
"Qila.. Kamu lembur lagi?". Sapa Levin yg sudah bersiap untuk pulang.
"Iya pak, kan bapak tau saya harus mengerjakan ulang proposal tadi." Jawabku tanpa melihatnya.
"Baiklah sini aku bantu, biar cepet pulangnya."
Tanpa meminta persetujuanku Levin menarik kursi dan duduk disebelahku, memeriksa dokumen dan bahan proposal yg telah ku siapkan.
"Rencanamu bagus Qila, tinggal nambahin ini sama ini." Puji Levin di sela kesibukannya.
Sesuai intruksi Levin aku pun menambahkan beberapa bagian pada ketikanku.
Dan yap, satu jam kemudian pekerjaan kami selesai. Lebih cepat dari hari lemburku kemarin.
"Aku antar aja ya pulangnya." Ucap Levin begitu kita keluar dari ruangan.
"Nggak usah pak nanti ngrepotin, saya pesen ojol aja." Tolakku halus.
"Udah gppa, rumah kita searah kok. Saya mau ditemenin dulu makan malam sama kamu. Ya anggap aja sebagai balas budi bantuanku."
"Tapi pak..
Tanpa aba2 dan persetujuanku Levin langsung menggandeng tanganku dan menarikku ikut bersamanya.
Yak.. Ni cowok hobi banget bikin orang jantungan. Gerutuku dalam hati.
__ADS_1
****
Tiga puluh menit kemudian kami berdua sampai di restoran cukup mewah di Jakarta. Aku sedikit terkejut dengan pria disampingku ini, apa dia sekaya itu hingga makan malam saja harus ditempat yg mewah dan mahal seperti ini.
Seumur hidup baru kali ini aku makan di tempat yg mewah, karena meskipun orang tuaku berkecukupan, mereka selalu mengajariku untuk berhemat dan hidup sederhana. Kami sekeluarga lebih memilih makan bersama masakan bunda daripada membuang buang uang direstoran yg mewah.
"Mau pesen apa?". Ujar Levin menyadarkan lamunanku.
"Terserah bapak aja." Jawabku sekenanya.
Akhirnya Levin memilih spaghetti, muffin dan ice lychee tea untuk kami berdua
Kami berdua makan dengan hening, hanya dentingan peralatan makan yg terdengar disana, aku merasa canggung dengan situasi ini, aku merasa ini lebih seperti kencan daripada makan malam.
Sampai pada akhirnya aku bosan dan memberanikan diri untuk membuka suara dan bertanya padanya.
Panggilku pelan yg langsung dijawab olehnya.
"Iya.."
"Saya lupa mau bertanya, nama direktur kita siapa ya? hehe.." Tanyaku sedikit cengengesan.
Aku merasa malu, bekerja tapi tidak tahu nama bosku sendiri.
"Oh.. Dia dikantor dipanggil Pak Abi. Kenapa? Kamu suka ya dengannya?".
"Uhukk..Uhukk.." Aku langsung tersedak mendengar kalimat terakhir Levin.
__ADS_1
"Ba..bapak ada2 aja, mana mungkin saya berani suka sama direktur. Nggak pantes atuh pak." Jawabku gugup menahan malu.
Bisa gawat rasanya kalau Levin sampai tau aku pernah lancang memeluk Pak Abi.
"Baguslah.. Dengan begitu aku tidak punya saingan." Ucap Levin ambigu.
Aku tak mengerti maksud perkataannya itu, tapi tak peduli juga sih. Aku hanya bergegas menghabiskan makan malamku agar bisa cepat sampai dirumah. Sungguh melelahkan sekali harus lembur selama dua hari.
****
"Ini rumah kamu?". Tanya Levin setelah mengikuti arahanku.
"Iya pak, bapak mau mampir dulu?". Jawabku menawarkan.
"Emm..Nggak usah, lain kali aja ya. Terima kasih sudah menemaniku makan malam." Tolaknya halus.
"Nggak pak, harusnya saya yg terima kasih. Sudah dibantuin, ditraktir makan pula, sering2 ya pak..Hehe."
"Tentu, apa sih yg nggak buat wakil kesayanganku." Ucapnya lagi2 dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ya udah aku pulang dulu ya, sampai bertemu besok." Pamitnya kemudian.
"Iya hati2 pak."
Hmm.. Baik banget si pak bos, ganteng pula. Haishh.. Beruntungnya aku kerja dikelilingi cogan. Tapi sayang banget pak direkturnya kaku, coba aja dia murah senyum, pasti aku ikutan klepek2 kayak yg lain.
__ADS_1