Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 74


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang hanya deru mesin mobil yg terdengar nyaring memenuhi telinga kami. Abrisham masih terlihat fokus dibalik kemudinya, sedangkan aku memilih untuk melihat pemandangan malam dari kaca mobil disampingku.


Ah ingin sekali aku memecahkan keheningan yg mencekam ini, aku merasa gugup untuk memulai, namun juga canggung untuk terus diam dan tenggelam dalam pikiran kami masing masing.


"Aku dengar kau dan Levin berpacaran ya?". Tanya Abrisham mengejutkanku, sontak membuatku menoleh ke arahnya dan menatapnya.


"Em.. Bisa dibilang seperti itu." Jawabku sekenanya.


"Apa kau mencintainya?". Tanyanya lagi. Aku tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan ini, karena selama ini Levin sekalipun tidak pernah menanyakannya.


"Entahlah, ini sedikit rumit." Jawabku asal.


"Jika kau tidak mencintainya maka aku masih ada kesempatan untuk merebutmu." Ujarnya kemudian.


"Eh..."


"Tapi jika kalian memang saling mencintai, aku akan mundur dan merelakanmu." Tuturnya lagi.


Aku sama sekali tidak bisa berpikir sekarang, lidahku terasa keluh untuk menjawab setiap perkataan Abrisham yg mengejutkanku. Aku tidak mengerti, juga takut untuk mencoba mengerti.


"Sepertinya kau sendiri masih bingung dengan arah hatimu. Jadi aku pun masih ada kesempatan, aku juga akan menunggu keputusanmu, akan memilih dia atau aku pada akhirnya.

__ADS_1


Tidak.. Ini tidak benar. Disaat aku mencoba menerima Levin, mengapa Abrisham malah berusaha membuatku goyah. Apa yg harus ku lakukan?.


Hufft.. Syukurlah. Tuhan masih menyelamatkanku.


"Ah.. Ternyata kita sudah sampai. Terima kasih bapak sudah mau mengantarku. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamitku bergegas melepas safebeltku.


"Tunggu".



"Aku harap kau bisa memikirkan lagi perkataanku, aku akan menunggu."


Deg.. Situasi macam apa ini? Oh Tuhan apa yg harus aku lakukan sekarang?.


"I iya.. Ba bapak hati hati dijalan."


Setelah mobil Abrisham sudah tak terlihat lagi, aku pun bergegas masuk ke rumahku. Rasanya ingin sekali cepat cepat merebahkan tubuhku dan tertidur. Para laki laki itu hanya bisa membuatku pusing saja. Semakin membuatku bingung dan merasa bimbang.


****


Mentari pagi bersinar redup dipagi ini, awan awan pun nampak gelap, sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan.

__ADS_1


Beruntung ada Levin yg masih setia menjemputku, jadi aku tidak perlu lagi takut kehujanan karena harus menaiki ojek motor.


Namun aku merasa ada yg sedikit berbeda pagi ini, Levin hanya diam, tidak banyak bicara, bahkan tidak menyambutku dengan sapaan hangat yg biasa ia lakukan.


Tak berselang lama, kami pun sampai di perusahaan tempat kami bekerja. Dan tetap saja Levin hanya diam, ia meninggalkanku dan masuk terlebih dulu, sangat acuh dan tak menghiraukan keberadaanku.


Tiba tiba saja aku merasa aneh, rasanya sedih diacuhkan olehnya. Tatapan lembutnya yg biasa dalam semalam berubah menjadi dingin.


Apa aku melakukan kesalahan, pikirku.


Karena sudah jam masuk kantor, aku memilih mengabaikannya untuk sementara, setelah pulang nanti aku berencana mengajaknya makan malam, dan menanyakan apa yg terjadi hingga membuat dia seperti itu.


"Qi, kamu sibuk nggak?". Ucap seseorang mengagetkanku, membuatku sontak menoleh ke arahnya.


"Eh Nad ada apa?". Tanyaku kemudian.


"Mau minta tolong, aku kurang mengerti sama bagian ini, mau tanya yg lain tapi takut ganggu mereka." Tuturnya sambil memperlihatkan letak kesulitan dalam berkas yg tengah ia kerjakan.


"Oh.. Ini tinggal ditambahin ini sama ini, terus jangan lupa dihalaman terakhir dikasih ini biar lebih bagus." Tuturku menjelaskan.


"Emm yaya aku paham sekarang. Makasih ya, aku balik kerja dulu." Pamit Nadine lalu kembali ke mejanya.

__ADS_1


"Oke, nanti istirahat bareng ya.." Ucapku sedikit berteriak yg dijawab anggukan kepala olehnya.


__ADS_2