Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 76


__ADS_3

Setelah acara melamar Levin yg dadakan itu, dia menghilang. Tidak mengabariku, juga menjemputku seperti biasa. Dan yg lebih mengejutkan, hari ini ada seorang menejer baru didivisku, itu artinya Levin sudah tidak lagi bekerja disini.


Aku semakin bingung, sebenarnya apa yg telah ia rencanakan, apa dia melakukan hal fatal sehingga dikeluarkan dari perusahaan? Ataukan memang dia sudah mengundurkan diri sebelumnya, pasalnya hari ini sudah langsung ada yg menggantikan posisinya.


Hah.. Sudahlah, lebih baik aku bekerja. Semoga saja ancamannya kemarin hanya sekedar bercanda. Harapku.


Berbeda dengan Levin, menejer baru itu nampak lebih tegas dan tidak suka basa basi. Ia hanya akan berbicara disaat penting saja, dan terlihat angkuh pada kami bawahannya.


Setelah melewati hari yg cukup panjang, dan melelahkan. Akhirnya jam pulang pun tiba.


Ku renggangkan sejenak tubuhku, membereksan meja kerjaku lalu bergegas untuk pulang.


Hari ini aku berangkat dan pulang dengan ojek online seperti dulu, bagaimana pun juga aku tidak boleh terlena dengan kemewahan yg sering Levin berikan, harus bisa mandiri, tidak merepotkan, dan tidak bergantung pada siapapun.


"Qila pulang.." Ucapku sedikit berteriak begitu memasuki rumah.


Namun langkahku harus tertahan, aku terkejut melihat Levin dan orang tuanya yg tiba tiba sudah ada dirumahku. Mereka tengah asik berbincang dengan kedua orang tuaku di ruang keluarga dengan beberapa makanan ringan di atas meja.


"Kau sudah pulang nak, sini duduk dulu." Sambut bundaku. Aku menurut lalu ikut duduk bersama mereka, lalu menyapa mama papa Levin bergantian.

__ADS_1


"Kami kesini ingin melamarmu secara resmi nak, Levin sudah mengatakannya pada kami. Kami sangat senang akhirnya dia mau menikah, dan seperti yg sudah direncanakan, kalian akan menikah minggu depan." Tutur papa Levin menjelaskan maksud kedatangannya.


Ku pikir Levin hanya sedang bercanda, tak ku sangka dia benar benar melamarku, bahkan membawa serta orang tuanya.


"Iya nak, maafin mama ya kemarin sudah sedikit kasar padamu." Sahut mama Levin sambil menggenggam tanganku.


"I iya tante, tidak apa apa. Saya mengerti sebagai seorang ibu pasti anda ingin sekali memilihkan yg terbaik untuk Levin." Jawabku setenang mungkin.


"Panggil mama ya, jangan tante lagi. Kan sebentar lagi kalian akan menikah." Pinta mama Levin tersenyum lembut ke arahku.


Dia berubah drastis dengan saat pertama kita bertemu, bahkan hari ini dia terlihat lembut dan bisa menerimaku.


"Ma, pa, om dan tante. Bolehkah saya membawa Qilanya sebentar, ada yg ingin saya bicarakan." Sahut Levin tiba tiba.


Tanpa menunggu jawaban para orang tua, Levin menarikku ikut bersamanya, ia membawaku masuk ke dalam mobilnya yg sedang terparkir di depan rumahku dan mengunci pintunya dari dalam.


"Apa lagi yg ingin kau katakan?". Tanyaku ketus, harusnya dia tau aku tidak siap dengan pernikahan dadakan ini, tapi dia masih saja memaksakan kehendaknya.


"Aku hanya merindukanmu." Ucapnya lalu memelukku erat, dan sedetik kemudian ia menangkup kedua pipiku dan mencuri satu kecupan dibibirku.

__ADS_1


"Ka kau kenapa tidak masuk kerja hari ini?". Ucapku berusaha menyembunyikan wajah merahku.


"Aku sudah tidak lagi bekerja disana, aku kembali mengurus perusahaan keluargaku." Jawabnya yg masih mencoba menciumku.


"I ini sudah hampir malam, para orang tua pasti akan mencari kita." Kilahku.


Sebisa mungkin aku harus menjauh dari pria mesum ini, sebelum aku benar benar habis dimakan olehnya.


"Istriku buru buru sekali."


Sial.. Lagi lagi ia mencoba menciumku, usahaku melarikan diri sudah terbaca olehnya. Ia mencoba menahanku, menahan kedua tanganku dibelakangku, lalu melancarkan aksinya.


Dia melakukannya dengan kasar, memaksaku membuka mulut dan memasukkan lidahnya kedalam. Menelusuri setiap inci, memainkannya, dan menghisapnya.


Arrgghh.. Bagaimana ini??


Lima menit sudah ia melakukannya tanpa balasan dariku. Berontak pun tak ada gunanya, tenanganya begitu kuat.


Ya Tuhan.. Apa aku sungguh akan berakhir malam ini?

__ADS_1


__ADS_2