
Hari hari berlalu begitu saja, rutinitas disetiap harinya pun masih sama. Pagi bekerja, sore pulang, malam tidur, esoknya kerja lagi. Monoton dan selalu seperti itu.
"Bunda, ayah, Qila berangkat dulu ya." Pamitku setelah menyelesaikan sarapanku.
"Iya nak hati hati." Jawab bundaku.
"Iya hati hati." Sahut ayah.
Seperti biasa aku akan berangkat bersama Levin, ku lihat mobilnya sudah terparkir di depan pagar rumahku. Dia masih saja tampan seperti biasanya, dengan pakaian formal dan sejuta pesonanya mampu membuatku sedikit menatapnya lama.
"Pagi By.." Sapanya sambil tersenyum manis ke arahku.
"Pagi Vin.". Jawabku sekenanya.
"Berangkat yuk."
Ucapnya lalu membukakan pintu disamping kemudi. Dia benar benar memperlakukanku seperti seorang putri. Tapi entah mengapa perasaanku belum sepenuhnya ada untuknya.
Tak butuh waktu lama, hanya dalam 30 menit mobil yg membawa kami sudah sampai di parkiran perusahaan.
Kami berdua masuk dengan Levin yg menggandeng tanganku, ya hal itu kini sudah membuatku terbiasa. Levin mengatakan aku tak perlu mendengarkan ocehan orang lain tentang kami, selama mereka tidak mengganggu secara fisik, maka lebih baik kita berpura pura tidak mendengarnya dan jangan pedulikan.
__ADS_1
Begitu sampai di ruanganku aku segera duduk dan menyalakan komputer. Baru saja aku memulai, tiba tiba ada deheman seseorang yg mengagetkanku. Sontak membuatku berdiri dan mencari asal suara. Dan ternyata dia adalah Abrisham yg tak lain bos perusahaan.
Aku dan beberapa rekan kerjaku segera berdiri dan menyapanya hormat, yg dijawab hanya dengan anggukan kepala olehnya.
"Ah selamat pagi pak, ada yg bisa dibantu?". Sapa Levin yg baru saja keluar dari ruangannya.
"Kenalkan dia Nadine, mulai hari ini dia akan bergabung di divisi kalian, taruh dia di tim desainmu." Ucap Abrisham sambil mengenalkan seorang wanita muda yg ternyata berdiri dibelakangnya sedari tadi.
"Baik pak, akan segera saya siapkan." Jawab Levin.
"Kalau begitu saya tinggal dulu, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik." Tutur Abrisham lalu bergegas keluar dari ruangan kami.
"Qi, tolong antar dia ke mejanya ya. Aku masih ada pekerjaan yg tidak bisa ditunda." Ucap Levin menyerahkan Nadine padaku lalu kembali masuk ke ruangannya.
"Hai, aku Aqila. Namamu Nadine kan?". Tanyaku yg berusaha membuatnya santai.
"Ah ya, saya Nadine. Mohon bantuannya nona Qila." Jawabnya tersenyum ramah.
"Jangan terlalu formal, panggil aku Qila saja. Sepertinya kita seumuran." Kataku.
"Baiklah, ayo aku antar ke mejamu. Jika kau butuh sesuatu kau bisa tanya padaku, jangan sungkan."
__ADS_1
Aku pun segera membawa Nadine ke mejanya, dan meminta rekanku yg lain untuk menjelaskan tugas tugas yg akan dikerjakan Nadine.
"Baiklah Nad, aku tinggal dulu ya. Semangat kerjanya." Pamitku kemudian.
****
Jam makan siang pun tiba, satu persatu rekanku sudah mulai meninggalkan ruangan untuk beristirahat sejenak. Sama halnya denganku, siang ini aku sudah berjanji akan menemani Rena makan siang dikantin. Jadi aku segera bergegas keluar ruangan untuk menghampiri Rena diruangannya.
Belum sempat aku masuk, Rena sudah keluar terlebih dulu bersama Aldo yg saat ini masih magang di divisi Rena.
"Hai kak.. " Sapa Aldo dengan senyum ceria khasnya.
"Hai Al, apa kau akan ikut dengan kami?". Tanyaku.
"Nggak, nggak boleh." Sahut Rena ketus.
"Kak.. Boleh ya.." Rengek Aldo sambil menatapku.
"Baiklah, kau bisa ikut." Kataku yg kemudian mendapat tatapan tajam dari Rena.
Ya memang selama ini Aldo selalu mengejar Rena, berusaha keras untuk mendekatinya namun tetap saja diacuhkan.
__ADS_1