
'Hal yang paling menyakitkan adalah harus berpura pura bahagia ketika melihat orang yang dicintai mencintai orang lain'
Terlalu lama di pesta hanya akan membuat mata dan hatiku sakit, jadi aku terpaksa berpamitan untuk pulang terlebih dulu. Karena yg ku butuhkan saat ini adalah ketenangan, kesendirian, meluapkan segala amarah dan kesedihan yg mungkin hanya akan menjadi rahasiaku sendiri.
Tak tentu arah dan tujuan mobilku terus melaju kencang, hanya berputar putar di tengah kota yg sudah mulai nampak sepi. Aku tak ingin pulang, tak ingin membuat orang tuaku tau dan khawatir tentangku.
Dan satu jam kemudian aku memilih untuk memasuki salah satu hotel mewah dan mungkin akan menginap beberapa hari disana. Aku harus bisa menenangkan kembali hatiku, dan pulang ke rumah nanti saat kondisiku sudah jauh lebih baik.
Setelah mendapatkan kamar, aku segera merebahkan tubuhku yg sudah sangat lelah ini. Menatap langit langit kamar sambil merenungkan kembali apa yg telah terjadi.
Semangat Sam!! Kau pasti bisa. Kataku berusaha menyemangati diriku sendiri.
****
Aqila pov
Status baru, kehidupan baru, dan tanggung jawab baru.
Mulai hari ini aku resmi diperistri oleh Levin, pria tampan yg beberapa bulan ini menjadi atasanku. Berbeda dari pasangan kekasih yg lainnya, kami memulai hubungan ini dengan situasi cukup unik. Dia memaksaku menjadi kekasihnya lalu segera menikahiku.
Cukup aneh memang, tapi ya sudahlah, mungkin ini memang cara Tuhan untuk menyatukan kami.
Pernikahan ini telah banyak memberi kebahagiaan, baik untuk orang tuaku, keluarga Levin, juga beberapa kerabat. Namun disisi lain ada beberapa pihak yg merasa sedih dengan hal ini. Terutama Abrisham dan orang tuanya.
__ADS_1
Seperti yg kalian tau, mereka amat sangat menyayangiku, berharap agar aku bisa menjadi bagian dari keluarga mereka dengan menikahkanku dengan Sam. Namun sekali lagi Tuhan berkehendak lain, aku dan Sam tidak berjodoh, dan tentu saja ia sangat kecewa dan terluka mengetahui keputusanku yg terkesan mendadak ini.
Aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga nanti ia akan mendapatkan seseorang yg jauh lebih baik dariku, dan segera melupakanku.
****
Begitu pesta pernikahan selesai Levin langsung memboyongku ke rumah pribadinya, rumah yg katanya sudah ia siapkan beberapa tahun yg lalu. Rumah yg nampak mewah dengan banyak pepohonan rindang yg mengelilinginya.
Aku yg sudah sangat lelah pun langsung bergegas masuk dan mencari kamar untukku beristirahat, badan dan kakiku terasa kaku karena harus berdiri berjam jam menyambut banyaknya tamu yg datang.
"By.. Kau dimana?". Teriak Levin yg sepertinya mencariku.
Belum sempat aku menjawab ia sudah lebih dulu menemukanku dan ikut masuk ke dalam kamar pilihanku ini.
"Em.. Baiklah." Aku menurut, lalu pergi ke kamar mandi, melepas semua kain di tubuhku, lalu merendam diriku di buthup.
Rasanya lebih segar dan rilex. Membuatku nyaman dan betah berlama lama didalam sana.
Entah berapa lama aku didalam, hingga teriakan Levin menyadarkanku.
"By, kau tidak apa apa? Sudah hampir satu jam kau didalam." Teriaknya sambil mengetuk pintu kamar mandiku.
"Iya sebentar lagi." Jawabku.
__ADS_1
"Hmm cepatlah, nanti kau bisa masuk angin."
Sial.. Karena terlalu buru buru aku lupa membawa pakaian gantiku, dan hanya ada handuk yg tergantung disini.
Haih.. Semoga Levin sudah keluar, batinku.
"Apa kau sengaja ingin menggodaku by?". Tegur Levin begitu melihatku keluar.
"Eh.. i itu, aku lupa membawa pakaianku. Bisakah kau keluar dulu?". Jawabku gugup tak berani menatapnya.
"Kenapa harus keluar? Kita kan sudah resmi menjadi suami istri." Ucapnya dengan senyum smirk khasnya, lalu perlahan berjalan mendekatiku.
"Ehem.. Bukankah kau mau mandi?". Sahutku berusaha menghindarinya. Jujur aku masih belum siap menyerahkan diriku, aku masih sangat takut dengan hal seperti itu.
"Nanti saja, setelah memakanmu." Jawabnya vulgar.
Ia mendekat dan terus memojokkanku, jantungku berdebar lebih cepat, tubuhku terasa panas.
Oh Tuhan, apa yg harus ku lakukan?.
**Stop!!
__ADS_1
Sampai sini dulu ya 😊😊**