
Karena ada sedikit tambahan pekerjaan dari Levin aku pun terpaksa lembur dan pulang jam 6 sore. Seperti biasa aku pulang pergi kantor menggunakan ojol. Karena selain mudah, tarifnya juga tak menguras kantong.
Beberapa menit menunggu akhirnya si pak ojol datang.
Sore ini bisa dibilang cukup lengah tak semacet biasanya, karena si pak ojol memilih untuk lewat jalan pintas yg lumayan sepi.
Ketika di tengah perjalanan, ku lihat mobil sedan hitam mewah bertengger dibawah pohon, setelah berada dalam jarak dekat dan kuamati ternyata keluar asap sedikit mengepul dibagian depan mobil.
Aku dan pak ojol yg sudah sangat penasaran memutuskan untuk berhenti dan mengecek apa mobil itu mengalami kecelakaan atau tidak.
Dan benar saja, mobil itu sudah nampak penyok dengan kaca depan yg hampir pecah keseluruhan.
Betapa terkejutnya aku ketika melihat dibalik kaca itu ada seorang bapak2 yg tengah terluka parah, darah dimana mana dan tidak sadarkan diri.
Dengan kondisi gemetar dan takut aku dan pak ojol segera membuka pintu mobil itu, mencoba menolong korban yg sepertinya sudah sangat kritis, lalu menghubungi ambulance rumah sakit terdekat.
****
Saat ini aku tengah berada dirumah sakit dimana korban kecelakaan tadi sedang ditangani. Entah mengapa rasanya ada yg sakit didadaku kala melihat kondisi bapak tadi yg begitu mengenaskan.
Semoga dia baik2 saja Tuhan..
Tak berselang lama, terdengar derap langkah kaki yg berlari menuju ke arahku.
__ADS_1
"Aqila.. Kok kamu bisa disini?". Tanya orang itu yg ternyata bosku sendiri Pak Abi.
"Saya sedang mengantar korban kecelakaan pak, tadi saya menemukan dia sudah tak sadarkan diri didalam mobil." Jelasku.
"Dia papa saya Qila, gimana kondisinya? Apa sangat parah?". Ucap Pak Abi yg sukses membuatku terkejut, tak ku sangka bapak tadi adalah orang tuanya.
Bisa ku lihat betapa khawatirnya bosku saat ini, matanya berkaca kaca dengan tubuh sedikit bergetar.
"Iya pak, beliau sedang ditangani sekarang. Mari kita doakan saja semoga beliau baik2 saja." Tuturku mencoba menenangkan.
Setengah jam kemudian ruang operasi itu terbuka, muncul seorang perawat yg nampak cemas dan membutuhkan sesuatu.
"Sus, gimana keadaan papa saya?". Tanya Abi khawatir.
"Tapi dalam keluarga kami tidak ada yg memiliki darah AB negatif seperti papa saya sus." Ucap Abi frustasi.
"Saya, saya AB negatif. Biar saya saja yg mendonor pak." Sahutku.
Ya aku adalah salah satu pemilik darah AB negatif yg cukup langka. Aku pun tak tega melihat kondisi Abi saat ini. Meskipun aku sangat takut dengan jarum suntik, kali ini aku ingin sekali bisa membantu.
"Baiklah mari ikut saya nona."
Aku pun mengikuti perawat itu ke ruang rawat untuk diperiksa dan jika cocok akan segera didonorkan. Tak butuh waktu lama, dan syukurlah ternyata aku memiliki syarat untuk bisa mendonor.
__ADS_1
Hwaa.. Ternyata sakit sekali.. Desisku menahan tangis kala jarum itu menyentuh permukaan kulitku.
"Sudah selesai nona, anda bisa membuka mata anda sekarang." Ucap perawat itu terlihat menahan tawanya. Pasti dia tengah menertawakan espresiku tadi saat darahku diambil. Pikirku.
Ketika aku keluar dari ruang rawat, didepan sudah ada Abi, Aldo, dan sorang wanita paruh baya yg tengah menangis terisak. Mereka menghampiriku segera setelah melihatku.
"Gimana Qila lancar? ada yg sakit? aku antar pulang aja ya? Maaf sudah merepotkanmu." Ucap Abi sambil memeriksa langsung keadaanku.
"Iya makasih ya nak sudah menolong suami saya, kalau tidak ada kamu, tidak tau lagi apa yg akan terjadi padanya."
"Iya Qila, makasih ya udah nolongin papa." Sahut Aldo.
"Tidak apa2, saya ikhlas menolong tuan. Selama saya bisa saya akan membantu mereka yg membutuhkan." Ujarku tersenyum manis pada mereka.
Di tengah perbincangan itu, tiba2 ruangan operasi terbuka lagi, kali ini muncul seorang dokter yg langsung datang menghampiri kami.
"Gimana keadaan papa saya dok?". Tanya Abi to the point.
"Syukurlah, tuan Reinand sudah melewati masa kritisnya. Kalian bisa menjenguknya nanti setelah ia dipindahkan ke ruang rawat." Ujar dokter itu.
"Ah syukurlah, terima kasih dok."
Keluarga itu nampak lega begitu mendengar kabar tuan Reinand baik2 saja. Aku yg sudah tidak memiliki kepentingan lagi segera berpamitan dan pulang ke rumah.
__ADS_1