Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 73


__ADS_3

Mentari kembali lagi, aktifitas dan rutinitasku pun kembali seperti biasanya. Setelah mandi, bersiap diri, sarapan, dan berangkat ke kantor bersama Levin.


"Qila.." Terdengar suara akrab seseorang dari dalam ruangan.


"Ya pak, ada yg bisa dibantu?". Tanyaku sesopan mungkin.


"Kumpulkan segera rekan rekanmu, hari ini saya ingin mengadakan meeting dan briefing bersama kalian." Perintahnya sambil menatapku intens.


"Baik pak, segera." Jawabku singkat, lalu bergegas memanggil semua rekan satu divisiku agar segera berkumpul diruang meeting kecil.


Beberapa menit kemudian kami semua sudah berkumpul, termasuk Levin yg mana akan memimpin jalannya meeting ini.


"Pagi semua." Sapa hangat Levin sambil menunjukkan senyum manisnya.


"Pagi pak." Jawab seluruh anggota meeting bersamaan termasuk aku.


"Saya yakin kalian sudah tahu, divisi marketing atau pemasaran adalah hal ya sangat vital bagi kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Jadi berkembang atau tidaknya perusahaan ini juga merupakan tanggung jawab kita semua. Oleh karena itu, hari ini saya ingin mengevaluasi kinerja kalian, dan merombak sedikit struktur organisasi divisi kita." Tutur Levin yg kini tengah berbicara ditengah tengah kami.


Lagi lagi dia terlihat tampan dengan sikap seriusnya ini, berwibawa juga berkarisma. Berbanding terbalik dengan sifat manja dan otoriternya padaku.


Satu jam, dua jam, tiga jam, meeting pun selesai. Levin mempersilahkan kami semua untuk kembali ke meja masing masing dan melanjutkan pekerjaan.


****


Yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga, tak lain dan tak bukan adalah jam pulang kantor. Saatnya kembali ke rumah, melepaskan segala lelah dan penat dengan berbaring di ranjang kesayangan.


"Ayo by kita pulang." Ajak Levin yg masih saja seenaknya merangkul pinggangku dengan tiba tiba.


"Maaf Vin, hari ini aku ada urusan, jadi tidak bisa pulang denganmu." Tolakku halus sambil mencoba melepaskan rangkulannya.

__ADS_1


"Urusan apa?". Tanyanya sambil menatapku tajam.


"Emm i itu aku sudah berjanji menemani Rena belanja." Jawabku asal.


Tanpa sadar aku sudah membohongi Levin, tidak tau apakah ia akan marah jika mengetahui hubunganku dan orang tua Abrisham sangat dekat.


"Benarkah? Biar ku antar." Tawarnya kemudian.


"Ti tidak usah. Dia sudah menungguku dibawah, kamu lebih baik pulang saja." Sanggahku, aku harap kali ini dia akan percaya dan tidak menghalangiku.


"Baiklah, aku harap kau tidak berbohong padaku, karena aku sangat tidak suka dibohongi, apalagi olehmu." Jawabnya sambil menatapku tajam lalu bergegas meninggalkanku.


Fyuh.. Aku selamat, semoga saja tidak ketahuan. Batinku mencoba menenangkan debaran jantungku yg tidak karuan karena tatapan Levin.


Setelah yakin bahwa Levin sudah pergi, aku pun segera memesan ojek online, dan pergi ke rumah Abrisham seperti janjiku kemarin.


Tak butuh waktu lama, setengah jam kemudian motor ojol yang mengantarku sudah berhenti tepat didepan rumah mewah, dengan pagar besi yg menjulang tinggi, dan pepohonan rindang yg mengapit dikanan dan kirinya.


"Aldo, gimana keadaan tante? Dia baik baik saja kan?". Tanyaku to the point. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui kondisi wanita paruh baya yg masih cantik itu.


"Ayo masuk kak, mama sudah menunggumu didalam." Ajak Aldo.


Kami berdua bergegas masuk ke dalam rumah itu, dan tak ku sangka, disana sudah ada tante, om, juga Abrisham tengah berkumpul, duduk santai sambil bercengkrama.


"Aqila, akhirnya kamu datang juga." Sambut tante Airy langsung memelukku.


"Tante, gimana kondisi tante? Apa sudah lebih baik?". Tanyaku membalas pelukannya.


"Memelukmu seperti ini tante jadi merasa lebih baik sayang." Ucapnya lembut sembari mengusap lembut kepalaku.

__ADS_1


"Sudah sudah, ajak Qila duduk ma. Dia pasti lelah." Ucap om Reinand mengintrupsi kami.


"Ah iya iya, maaf ya sayang tante terlalu senang, ayo duduk."


Kami semua duduk bersama layaknya keluarga, dan syukurlah bisa ku lihat kondisi tante sudah membaik, hanya sedikit batuk dan bersin yg sesekali terdengar.


Karena terlalu asik berbincang, aku tak menyadari bahwa saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku yakin ayah bunda pasti sedang menungguku pulang sekarang. Dengan berat hati akhirnya aku memutuskan untuk berpamitan pada keluarga Abrisham, terutama tante yg sedari tadi amat antusias dengan kehadiranku.


"Qila pulang dulu ya tante, ayah bunda pasti sudah menunggu Qila, nanti kalau ada waktu Qila pasti main lagi." Pamitku pada tante Airy yg masih menggenggam erat tanganku.


"Kok pulang? Menginap saja semalam, tante ingin sekali bisa lebih lama sama kamu." Rengek tante dengan raut sedihnya.


"Em.. Nanti ya tante Qila usahain, tapi untuk sekarang belum bisa. Ayah bunda pasti nggak ngijinin." Tolakku selembut mungkin. Sebenarnya aku juga ingin bisa lebih lama dengannya, namun aku rasa itu tidaklah baik untuk seorang gadis sepertiku menginap dirumah pria lajang yg jelas bukan saudaraku.


"Yasudah, nanti tante sendiri yg akan minta ijin sama orang tuamu. Kamu pulangnya diantar Sam saja ya." Jawabnya pasrah dengan raut wajahnya yg nampak kecewa.


"Baiklah asal tidak merepotkan." Kataku.


**Hai guys..


Terimakasih buat yg udah nyempetin baca karya author yg masih amatir ini. Terima kasih juga buat like & komennya. Semakin banyak yg suka + komen + vote, author pasti bakal makin semangat upnya.


Jadi kalau likenya episode ini nanti lebih dari 50 author bakal up 3 episode sekaligus. Lebih dari 100 bakal up lebih dari 5.


Sekali lagi author minta dukungannya ya.. Like dan komennya gratisss tisss tisss.. Jadi plisss jangan pelit pelit sama author 😭😭


Soalnya karya ini pembacanya banyak, likenya cuma segitu, jauh banget perbedaanya.


Plisss ya dukung author,

__ADS_1


Salam sayang dari Vinvinn 😘😘😘**


__ADS_2