Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 67


__ADS_3


RHD Grup,


"Eh lihat deh, kayaknya mereka pacaran." Menunjuk ke arah Levin dan Qila yg datang bersamaan.


"He em, mereka berangkat, pulang, bahkan istirahat selalu bareng." Sahut karyawan yg lain.


"Tapi cocok ya, tampan dan cantik. Apalah dayaku yg cuma kentang." Sambungnya lagi mendramatisir.


"Sssttt!! Jangan keras keras ntar ketahuan si botak berabe loh. Udah yuk balik kerja."


****


Beberapa waktu ini Qila dan Levin memang menjadi topik hangat hampir didalam satu gedung itu. Banyak yg mendukung, namun tak sedikit pula yg iri dan menganggap Qila sebagai wanita penggoda. Karena bagaimana pun Levin adalah salah satu pria most wanted di RHD grup setelah Sam direkturnya.


"Qi, tolong perbaiki ini sama ini ya, setelah itu langsung saja antar ke ruangan direktur." Perintah Levin.


"Baik pak." Jawab Qila singkat lalu segera mengerjakan tugasnya.


Tak butuh waktu lama, setengah jam kemudian tugas yg diberikan Levin sudah selesai, ia pun bergegas mengantarkannya ke ruangan Sam.


Tokk tokk tokk..


"Masuk"


"Selamat siang pak, ini proposal untuk rencana pemasaran produk baru kita. Mohon diperiksa." Terang Qila sambil menyerahkan satu map warna hijau.


Sam langsung menerima, memeriksanya dengan cermat dan tanpa banyak bicara.


"Emm.. Bagus, tinggal tambahkan ini sama ini, setelah itu realisasikan sesegera mungkin. Saya mau bulan depan kita sudah siap meluncurkannya." Tutur Sam lalu mengembalikan map tersebut pada Qila.

__ADS_1


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Qila yg bersiap pergi.


"Qi tunggu!!". Teriak Sam membuat Qila menghentikan langkahnya tepat sebelum ia membuka pintu.


"Ada apa pak?". Tanya Qila penasaran.


"Apa kau pacaran dengan Levin?".


Satu pertanyaan aneh itu keluar begitu saja dari mulut Sam, sontak membuat Qila diam tertegun sambil mencerna pertanyaan itu. Mungkin ia salah dengar kali ini, pikir Qila.


"Halo?? Apa kau mendengarku?". Sahut Sam lagi.


"Ah i iya pak, emm.. Maksudku tidak, kami tidak pacaran." Jawab Qila sedikit gugup.


"Ah baguslah,, sekarang kau bisa pergi. Lanjutkan pekerjaanmu." Ujar Sam dengan raut leganya.


"Baiklah, saya permisi."


Gumam Sam sambil mengusap wajahnya kasar.


****


Ting.. Ting.. Ting..


Dentingan jam kantor berbunyi cukup keras, menandakan bahwa sudah waktunya untuk pulang. Para karyawan pun satu persatu mulai merapikan barangnya, merenggangkan tubuh sejenak dan bergegas meninggalkan pekerjaan mereka.


Sama seperti yg lain Qila dan Sam juga turut serta bersiap siap untuk pulang.


"Ayo sayang kita pulang." Ucap Levin menghampiri Qila dengan senyum sumringahnya.


"Nama saya Qila pak, bukan sayang." Jawab Qila memutar bola matanya malas sambil merapikan meja kerjanya.

__ADS_1


"Waktumu habis, sekarang aku mau jawaban darimu". Ujar Levin membalikkan tubuh Qila menghadapnya.


Qila diam mematung, ia lupa bahwa sore ini ia harus memberi jawaban atas pernyataan Levin kemarin. Kini ia merasa sangat gugup, wajahnya merona malu, bahkan ia tak sanggup berkata kata sementara Levin menatapnya lekat seperti sekarang.


"Hei, jawab aku!! Kalau kau diam aku anggap sebagai iya." Ucap Levin lagi sambil menoel pipi cubby Qila tak lupa dengan senyum smirk khasnya.


"Sa saya masih butuh waktu lagi pak." Ucap Qila terbata bata.


"No.. Harus sekarang. Aku hitung mundur 30 detik dari sekarang. 30..29..28..27..26..25.."


"Pak stop!!".


"24..23..22..21..20.."


Levin terus saja berhitung tanpa mempedulikan ucapan Qila. Apapun yg terjadi ia harus bisa membuat gadis itu menerima dirinya, bagaimana pun caranya.


"Pak berhenti!!". Teriak Qila lagi.


"10..9..8..7.."


Qila sangat kebingungan sekarang, bagaimana ia bisa menjawab jika Levin terus seperti ini, ini sama saja Levin sengaja memojokkan dirinya.


"3..2..1.. Selesai, sekarang aku mau jawabanku." Tutur Levin yg masih keras kepala, dan semakin menghimpit Qila ke meja.


Beruntungnya saat itu semua tim satu divisi Qila sudah pulang, jadi tidak ada satu pun yg tau apa yg sedang terjadi sekarang.


"Oke, waktumu habis. Diammu ini aku anggap sebagai iya. Mulai detik ini, menit ini, jam ini kau adalah kekasihku, milikku."



Ya Tuhan dia benar benar sudah gila. Apa yg harus ku lakukan sekarang? Batin Qila sembari menahan degub jantungnya yg berlebihan.

__ADS_1


"Sudah sore yuk kita pulang." Ucap Levin lagi lalu menarik tangan Qila untuk ikut bersamanya."


__ADS_2