
Dikantin,
Kami bertiga memilih tempat duduk dipojokan, selain tidak terlalu ramai, tempatnya juga strategis, dekat dengan jendela juga pendingin ruangan.
"Rena sayang mau pesan apa? Biar aku yg pesan." Ucap Aldo berusaha menarik perhatian Rena.
"Stop panggil aku sayang, aku bukan sayangmu." Jawab Rena kesal.
"Sekarang memang bukan, kedepannya kan kita nggak tau." Kata Aldo.
"Mimpi aja sono!!"
Mereka berdua selalu saja begitu setiap kali bertemu, namun terlihat lucu dan bisa menjadi hiburan tersendiri buatku.
"Sudah sudah.. Lebih baik aku yg pesan. Kalian mau makan apa?". Sahutku melerai mereka.
"Aku nasi goreng kak, minumnya es teh aja." Ujar Aldo.
"Aku bakso ya Qi, sama es jeruk." Sahut Rena.
__ADS_1
"Oke, tunggu ya"
Setelah mengingat apa yg akan ku pesan, aku segera pergi ke salah satu counter makanan yg ada dikantin perusahaanku. Ya untungnya tidak terlalu ramai, jadi aku tidak perlu mengantri dan bergegas kembali ke mejaku.
****
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul satu siang, itu artinya waktu istirahat sudah habis, dan saatnya kembali keruangan masing masing untuk melanjutkan pekerjaan.
Baru saja masuk ke ruangan divisiku, aku sudah melihat Levin yg duduk dimejaku dengan memasang ekspresi yg nampak kesal.
"Ikut ke ruanganku." Ucapnya dingin lalu berjalan ke ruangannya tanpa menunggu jawabanku. Aku pun pasrah, dan mengikutinya masuk lalu menutup pintunya dari dalam.
"Ada apa pak?" Tanyaku begitu kami berdua sudah berada didalam.
"Dari mana?". Tanyanya sambil menatapku tajam.
"A aku tadi makan dikantin bareng Rena sama Aldo." Jawabku sedikit gugup. Sebenarnya apa salahku, dia kini terlihat sangat kesal, bahkan berbicara dingin padaku.
"Kenapa tidak minta ijinku?". Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Kau bilang tadi kan sedang ada pekerjaan mendesak, jadi aku takut akan mengganggu pekerjaanmu." Kataku mencari alasan.
"Baiklah, kali ini ku maafkan. Tapi lain kali mau pergi kemana pun harus ijin dulu padaku, mengerti??". Ucapnya dengan nada tak ingin dibantah.
"Stop Vin, aku nggak suka kamu terlalu posesif begini. Aku juga punya teman, aku ingin pergi bersama mereka." Tuturku malas.
Ini lah yg tidak aku suka darinya, sering kali sifat posesifnya ini kambuh, membuatku kesal dan ingin sekali menghajarnya.
"Ingat Qi, kau kekasihku. Jadi sudah seharusnya kau menuruti semua mauku. Aku hanya khawatir padamu, karena itu aku memintamu untuk selalu ijin kemana pun kau pergi." Ujar Levin memegang kedua pundakku cukup erat.
Aku hanya diam, berdebat dengannya memang tidak akan ada habisnya. Selalu dan selalu dia yg akan menang.
"Hmm.. Aku harap kamu mengerti by, aku seperti ini karena aku sayang padamu. Maafkan aku jika aku sudah keterlaluan."
Tatapan Levin kini berubah sendu, lalu menarikku tiba tiba ke dalam pelukannya. Mendekapku erat sambil mengusap lembut kepalaku.
"Aku mencintamu Qi, sangat mencintaimu." Ucapnya lagi yg kini semakin mengeratkan pelukannya.
Bisa ku rasakan detak jantung Levin terasa lebih cepat dan tidak normal. Dekapannya hangat, usapannya lembut, membuatku nyaman berlama lama disana.
__ADS_1
Apa dia benar benar mencintaiku seperti yg dia katakan? Lalu bagaimana denganku? Apa aku juga mencintainya? Apa aku bisa membalas perasaannya itu?
Cukup lama kami berdua berada diposisi intim itu, hingga suara ketukan pintu menyadarkan kami, membuat kami segera menjauh dan berusaha bersikap formal kembali.