Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 7


__ADS_3

Airy pov


Kicauan burung yg merdu mengawali pagiku yg cerah hari ini, sayup sayup ku dengar dentingan peralatan masakku dari dapur, aku pun segera beranjak dari kamarku menuju sumber suara.


"Ayah..


kenapa ayah memasak?"


"Pagi nak, kemarilah.. hari ini ayah sengaja memasak untukmu biar kamu semangat kerjanya, ayah juga udah siapin bekal buat kamu, kamu mandi gih terus sarapan, ayah tunggu."


Ku peluk perlahan tubuhnya yg makin keriput dan rentah menyalurkan rasa sayang dan bersyukurku memiliki ayah sepertinya.


"Baiklah ayah."


Setelah mempelajari semalaman berkas dan peraturan kerja dari Pak Reinand, disinilah aku di kebun milik Bu Rahma, ku edarkan pandanganku sembari menikmati sejuknya pagi ini.


"Pagi gadis cuek.."


Terdengar seseorang memanggilku, ya dapat dipastikan dia adalah bosku Pak Reinand.


"Pagi bos.." balasku dengan senyuman yg sedikit ku paksakan.


"Ayo ikut saya hari ini kita akan ke kota B mengambil bibit jagung dan buah yg akan kita tanam minggu depan, saya akan turun tangan memeriksa dan mengambilnya sendiri karena takut nantinya ada masalah."


Belum sempat ku menjawab.


"Ah iya sebelum itu kamu ke gudang dulu lihat persediaan pupuk yg biasa kita pakai." sambungnya lagi.

__ADS_1


"Siap bosku.."


Reinand pov


Hari ini aku dan si cuek berencana ke kota B untuk mengambil bibit yg telah ku pesan 2 hari yg lalu, sebenarnya tidak harus aku mengambilnya sendiri karena pihak sana akan sangat bersedia mengirimnya kemari, namun aku menolak, ya anggap saja sekalian berjalan jalan menikmati hari yg cerah bersama si cuek ini.


Perjalanan kami cukup panjang, menempuh waktu 3 jam, ku lirikkan mataku sedikit pada gadis cuek yg tengah tertidur disampingku mengemudi, dia sungguh manis disaat seperti ini.


Ah.. apa yg ku pikirkan..


Ku pandangi lagi jalanan di depanku, saat ingin meliriknya kembali ku lihat wajahnya yg sedikit aneh, sepertinya dia mimpi buruk, keringat dingin memenuhi wajahnya.


"Jangan...


"Jangan...


hiks..hiksss...


"Pergi kamu... Jangan!! Ku mohon.."


Begitulah racaunya saat ini, ku tepikan sejenak mobilku memeriksa keadaanya.


Ku tepuk pelan tangan dan pipinya berharap ia akan sadar.


"Ai..


"Ai.. bangun! kamu kenapa?"

__ADS_1


Dia masih saja tak membuka matanya, aku bingung, sungguh aku khawatir padanya. Ku usap lembut pipi dan tangannya lagi.


"Ai.. bangun!!


"Pergi kamu.. ku bilang pergi!!". Racaunya lagi masih enggan membuka matanya.


"Ini aku Reinand Ai." Betapa terkejutnya aku ia bangun dan memelukku erat, terlihat ada rasa ketakutan dan sedih di wajahnya.


"Hiks..Hikss..Hikss.."


"Sudah sudah ini aku Reinand kamu nggak usah takut, dia udah pergi." Ucapku padanya seraya mengelus puncak kepalanya mencoba menenangkan.


Apa yg telah terjadi pada gadis ini, selama ini dia terlihat tegar dan kuat, mengapa bisa bermimpi sampai ketakutan seperti ini, apa dia memiliki trauma buruk di masa lalu.


Ku rasakan tubuhnya perlahan menjauhiku


"Maaf pak Rei, sungguh saya minta maaf, saya mimpi buruk".


"Iya nggak apa.. memang kamu mimpi apa sampai teriak nangis kayak gitu." Balasku padanya, dan masih bisa ku lihat ada sedikit rasa takut dan cemas di mata sembabnya.


"Tidak pak tidak apa, hanya mimpi buruk saja, masih jauh kah pak dari tujuan kita?".


Dia mencoba mengalihkan pertanyaanku, pasti ada yg disembunyikan dia, tapi gimana pun aku nggak berhak memaksa dia untuk bercerita, biar waktu saja yg menjawabnya.


"Sebentar lagi kita sampai, kamu perbaiki saja dulu penampilanmu! lihat kamu begitu jelek dan berantakan, saya nggak mau malu nanti depan partner saya." Perintahku padanya yg ia jawab hanya dengan anggukan sambil mengerucutkan bibirnya.


Hmmm lama lama gemesin juga ni orang..

__ADS_1


Kataku lagi dalam hati sambil melihat kondisinya, lalu ku lanjutkan kembali perjalanan kami, ya hanya hening yg ku rasa, dia diam aku pun diam kembali fokus pada setirku.


__ADS_2