
Abrisham pov
Sudah satu minggu ini aku menemaninya dirumah sakit. Gadis yg awalnya nampak menyedihkan itu kini sudah mulai bisa tersenyum, guratan takut diwajahnya pun perlahan menghilang. Ada kelegaan yg terlihat dalam senyum dan binar matanya.
Ya gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Nadine, gadis yatim piatu yg dikirim ke pusat prostitusi oleh paman dan bibinya sendiri. Sungguh aku tak menyangka mengapa ada saudara sebiadab itu, yg tega menyakiti keponakan perempuannya, bahkan menjualnya.
"Aku ada rapat penting setelah ini, apa kau tak masalah disini sendirian?". Tanyaku begitu melihatnya bangun.
Selama beberapa hari ini memang ia selalu mengeluh dan takut jika ditinggal sendiri, karena itu aku memutuskan untuk menemaninya sampai hari ini, selain merasa harus bertanggung jawab, aku juga merasa iba dengan kondisinya.
"Tidak apa kak, pergilah. Maaf aku sudah merepotkanmu selama seminggu ini, dan terima kasih sudah menjagaku." Jawabnya lembut.
"Hmm.. Baiklah, setelah pekerjaanku selesai aku akan mengunjungimu lagi. Jaga dirimu ya, pakai ponsel ini, kalau ada apa apa kau bisa menghubungiku." Kataku sambil memberinya ponselku yg lain.
"Iya kak, terima kasih. Kakak juga hati hati." Ucapnya lalu melambaikan tangannya dan tersenyum ke arahku.
****
__ADS_1
Aku pun segera melajukan mobilku kembali ke perusahaan, tak butuh waktu lama. Hanya 30 menit gedung perusahaanku sudah terlihat, para karyawanku juga sudah nampak berlalu lalang.
"Selamat pagi pak." Sapa seorang security yg melihatku turun dari mobil.
"Pagi, tolong parkirkan mobilku, aku masuk dulu." Ucapku seraya menyerahkan kunci mobilku padanya.
Begitu aku masuk para karyawan yg melihatku langsung menyapa dengan hormat, dan seperti biasa aku hanya menanggapi mereka dengan menganggukan kepalaku, bukannya angkuh atau sombong, tapi seorang direktur sepertiku memang harus bisa menunjukkan sikap wibawaku.
"Selamat pagi pak." Sapa sekertaris dan asistenku kompak.
"Saya sudah menemukannya pak, yg berusaha mencelakai anda adalah Vano Sanjaya, pemilik Sanjaya corp yg beberapa bulan lalu kalah tender dengan kita. Setelah saya sedikit menyiksa wanita itu kemarin, dia akhirnya membocorkan informasinya, dan apa yg dia katakan sebelumnya soal pelaku yg melarikan diri itu palsu."
"Apa sudah ada bukti?".
"Sudah pak, ini rekaman suara wanita itu dan Vano. Saya menyuruhnya pergi ke tempat Vano kemarin dan berhasil membuatnya mengaku. Selain itu saya juga menemukan fakta lain, Sanjaya grup selama ini ternyata selalu bisa menghindari pajak, mereka memalsukan laporan keuangannya, juga menggelapkan dana para investornya tanpa ada yg curiga."
"Baiklah, urus sisanya. Tuntut dia atas percobaan pembunuhan. Dan untuk masalah pajak dan penggelapan dana, berikan buktinya pada pihak berwajib secara anonim. Biarkan dia hancur dengan sendirinya."
__ADS_1
"Siap pak, kalau begitu saya permisi dulu."
****
Kembali lagi pada pekerjaan ya, seperti yg kukatakan pada Nadine tadi pagi. Kini aku sudah berada diruang meeting bersama beberapa staf penting perusahaanku.
Hari ini aku sengaja mengumpulkan mereka karena beberapa bulan lagi kita akan membuka 10 cabang baru sekaligus di beberapa daerah, dan 2 diluar negeri. Sungguh pencapaian yg luar biasa menurutku.
Para staf dan aku pun amat antusias dengan hal ini, mereka berlomba lomba memberikan ide terbaiknya untuk acara pembukaan nanti. Dan disana beberapa baris didepanku, juga nampak seseorang yg ku kenal.
Ya dia Aqila, sudah hampir satu minggu ini aku sama sekali tak melihatnya. Dia terlihat semakin manis saat sedang serius seperti sekarang ini.
Ah.. Apa yg ku pikirkan, sekarang fokus, fokus Sam!!.
"Bagaimana pendapat anda pak?". Tegur Bram yg menyadari lamunanku.
"Ehem.. emm pendapat kalian sejauh ini sudah cukup baik. Untuk sisanya saya serahkan pada Bram, diskusikan dengannya. Saya masih ada pekerjaan lain, terima kasih."
__ADS_1