Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 51


__ADS_3

"Hai cantik, yuk makan siang."



"Ah maaf pak tapi saya udah ada janji sama Rena."


"Gppa aku akan ikut kalian, yuk."


Baru saja keluar dari ruangan tiba2 tanganku ditarik kebelakang oleh seseorang.


"Kamu ikut saya sekarang."



"Hah??". Aku terkejut.


Pak direktur tiba2 sudah menarik tanganku untuk ikut bersamanya.


Entah kemana ia akan membawaku, dia menarikku hingga kami sampai di parkiran mobilnya. Aku sangat malu ketika seluruh kantor melihat interaksi kami, banyak dari mereka yg berbisik bicara tentangku, bahkan mereka pikir aku tengah mencoba menggoda direktur, pria nomor satu diperusahaan.


"Maaf bapak mau membawaku kemana?". Tanyaku gugup.


"Nanti kamu juga tahu." Jawabnya singkat.

__ADS_1


Kurang lebih setengah jam, kami pun sampai dirumah sakit besar yg aku ingat merupakan tempat tuan Reinand dirawat.


Aku berjalan mengikutinya masuk ke rumah sakit, berjalan melewati lorong dan naik beberapa lantai hingga tiba disalah satu ruang Vip paling bagus disana.


"Kamu sudah datang nak?". Sambut nyonya Reinand begitu melihatku.


"Aku sudah membawanya ma, sekarang aku mau balik dulu ke kantor, ada meeting sebentar lagi." Ucap Abi.


"Tapi pak.."


Belum sempat aku melanjutkan ucapanku Pak Abi sudah menghilang dibalik pintu.


"Sudah jangan khawatir, nanti tante suruh orang buat mengantarmu kembali." Sahut Nyonya Reinand sambil menuntunku duduk disofa ruangan itu.


"Jadi kamu yg menolong saya?". Sapa tuan Reinand.


"Terima kasih nak, berkat kamu saya bisa selamat. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu". Ucapnya ramah.


"Tidak tuan, saya ikhlas menolong. Selama saya bisa saya akan membantu menolong siapapun yg membutuhkan."


"Jadi menantu tante aja gimana?". Sahut nyonya Reinand tiba2.


"Uhukk..Uhukk.."

__ADS_1


Aku tersedak begitu mendengar ucapan tak masuk akal dari nyonya ini. Apa yg dia katakan? Apa aku salah dengar.


"Maaf nyonya bilang apa?" Tanyaku memastikan.


"Jadi menantu kami ya, istri Abrisam, saya rasa kamu akan cocok dengannya." Terangnya lagi.


"Iya nak, mau ya". Sahut tuan Reinand.


What? istri direktur?


Apa aku sedang bermimpi? bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan pria es sepertinya. Dia angkuh, dan tidak pernah tersenyum, meskipun dia pria nomor satu tapi itu tak berpengaruh terhadapku.


"Ma..Maaf nyonya, tuan, saya masih belum terpikirkan untuk menikah. Saya masih ingin membuat bangga kedua orang tua saya dan membahagiakan mereka. Lagipula belum tentu Pak Abi akan mau dengan saya." Tolakku sehalus mungkin.


"Baiklah, tapi saya mau mulai sekarang kamu anggap kami seperti orang tuamu juga ya, jangan panggil nyonya atau tuan. Panggil om tante saja. Apalagi kalau kamu panggil mama papa, kami pasti akan sangat senang." Ucap nyonya Reinand sembari tersenyum ramah kepadaku.


"Iya nak, dari dulu kami ingin sekali memiliki anak perempuan. Kami pernah kehilangannya dulu." Lanjutnya lagi yg tiba2 menunduk sedih.


"Kami juga sudah mencarinya kemanapun, tapi sampai sekarang belum bisa menemukannya." Sahut tuan Reinand.


Jadi mereka pernah kehilangan seorang putri? Aku tak menyangka, keluarga kaya yg selalu nampak bahagia ternyata memiliki cerita pahit seperti ini.


"Sudah ya om, tante. Jangan sedih lagi. Mulai sekarang kalian bisa anggap Qila seperti putri kalian sendiri. Kapanpun kalian ingin bertemu, pasti Qila langsung menemui kalian." Tuturku sambil mengelus tangan nyonya Reinand. Mencoba menghibur dan menenangkannya.

__ADS_1


Cukup lama kami bercengkrama bercanda tawa diruangan itu. Entah mengapa aku merasa bahagia berada didekat mereka, sama seperti ketika aku sedang berkumpul dengan ayah dan bundaku dirumah.


Tawa dan perhatian mereka tarasa begitu tulus terhadapku. Ya mungkin saja itu karena mereka merindukan putri kecil mereka yg hilang. Membuatku menjadi penggantinya dan menyalurkan kasih sayang mereka.


__ADS_2