
Author pov
Sementara itu disisi lain nampak Aqila yg tengah makan malam bersama Levin. Ya beberapa hari ini Levin benar benar melakukan apa yg sudah ia ucapkan, mengantar jemput Qila setiap hari.
Awalnya Qila sedikit tidak nyaman, namun karena Levin memaksa akhirnya ia pun setuju.
Dan disinilah mereka sekarang, restoran mewah yg tempo hari menjadi tempat bertemunya Qila dengan orang tua Levin.
"Hmm.. Hati hati makannya." Tutur Levin sambil mengusap sedikit saus yg menempel dibibir Qila.
"Ah.. Ya makasih." Jawab Qila gugup. Dan lebih gugup lagi ketika Levin tiba tiba menggenggam kedua tangannya.
"Qi, aku menyukaimu, bahkan dari awal kita bertemu."
"Uhuk..Uhukk.. Becanda bapak nggak lucu."
"Aku serius, jadilah kekasihku." Lanjut Levin menatap Qila lekat.
"Berikan saya waktu berpikir, ini terlalu tiba tiba."
"Baiklah, aku tunggu. Besok sepulang kantor sudah harus ada jawabannya."
"Mana ada? itu terlalu cepat."
"Ya sudah, kalau gitu besok pagi."
"Eh.. yaa baiklah besok sepulang kantor."
"Bagus, aku harap jawabanmu tidak mengecewakan."
Setelah acara makan malam itu Levin langsung mengantar Qila pulang seperti biasanya.
__ADS_1
Dalam perjalanan baik Qila maupun Levin sama sama diam, tenggelam dalam pikiran mereka masing masing.
Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku menyukaimu bahkan sejak pertama kita bertemu. Dan aku harap kau benar benar bisa menjadi milikku.
Batin Levin yg sesekali melirik Qila sambil menyetir.
"Ehem.. Apa ada yg ingin kau katakan?". Ucap Qila yg menyadari Levin meliriknya sedari tadi.
"Ya, aku mau setiap kita sedang berdua jangan memanggilku pak, dan jangan terlalu formal padaku." Pinta Levin.
"Sepertinya kurang pantas, bagaimana pun juga kau atasanku."
"Sebentar lagi kan jadi kekasihku."
"Hmm? Percaya diri sekali anda."
"Tentu saja, hanya aku yg boleh jadi kekasihmu."
"Tunggu!!". Ucap Levin yg ikut turun menyusul Qila
"Selamat malam, mimpi indah ya. Sampai jumpa besok." Sambung Levin setelah berhasil mencuri ciuman Qila.
Mendapat serangan mendadak itu Qila hanya diam mematung, wajahnya merah merona. Bahkan tak menyadari bahwa mobil Levin sudah tak terlihat.
"Arghh.. Levin sialan.. Awas saja kau!!!". Teriak Qila frustasi.
****
Setelah kejadian itu pikiran Qila benar benar terganggu, apalagi mengingat ciuman pertamanya yg sudah dicuri oleh atasannya itu. Sungguh menjengkelkan pikir Qila.
__ADS_1
Bahkan semalaman ini ia hanya berguling guling di tempat tidur, berusaha menutup mata namun tak juga lelap. Pikirannya, otaknya, sudah dipenuhi oleh Levin.
****
Dering alarm yg semakin mengeras berhasil mengusik ketenangan Qila. Dilihatnya jam diatas nakas yg sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Merasa hampir telat, ia pun bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi, bersiap, dan berdandan ala kadarnya.
"Pagi yah, bun.." Sapa Qila lalu segera ikut duduk di meja makan.
"Pagi sayang." Jawab Vanya.
"Pagi Qi." Sahut Reza.
"Qila langsung berangkat ya, takut telat. Dah yah.. Bun." Pamit Qila setelah meneguk habis satu gelas susu didepannya.
Dan ya, lagi lagi Levin sudah menunggu didepan rumah. Duduk dengan santainya diatas kap mobil, sambil menebar senyum dan pesonanya pada Qila.
"Pagi By." Sapa Levin yg masih saja tersenyum.
"Nama saya Qila pak, bukan By." Jawab Qila ketus.
"Baiklah, yuk berangkat."
**Kalau suka sama cerita author, mohon dukungannya ya.
Minta Like & komen + votenya.
Soalnya cerita yg ini banyak banget views nya, tapi like nya cuma segitu aja. Jauh banget perbedaannya.
Semakin banyak yg like, author pasti bakal semangat juga up nya.
Sekali lagi jangan lupa like, komen, votenya yah.
__ADS_1
Terimakasih**.