan”. Dari situ aku pun belajar bahwa seberat apa pun yang kita hadapi, sesulit apa pun yang kita lalui, hal terbaik untuk menerimanya adalah dengan bersyukur. Termasuk bersyukur sudah dipertemukan dengan hari senin kembali, bersyukur masih diberi kesempatan menikmati guliran waktu semesta.


Kring...Kring..


Bunyi telpon kantor berdering nyaring di meja kerjaku.


"Selamat pagi, dengan divisi pemasaran RHD grup, ada yg bisa dibantu?". Jawabku formal.


"Nona Qila, direktur meminta dibawakan proposal tempo hari yg sudah direvisi, tolong segera antar ke ruangan beliau." Ucap seseorang dibalik telpon itu.


"Baiklah, segera saya antarkan".


Tut..


Hah.. Lagi2 harus berhadapan dengan pria angkuh itu.


****


Tokk tokk tokk..


"Masuk"


"Pagi pak, ini berkas yg anda minta, silahkan di cek". Ucapku lalu menyerahkan proposal yg telah ku siapkan.


"Baiklah, kamu tunggu dulu disana." Jawabnya sambil menunjuk ke arah sofa tak jauh dariku.

__ADS_1


Setelah mendapat berkas dariku, direktur langsung membuka dan memeriksanya dengan cermat. Sesekali ku lihat dirinya menganggukkan kepala kadang juga mengernyitkan dahi. Ya semoga saja hasil kerjaku kali ini bisa diterima baik olehnya.


Saat kami berdua sibuk dengan pemikiran masing2, tiba2 pintu ruangan terbuka. Muncul seorang pria muda asing yg dengan seenaknya masuk tanpa mengetuk pintu.



"Hai kakakku sayang". Sapa pria itu sambil mendekat ke meja Pak Abi.


"Kau!! Apa lagi maumu sekarang?". Jawab Pak Abi ketus.


Omo.. Apa keluarga mereka malaikat? mengapa tampan sekali. Pujiku dalam hati.


Tak ku sangka direktur bisa memiliki adik yg sama tampannya dengan dirinya, pasti orang tuanya pun juga sangat tampan dan cantik.


"Kenapa galak sekali sih? Aku kan adikmu."


"Oke, dengan satu syarat. Semua karyawan disini tidak ada yg boleh tau kalau kau adikku. Karena aku tak ingin nantinya mereka akan memperlakukanmu berbeda."


"Tak masalah, lagi pula dengan ketampananku ini aku juga akan diperlakukan berbeda nanti.. Kau lihat saja." Ujar pria itu narsis.


"Huh.. Baiklah akan ku atur semua untukmu, sekarang pergilah jangan mengganggu pekerjaanku!". Perintah Pak Abi.


"Hai nona cantik, siapa namamu?". Ucap pria tampan itu yg tak menghiraukan perintah kakaknya, ia malah datang mendekat dan duduk disampingku.


"Sa..Saya Qila pak." Jawabku salah tingkah.


Apa dia sedang tebar pesona sekarang? melihat senyumnya saja membuatku salah tingkah.

__ADS_1


"Apa aku setua itu nona? Panggil saja Aldo, ku rasa usiaku lebih muda darimu." Ucapnya masih dengan senyuman mautnya.


"Hei Kalian.. cukup ajang perkenalannya!! Sekarang kau keluar dari sini." Tegur Pak Abi yg nampak kesal.


"Hais.. Kau ini selalu saja mengganggu kesenanganku." Gerutu Aldo.


"Ayo nona kita keluar, aku antar keruanganmu." Ajak Aldo sambil meraih tanganku.


"Kau yg pergi!! Dia masih ada pekerjaan disini. Keluar!!". Teriak Pak Abi lagi. Ku rasa dia benar2 marah sekarang.


"Dasar pria es.."


"Kalau gitu aku pergi dulu ya nona. Sampai jumpa besok".


Sepeninggal Aldo, kami berdua kembali dalam keadaan hening. Pak Abi masih terlihat sibuk memeriksa beberapa dokumen dimejanya.


Jika ia sibuk lantas mengapa tak membiarkanku pergi. Gerutuku dalam hati.


"Hmm..Baiklah setelah saya priksa semua ide kamu lebih baik dari kemarin. Saya sedang sibuk jadi tidak bisa mengadakan meeting. Kalian atur saja semuanya, segera realisasikan. Dan saya mau kali ini kamu yg akan bertanggung jawab dengan proyek ini."


What?? Apa aku nggak salah. Ini kan proyek besar, bisa2nya menyerahkannya pada karyawan baru sepertiku.


"Hei.. Kau? Malah bengong, kamu dengar tidak apa yg saya ucapkan tadi?" Tegur Pak Abi menyadarkan lamunanku.


"Ah..I iya pak, akan saya laksanakan. Kalau tidak ada perlu lagi saya undur diri melanjutkan pekerjaan."


"Ya pergilah."

__ADS_1


__ADS_2