Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 72


__ADS_3

"Sayang kau sudah pulang". Sambut bundaku yg tengah bersantai di teras rumah.


"Iya bun, dimana ayah?". Jawabku sambil berjalan masuk.


"Ayahmu lembur masih ada tugas katanya." Jawabnya mengikutiku masuk.


" Yaudah Qila mau ke kamar dulu ya bun, mau mandi terus istirahat." Pamitku.


"Iya, nanti bunda bangunin makan malam."


Aku bergegas masuk ke kamarku, merebahkan sejenak tubuhku sambil memandangi langit langit kamar yg masih ku biarkan gelap.


Entah mengapa akhir akhir ini aku merasakan hal aneh dalam hatiku, aku rindu pada om dan tante, lebih tepatnya orang tua Abrisham. Sudah beberapa minggu sejak kami terakhir bertemu, aku merasa sangat ingin bertemu dan melihat mereka.


Sungguh aneh bukan? Bahkan kami sama sekali tak memiliki hubungan keluarga, tapi bisa bisanya aku merindu ingin bertemu.


Belum lama aku melamun sambil rebahan di tempat tidur, ponselku yg masih didalam tas terdengar berdering. Aku pun segera beranjak dan melihat siapa yg menghubungiku sore sore seperti ini.


'Levin is calling'


"Malem by.." Sapa Levin di seberang sana.

__ADS_1


"Ada apa Vin?". Jawabku malas, tiap jam tiap menit dia selalu saja menggangguku. Padahal baru satu jam yg lalu kita berpisah dan besok juga akan bertemu lagi dikantor.


"Udah mandi? Udah makan?". Tanyanya kemudian.


Yang benar saja, dia menelponku hanya untuk hal sepele seperti ini? Apa dia tak memiliki hal penting untuk dikerjakan, pikirku.


"Belum, bentar lagi." Jawabku singkat.


"Sabtu besok ikut aku makan malam dirumah ya, ketemu mama papa." Ucapnya lagi.


"Bisakah aku menolak? Bukankah mamamu sama sekali tidak menyukaiku?". Jawabku.


"Itu karena mama belum mengenalmu, setelah kalian saling mengenal, dia pasti juga akan menyukaimu sama sepertiku." Ujarnya berusaha membujukku.


"Yaudah, kamu mandi gih, jangan lupa makan malam. Aku tutup dulu ya.. Love you."


Tanpa menjawab aku langsung mengakhiri panggilan Levin. Aku belum bisa mengatakan hal yg sama padanya, aku merasa masih bingung dan ragu dengan hatiku sendiri. Jadi akan lebih baik jika aku diam daripada mengatakannya tapi tidak dengan ketulusan.


Drrtt.. Drrttt...Drrttt..


Lagi lagi ku dengar ponselku berbunyi, Siapa lagi kali ini? Mungkinkah dia lagi. Dengan malas aku segera mengambil kembali ponselku dan menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Ya halo.." Sapaku ketus tanpa melihat nama kontak yg sudah terhubung dengan ponselku.


"Halo Qi, apa aku mengganggumu?." Jawab seseorang dibalik telpon itu.


Tunggu! Suaranya berbeda dengan Levin, dan dengan perlahan aku memberanikan diri melihat nama dilayar panggilan, Gawat.. Ternyata Abrisham.


"Ah.. Ya halo pak. Ada apa ya?". Tanyaku gugup sambil melembutkan nada bicaraku.


"Apa besok kau ada waktu luang?". Jawabnya kemudian.


"Sepertinya ada, memangnya ada apa ya pak?". Tanyaku penasaran, tak biasanya Abrisham menelponku dan menanyakan hal seperti ini. Mungkinkah ia akan mengajakku keluar? Jalan jalan? Kencan?? Oh tidak!!


"Mama sedang sakit, katanya dia ingin sekali bertemu denganmu. Bisakah kau datang kerumahku besok? Aku akan menjemputmu." Tuturnya yg sontak saja membuatku terperangah.


Tante sedang sakit? Pantas saja aku merasakan hal yg aneh dan ingin sekali menemuinya. Tak disangka perasaan kami berdua bisa terjalin sekuat ini.


"Baik pak, besok sepulang kantor saya akan kesana. Bapak tidak perlu menjemput, saya bisa sendiri." Ucapku setuju tanpa basa basi.


"Terima kasih ya Qi, maaf sudah merepotkanmu." Jawab Abrisham yg sepertinya merasa sungkan dan tidak enak hati denganku.


"Tak masalah pak, kalau begitu saya tutup dulu ya, sudah ditunggu keluarga saya buat makan malam. Sampai jumpa."

__ADS_1


Akhirnya aku bisa bertemu dengan tante itu lagi, aku harap setelah bertemu denganku kondisinya nanti akan semakin membaik, aku merasa sayang padanya, tak ingin melihatnya sakit apalagi terluka. Rasanya sama seperti saat bunda dan ayahku sakit, kekhawatiran dan kecemasanku sama persis dengan saat itu.


__ADS_2