Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 78


__ADS_3

Abrisham pov


Sudah hampir satu minggu aku di luar kota, beberapa hari yg lalu ada sedikit masalah dikantor cabang perusahaanku, dan dengan terpaksa aku pun turun tangan dan pergi kesana seorang diri, karena asisten dan sekertarisku harus menghandel kantor pusat yg ada disini.


Dalam beberapa hari itu aku tidak bisa melihatnya, bertemu dengannya, bahkan tak sempat menelponnya karena kesibukanku. Aku merasa sudah sangat merindukannya, meski dikantor kita juga jarang bertemu, namun selama ini aku selalu mengawasinya lewat cctv yg langsung terhubung dengan laptopku. Sedikit aneh memang, tapi aku menyukai hal itu.


Aqila, entah mengapa aku sangat menyukai nama itu, dan entah sejak kapan aku mulai memikirkannya. Ingin sekali rasanya bisa dekat dan bersamanya setiap saat. Namun ada saja hal yg mencegahku melakukannya.


Sore ini aku tiba di kotaku, bukannya pulang ke rumah, aku justru tanpa sadar mengarahkan mobilku ke rumah Qila. Haha.. Nampaknya aku sudah gila dibuatnya.


Baru saja aku akan keluar dari mobilku, langkahku terhenti, mataku tiba tiba saja menangkap keramaian yg sedang terjadi dirumah minimalis itu.


Karena penasaran, aku mencoba bertanya pada tetangga Qila yg kebetulan sedang lewat.


"Permisi bu, kalau boleh tau ada acara apa ya dirumah itu?". Tanyaku sambil menunjuk rumah Qila.


"Oh itu, nak Qila besok mau menikah. Apa aden ini temannya?". Jawab si ibu.


Bagai tersambar petir, hal yg selama ini ku takutkan benar benar terjadi. Baru saja seminggu aku tidak berada disini, tak ku sangka sudah ada berita yg sangat mengejutkan juga menyakitkan ini.

__ADS_1


Apa dia sungguh mencintai pria itu? Apa aku sama sekali tak ada artinya bagi dia?


"Den.. Aden nggak papa?". Tanya si ibu yg menyadari perubahan ekspresiku.


"Ah i iya nggak papa bu, kalau begitu saya permisi dulu."


Tanpa babibu lagi aku segera menancap gas mobilku dan pulang ke rumah. Hatiku terasa amat sesak, sangat sakit. Mengapa sekalinya jatuh cinta harus berakhir pilu seperti ini? Mengapa?


Aku tak mampu lagi menahannya, air mataku luruh begitu saja. Beruntungnya saat ini orang tuaku dan adikku sedang tidak dirumah. Jadi aku bisa melampiaskan segala rasa sakitku tanpa ada yg mengganggu.


Baiklah jika itu keputusanmu, aku harap kau selalu bahagia Qi, berbahagialah dengan pilihanmu. Aku akan mencoba ikhlas dan melupakanmu.


Malam itu berlalu begitu saja, dan ya aku sama sekali tidak tidur, sedikit kepingan kenangan tentang dirinya terus berputar di kepalaku.


Andai saja saat itu aku lebih cepat menyadarinya, mungkin masih ada kesempatan. Mungkin aku masih bisa membuat dirinya menatap ke arahku.


Tokk..tokk..tokk


Suara ketukan pintu memaksaku beranjak dan merapikan penampilanku, aku tidak mau terlihat sedih dan terpuruk didepan keluargaku, terutama mama. Aku harus menjadi pria kuat dan tegar dihadapannya.

__ADS_1


"Ya ma.." Sahutku lalu segera membuka pintu.


"Ayo turun sarapan, papa sama adikmu sudah menunggu dibawah." Titah mama sambil mengajakku pergi ke meja makan.


Aku menurut, langsung ikut turun bersamanya tanpa berkata apapun.


"Pagi pa, pagi Al." Sapaku berusaha tersenyum pada papa dan adikku.


"Pagi Sam."


"Pagi kak, ada yg lagi patah hati nih?". Jawab adikku usil.


Aku tak bisa menyembunyikan apapun darinya, ku pikir dia tidak tau tentang perasaanku pada Qila. Tapi nyatanya justru dia yg lebih dulu menyadarinya daripada aku.


"Sssttt!! Cepat makan jangan cerewet." Tuturku mencoba mengalihkan.


"Oh iya nak, kau masih ingat dengan paman Bima? Hari ini putranya akan menikah, nanti malam kita akan pergi ke pestanya sama sama." Sahut papa.


"Wah.. Akhirnya bisa cuci mata." Sambung adikku antusias.

__ADS_1


Baiklah pa." Jawabku pasrah.


__ADS_2