Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 47


__ADS_3

Tokk tokk tokk..


"Sayang bangun!! Udah jam 10."


Tokk tokk tokk..


"Qila.. Bangun dulu nak ayo sarapan nanti mag kamu kambuh kalau telat makan lagi."


Haish.. Bunda kebiasaan ih..


"Iya bunda.. Ini Qila bangun." Jawabku masih setengah sadar.


Sudah menjadi kebiasaan jika di weekend seperti ini pasti aku akan bangun lebih siang karena semalam suntuk aku maraton nonton drakor kesayanganku. Siapa lagi kalau bukan oppa Ji chang wook ku.


Kyaa... Oppa saranghae..



Dengan malas dan muka bantalku aku turun ke dapur mencari makanan disana. Ya karena sudah jm 10 pagi, pasti bunda dan ayah sudah sarapan lebih dulu.


"Aduh.. Kamu ini, anak gadis malesnya minta ampun, mandi dulu Qila baru sarapan." Omel bunda sambil menjitak kepalaku.


"Auh.. Iya iya bunda, ini Qila udah gede loh, kok masih jitak2 aja." Ucapku sambil memanyunkan bibirku kesal.


Kalau sudah berhadapan dengan bunda mau tidak mau pasti aku kalah, ya cuma dia yg secerewet ini padaku, berbeda dengan ayah yg selalu memanjakan dan membelaku.


Setelah melakukan ritual mandi dan merapikan kamarku cukup lama aku segera berlari lagi kedapur, perutku rasanya sudah demo minta diisi sedari tadi.


Dan disana ternyata sudah ada makanan yg siap tersaji lengkap di piring, sepertinya bunda menyiapkannya untukku. Tanpa menunggu lama lagi aku pun segera melahap habis makanan itu tanpa sisa.

__ADS_1


"Bunda.." Teriakku sambil berlari memeluk bunda yg tengah asik menonton tv di ruang keluarga.


"Ayah mana?". Tanyaku celingukan.


"Tiba2 tadi ada masalah di polda, ayahmu diminta segera datang." Jelas bunda.


Yap.. Aku belum bercerita tentang keluargaku. Ayahku adalah seorang perwira polisi, dan bundaku seorang pns, setelah aku lahir ibuku memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih untuk merawatku langsung dengan tangannya. Itulah mengapa aku sangat2 menyayangi dirinya.


Aku anak tunggal, bunda bilang dia sudah tidak bisa melahirkan anak lagi. Maka dari itu perlakuan dia padaku sangat protektif, karena aku putri satu2nya di keluarga ini.


"Oh ya Qila, ikut bunda yuk belanja. Bunda lupa bahan2 pokok kita udah pada habis, sebenarnya bunda mau minta antar ayah kamu, tapi tiba2 dia ada panggilan dari pusat." Ucap bunda mengalihkan pandanganku yg sedari tadi sibuk dengan ponselku.


"Baiklah, Qila siap2 dulu bun."


10 menit kemudian..


"Bunda.. Qila uda siap." Teriakku yg tak melihat bunda dimanapun.


Kami pun pergi dengan mobil ayah dengan aku yg mengemudi. Hmm rasanya sudah lama aku tak menyetir sendiri, biasanya ada ayah yg melakukannya. Karena aku sendiri rasanya agak malas jika harus membawa mobil, dan lebih memilih untuk naik ojol yg lebih praktis.


Bunda mengajakku ke supermarket tak jauh dari rumah, dan kini kami mulai memilih barang2 dan bahan pokok yg kami butuhkan.


Ketika aku sedang sibuk memilih snack dan makanan ringan, tiba2 ada tangan kokoh yg menepuk pundakku dari belakang dan itu sukses membuatku terkejut hingga reflek melempar snack yg ku pegang.


"Hai wakil kesayanganku.." Sapa orang itu dengan suara khas genitnya.



"Pak Levin!!".

__ADS_1


"Lagi ngapain?". Tanyanya penasaran sambil melihat trolly belanjaku.


"Belanja lah bapak, masa mau kawinan." Jawabku agak ketus. Sudah tau bawa belanjaan masih saja di tanya. Pikirku heran.


"Mau kawinan juga boleh, aku siap kok." Ujar Levin dengan tatapan menggodanya.


Huft.. Nih orang lama2 kok ngeselin ya..


"Qila sayang, kamu sama siapa?". Tegur bunda menghampiri kami.


"Ah kanalin tante saya Levin rekan kerja Qila." Sahut Levin sambil mengulurkan tangannya pada bunda.


"Oh begitu, saya Vanya bundanya Qila." Jawab bunda menerima tangan Levin dan tersenyum ramah.


Entah mengapa tiba2 bunda jadi akrab dengan Levin, bahkan kini kami bertiga sedang makan siang bersama di restoran dekat supermarket.


Bunda dan Levin masih saja asik berbincang dan mengacuhkan aku. Ini sebenarnya anaknya aku atau Levin. Pikirku kesal.


"Baiklah nak Levin ini sudah mau sore kami pamit pulang dulu ya.. Terima kasih buat belanjaan dan traktirannya, tante jadi nggak enak." Ucap bunda beepamitan pada Levin.


Aku baru tahu ternyata semua belanjaan tadi Levinlah yg membayar, aku pun jadi merasa sungkan dengannya.


"Tidak apa tante, saya senang bisa berkenalan dengan tante. Lain kali saya bolehkan mampir ke rumah tante?". Tanya Levin penuh harap.


"Tentu nak, kamu bisa main kapanpun." Jawab bunda antusias.


Kok bisa jadi gini sih.. Haishh Pak Levin bisa2nya modusin bunda, apa jangan2 dia naksir bunda??. Gumamku pelan sambil memandang Levin dan bunda bergantian


"Qila ayo pulang.. Kok malah bengong?".

__ADS_1


"Ah i iya bun ayo.."


"Kami pulang ya nak Levin, sampai jumpa." Ucap bunda sambil melambaikan tangannya dan menarik lenganku pergi.


__ADS_2