Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 34


__ADS_3

Usia kandunganku kini sudah memasuki 9 bulan, itu artinya tak lama lagi aku bisa menggendong baby twinsku ini.


Ya aku telah mengandung bayi kembar, Reinand, ayah, juga mertuaku amat senang mendengar kabar bahagia ini. Mereka sangat2lah menjagaku, bahkan sejak kandunganku masih 7 bulan Reinand tak pernah meninggalkan ku barang semenit. Karena ia tahu bahwa kehamilanku ini berbeda, aku membawa dua nyawa dalam perutku.


Selama sembilan bulan ini hubunganku dan Reinand pun semakin dekat, aku sudah bisa sepenuhnya menjalankan tugasku sebagai istri, menuruti dan melayani setiap kebutuhannya. Aku sangat berharap semoga kedepannya kami bisa tetap bahagia dan lebih bahagia lagi hingga maut memisahkan.


****


Seperti biasanya disetiap pagi Reinand akan membawaku berjalan santai disekitar rumah, karena menurutnya dengan aku banyak berjalan nanti akan membantu proses kelahiranku, entahlah.. Sepertinya dia lebih mengerti hal ini daripada aku.


"Kamu lelah? kita kembali saja ya." Ucapnya khawatir masih menggandeng tanganku.


"Iya sedikit, baiklah ayo kembali saja."


Karena merasa lelah dan sedikit sakit dipunggungku, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Dengan perut besarku ini, ku langkahkan kakiku perlahan, tak jarang baby twinsku ini menendang nendang didalam sana, membuat perutku semakin nyeri reflek membuatku mencengkram kuat tangan suamiku.


"Kamu kenapa? apa perutmu sakit? kita ke rumah sakit ya sekarang!". Ucapnya yg semakin cemas.


"Tidak apa Rey, dia hanya sedang menendangku, mungkin sudah tak sabar ingin keluar dari perut mamanya ini". Tuturku menenangkannya.


Mendengar penuturanku Reinand seketika berlutut, mengelus perutku lembut dan mencoba berkomunikasi dengan anaknya didalam sana.

__ADS_1


"Jangan keras2 ya sayang nendangnya, kamu nggak kasian sama mama hmm.. Jadi anak baik ya, nggak boleh nyusahin mama.. Oke.."


Aku tersenyum melihat suamiku berbicara, seakan akan bayi itu sudah ada didepan matanya dan digendongnya.


Kalian beruntung nak memiliki papa sepertinya. Batinku sambil ikut mengelus perutku.


****


Sesampainya kami dirumah kurasakan nyeri perutku semakin parah, sangat nyeri hingga terasa sampai di punggungku. Ku raih gelas minumanku diatas nakas namun belum sempat menggenggamnya gelas itu terjatuh, membuat Reinand yg masih dikamar mandi terkejut dan bergegas keluar.


"Sayang kamu gppa?". Tanyanya cemas sambil memeriksa keadaanku.


"Perutku sangat sakit Rey". Keluhku menahan tangis.


Dengan langkah hati2 Reinad segera menggendongku, membawaku ke mobilnya dan bergegas ke rumah sakit terdekat.


****


Reinand pov


Kini aku sedang menemani istriku di ruang persalinan, kata dokter tak lama lagi Airy akan melahirkan. Aku sangat takut, juga gugup melihat proses ini secara langsung.

__ADS_1


Ku lihat wajah istriku yg sudah merah dan berkeringat menahan sakit. Juga dokter yg berlalu lalang menyiapkan segala yg diperlukan untuk persalinan ini.


Semoga Tuhan melindungi kalian bertiga, doaku berkali kali sambil menggenggam erat tangan istriku.


Aku tak tega melihat dirinya begitu kesakitan, ternyata seperti inilah perjuangan seorang ibu selama ini, mempertaruhkan nyawanya sendiri demi bisa melihat nyawa baru yg selalu mereka dambakan. Melihat ini semua aku jadi semakin menghormati wanita, terutama ibu dan istriku, dua wanita yg telah mengorbankan segalanya untuk kebahagian dan kelangsungan hidupku.


****


"Bayi kita mana Rey?". Tanya Airy cemas setelah melahirkan dan tak sadarkan diri.


"Itu bayi kita". Ku tunjukkan jariku pada dua box bayi disamping kanan kirinya.



"Bayi kita cewek cowok sayang, mereka sangat manis sepertimu." Ujarku sambil menggendong salah satu dari mereka, dan yg satunya digendong oleh Airy.


"Dia tampan sepertimu, aku ingin memberinya nama Abrisham Rahardian, pria yg tampan dan sejahtera." Ucap istriku tersenyum sembari mencium pipi gembul anak laki2 kami.


"Dan yg ini sudah pasti cantik sepertimu, bolehkah aku yg memberinya nama?". Tanyaku penuh harap, dan Airy langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kalau yg ini akan ku beri nama Ayana Zavi Rahardian, yg artinya bunga yg cantik dan bersinar, seperti mamanya." Ucapku antusias lalu mencium gemas seluruh wajahnya.

__ADS_1


Sungguh aku sangat bersyukur mendapatkan semua ini, istri yg baik dan dua anak yg sangat lucu. Kadang aku berpikir, bisakah waktu berhenti saat ini, aku ingin menikmati pemberian Tuhan ini lebih lama. Hidup bersama keluarga kecilku dengan bahagia.


__ADS_2