
tokk tokk tokk..
Ku ketuk pelan pintu rumahku
Ceklek...
"Anak ayah baru pulang.."
Sapa ayah sambil menggiringku masuk ke dalam rumah.
"Iya ayah Ai tadi keluar kota sama Pak Rei ngambil bibit sama pesen pupuk, lumayan jauh sih, Ai mandi dulu ya yah terus mau langsung istirahat, capek." Pamitku pada ayah sembari berjalan ke kamarku.
"Makan dulu nak, ayah udah masak tadi, setelah itu baru istirahat." kata ayah menahanku sebelum aku sampai di kamar.
"Ai tadi udah makan yah, ntar aja ya Ai makannya masih kenyang." jawabku halus pada ayah yg diangguki oleh ayah.
Sungguh lelahnya hari ini, ku rebahkan sejenak tubuhku yg rasanya hampir remuk karena perjalanan yg lumayan panjang tadi.
Terlintas sedikit dikepalaku kejadian tadi siang, masih saja aku memimpikan kejadian itu, kejadian yg hampir merenggut masa depanku, kejadian yg sangat sangat ingin aku lupakan, parahnya lagi aku memimpikannya saat tertidur dimobil Reinand, aku bahkan reflek memeluknya, menangis dalam dekapannya
Aduh apa yg akan dipikirkannya nanti tentang aku?
Ahh... menyebalkan..
Aku sungguh ingin melupakannya Tuhan...
__ADS_1
Jeritku dalam hati seraya meredam tangisku dibawah selimut, berharap ayah tidak mendengarnya, aku tak mau ayah khawatir lagi denganku.
flashback on
Auuhh..
Kenapa sakit sekali kepalaku, ku buka paksa mataku perlahan dengan sakit kepala yg begitu tak tertahan. Aku ingat tadi siang aku dijemput Vandy untuk makan di restoran, namun setelah itu gelap, aku tidak ingat apaupun lagi.
Ku edarkan pandanganku menjelajahi tempat yg kini ku berada, asing, ya itu kata pertama yg ku tahu.
Aku dimana? pikirku mencoba mengingat ingat kembali apa yg terjadi.
Ceklek...
Pandanganku beralih pada seseorang dibalik pintu
"Udah bangun sayang.." Ujarnya pelan sambil melangkah mendekatiku.
"Van, ini apa? Maksud kamu apa bawa aku kesini, ini dimana??". Tanyaku pada Vandy yg kini tengah duduk disampingku sambil memainkan ujung rambutku.
"Satu satu dong sayang tanyanya, nggak usah panik gitu! kita akan bersenang senang malam ini". Jawabnya seraya mengelus pipiku lembut, namun tatapannya sungguh membuatku takut.
"Kamu mau apa?" Tanyaku lagi mencoba mundur menjauhinya dan sialnya belakangku sudah tembok sungguh aku terjebak.
"Sini sayang jangan takut! kamu bilang kamu sayang padaku, mencintaiku, akan melakukan apapun yg aku mau?." Ucapnya tersenyum miring dan semakin memojokkanku.
__ADS_1
"Stop Van!!! Ku bilang stop!!!." Seruku mencoba menghentikannya.
"Sudah main mainnya Airy, selama ini aku sudah cukup bersabar denganmu, tidak menyentuhmu sama sekali, bahkan menciummu kamu tak mengijinkan. Jadi mau tidak mau malam ini kamu akan jadi milikku, aku mau dirimu."
Tanpa bisa ku mengelak Vandi mencium kasar bibirku, makin lama makin kasar dengan tangannya yg mulai akan melepaskan pakaianku. Aku memberontak terus mencoba melepaskan diri dari ******** ini, sungguh aku takut, siapapun tolong aku.
Hiks..Hiks..
Dia semakin menggila menciumiku, tangan kanannya menggenggam kedua tanganku kuat diatas kepalaku, sedangkan tangan kirinya mencoba masuk ke dalam diriku dan melucutiku.
Tuhan.. ku mohon tolong aku.. tolong..
Jeritku dalam hati seraya berpikir bagaimana caranya aku biasa lepas dari ******** ini.
Sejenak aku mencoba pasrah dengan perbuatannya ini berharap agar ia dapat melepaskan genggamannya pada tanganku.
Tak berselang lama
Yap.. dia melepaskannya, ini kesempatanku. ku coba mencari cari sesuatu di sekitarku, yg ketumukan hanya lampu tidur kecil. Dan tanganku yg lain masih mencoba mendorongnya agar berhenti mencumbuku, Tanpa berpikir lagi ku arahkan lampu itu pada kepala Vandy berkali kali, setelah ku rasa ia tak sadarkan diri bahkan banyak darah yg keluar dari pelipisnya, aku menjauh darinya, ah sudahlah aku tak peduli lagi, terserahlah dia nanti akan ada yg menolong atau tidak, yg penting sekarang adalah lari sejauh jauhnya dari tempat mengerikan ini.
hah..hah..hah..
Ku atur lagi nafasku yg terengah engah masih dengan tubuhku yg sedikit bergetar takut Vandy akan mengejarku.
Ku dekap tubuhku yg sudah kacau ini, berhenti didepan mini market dan berusaha memperbaiki penampilanku agar nanti ayah tidak khawatir saat aku pulang.
__ADS_1
Ya Tuhan.. terima kasih kau telah menyelamatkan aku, sungguh aku bersyukur bisa lari dari tempat itu, aku sangat takut, aku pun tidak menyangka Vandy yg ku kira begitu tulus dan menyayangiku bisa tega melakukan ini. Aku sudah tak peduli lagi, bahkan aku harap pria itu tidak akan ada yg menolong.
Flashback off