
Waktu berlalu begitu cepat, sudah 5 tahun sejak aku menginjakkan kakiku di kota ini. Melewati pergantian musim seorang diri, menghabiskan waktu untuk belajar, dan sesekali pergi ke tempat tempat wisata terkenal yg ada disini.
Kerinduan, ingin bertemu keluarga, hanya bisa ku tahan. Meskipun berulang kali mereka membujukku pulang, aku masih bisa meyakinkan mereka untuk menunda hingga kelulusanku yg tinggal beberapa hari lagi. Dan hanya via telpon dan video call yg selalu kami lakukan setiap rindu itu datang menyerang.
Sedangkan dia, rindu itu juga ada untuknya. Namun sekarang sudah berbeda, waktu bertahun tahun yg ku habiskan disini nyatanya berhasil memulihkan kembali hatiku. Sudah tidak ada lagi rasa sakit dan marah jika mengingatnya telah bersama dengan pria lain.
Ya syukurlah, setidaknya usahaku tidak sia sia.
*****
"Sam, mau kemana? Banyak sekali barang bawaanmu?". Sapa seorang pria begitu melihatku keluar dari apartemenku.
"Ah iya Ric, adikku akan menikah. Kaluargaku memaksaku pulang hari ini, dan mungkin aku akan melewatkan upacara kelulusanku juga." Jawabku.
Pria itu bernama Eric, tetangga sekaligus teman kuliahku.
"Wah sayang sekali, selamat ya buat adikmu. Kau cepat cepatlah menyusul." Ujarnya sambil menertawaiku.
"Harusnya aku yg mengatakan itu padamu, kau lebih tua dariku." Jawabku membalas candaannya.
"Haish.. Meski begitu, aku juga tak kalah tampan darimu." Sahutnya lagi dengan nada sedikit sombong.
"Ah ya ya, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu ya, jangan lupa merindukanku." Pamitku kemudian, melambaikan tanganku sebentar lalu bergegas menuju bandara.
__ADS_1
"Ya,, see you dear." Balasnya sedikit berteriak.
Semalam aku mendapatkan telpon dari mama, ia tiba tiba memintaku pulang dengan alasan pernikahan adikku. Merasa tak bisa mengelak lagi, akhirnya aku memutuskan untuk pulang pagi ini juga.
Senang, haru juga sedih, itu yg kini kurasakan. Aku sangat senang mendengar kabar pernikahan adikku, pria kecil yg dulu selalu menempel padaku akhirnya akan memulai kehidupan barunya. Namun disisi lain aku juga sedih, aku tak menyangka akan kehilangan adik kecil yg biasa ku manjakan secepat ini. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya di punggungku, dan sekarang ia sudah akan menjadi tulang punggung orang lain.
Hah.. Waktu memang berlalu sangat cepat.
****
Jam menunjukkan pukul 7 malam, langit cerah bertabur bintang seakan turut menyambut kepulanganku. Kota yg sangat indah, dengan dua musim sebagai ciri khasnya, akhirnya aku telah kembali.
"Sam.." Teriak seseorang yg sepertinya sedikit jauh dibelakangku. Aku pun menoleh, memandang kesana kemari mencoba menemukan asal suara itu.
"Mama.." Gumamku, segera ku percepat langkahku menghampirinya.
"Dasar anak nakal, mama sangat merindukanmu."
Peluk hangatnya merengkuhku, mengusap lembut kepalaku dengan sayang.
"Aku juga sangat merindukan mama." Jawabku membalas pelukannya.
Baru beberapa menit kami saling melepas rindu, tiba tiba saja terdengar suara anak kecil .
__ADS_1
"Oma, apa dia pamanku?". Ucapnya yg tak sengaja ku dengar.
Begitu melihat ke bawah, mataku menangkap sosok gadis kecil yg sangat imut dan cantik. Berdiri di belakang mamaku sambil memeluk kaki mama dengan tangan kecilnya.
"Iya sayang, dia pamanmu." Sahut papa yg membuatku tertegun seketika.
"Ma, pa, ini?".
Belum sempat menyelesaikan ucapanku, gadis kecil itu langsung menghampiriku, menatapku lama, lalu memeluk kakiku dengan tangan kecilnya.
"Yeay.. Aku punya dua paman." Teriaknya kegirangan.
"Ma, pa, ini siapa?" Tanyaku yg sudah tidak tahan lagi dengan rasa keingintahuanku.
"Nanti mama ceritakan di rumah, sekarang ayo pulang dulu." Jawab mama santai lalu berjalan lebih dulu dengan papa, dan meninggalkan gadis kecil ini bersamaku.
"Ayo paman kita pulang." Sahut gadis kecil itu sambil menarik narik ujung bajuku.
"Baiklah." Jawabku singkat lalu menggendongnya.
**Bersambung..
__ADS_1
Coba tebak, itu anak siapa**?