Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 42


__ADS_3

Aduh.. sudah hampir jam 8, mana macet banget lagi.


Karena merasa sudah tidak sabar aku memutuskan untuk keluar dari taksi, dan berlari di sepanjang trotoar. Untung saja gedung RHD sudah nampak jelas dimataku. Tinggal 10 menit sebelum jam kerjaku dimulai. Aku berlari dengan kencang sambil menjinjing sepatu higheelsku. Aku tak peduli lagi dengan penampilan maupun tatapan orang2. Yg jelas aku sudah harus sampai didalam kantorku sebelum jam 8.


Hah..Hahh...


Ku hela nafasku yg sudah tak beraturan lalu kembali berlari. Karena terburu2 aku tak melihat jalanku dan menabrak seseorang didepan pintu perusahaan.


Oh shit.. Cobaan macam apa lagi ini.


"Kau..!!!"


Ah..Dia pasti marah..


Dengan perasaan gugup dan takut, ku beranikan diri mengangkat kepalaku dan menetap orang itu.



Wahh.. Apa dia malaikat??


Oh tidak.. Di situasi genting seperti ini bisa2nya aku terpesona.


"Apa kau tak punya mata hah??" Teriaknya padaku.


Sial.. Dia benar2 marah.


"Ma..Maafkan aku tuan, sungguh aku tidak sengaja, aku terburu2." Ucapku gugup lalu menurunkan pandanganku.

__ADS_1


Tatapannya tajam dan dingin, aku takut menatap mata itu.


Saat rasa ketakutanku sudah diujung tanduk tiba2 ada seseorang yg menepuk pundakku dari belakang.


"Qila.. Kamu baru datang?". Sapanya.


"Ah ya pak Levin, maaf saya terlambat. Saya janji ini yg terakhir kali." Jawabku sedikit gemetar sambil menatap atasanku itu.


"Jadi dia bawahanmu?". Sahut pria yg ku tabrak tadi.


"Iya pak, dia wakil saya yg baru." Jawab Levin.


"Sebaiknya kamu urus baik2!! saya nggak suka karyawan saya tidak disiplin." Ujar pria itu angkuh lalu melenggang pergi diikuti beberapa pria lagi dibelakangnya.


Ya sepertinya dia salah satu orang penting diperusahaan ini.


"Tidak apa, ayo kita masuk. Kita akan banyak pekerjaan hari ini." Ucap Levin sembari mengajakku kembali keruangan.


****


Huft.. Hari ini benar2 penuh kesialan, datang terlambat, dimarahi orang, banyak pekerjaan menumpuk pula. Padahal kan hari ini baru hari keduaku bekerja.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, semua karyawan satu divisiku sudah bersiap untuk istirahat dan makan siang. Sementara aku masih berkutat dengan beberapa berkas yg harus ku selesaikan. Karena jika ku tinggal bisa2 aku akan pulang lebih malam dari biasanya.


"Hai qila.." Sapa Rena yg tiba2 masuk ke ruanganku.


"Ah ya.. Ada apa?"

__ADS_1


"Tidakkah kau lapar? ke kantin yuk." Ajak Rena sambil memegang lenganku.


"Maaf aku masih banyak pekerjaan Ren, kalau ini ku tinggal, bisa2 nanti aku lembur." Tuturku padanya.


"Sudah tidak apa, kamu istirhat dulu. Kalau kamu sakit yg ada nanti pekerjaanmu terbengkalai." Sahut Levin yg sudah ada dibelakangku.


"Nah betul itu. Yuk ke kantin." Ucap Rena antusias lalu menarikku pergi begitu saja.


****


Sesampainya di kantin kami kebingungan mencari tempat duduk, pasalnya hari ini kantin sangat penuh dan tidak ada meja yg nampak kosong satu pun.


Saat kami hendak berbalik dan pergi, tiba2 ada seseorang yg memanggil namaku.


"Qila.." Panggilnya sedikit berteriak.


Mendengar namaku dipanggil, sontak ku edarkan pandanganku mencari asal suara itu.


"Kak Naufal.." Ucapku setelah menemukannya.


Dia melambaikan tangan padaku dan memintaku datang ke mejanya.


Ya, dia adalah salah satu rekan kerja satu divisi denganku. Dia baik, supel dan mudah bergaul.


"Kalian mau makan kan? Duduk aja disini." Ucap Naufal sambil menepuk kursi disampingnya. Kebetulan disana ada 4 kursi, dan 2 diantaranya sudah diduduki oleh Naufal dan temannya.


"Ah..Baiklah, terima kasih kak." Ujar Rena antusias dan langsung menduduki kursi itu tanpa mendengar jawabanku.

__ADS_1


Akhirnya kami berdua pun ikut duduk dan makan berempat dengan mereka. Sambil sesekali bercanda dan menceritakan keseharian kami masing2.


__ADS_2