
Ketika sampai dirumahnya Bima dikagetkan dengan Reinand yg tertelungkup di lantai bersimbah darah, bisa dipastikan bahwa sahabatnya itu jatuh dari tangga. Kondisinya terlihat sedikit mengenaskan, darah dimana mana, juga bau alkohol yg menyengat.
"Rey... Bangun! shit... kenapa bisa begini sih?". Teriak Bima yg terkejut juga cemas.
Bima yg sudah sangat khawatir segera membawa sahabatnya itu ke rumah sakit.
Ai, maafkan aku. Aku mohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku mohon.
Selama tak sadarkan diri Reinand selalu meracau seperti itu, Bima yg menyadarinya segera menghubungi Airy, berharap Airy bisa datang menemui sahabatnya yg kini sedang kritis di rumah sakit.
"Halo, ada apa malam2 menghubungiku? jika masih soal Reinand maaf aku tutup saja." Ucap Airy kesal.
"Rey sedang kritis dirumah sakit Ai, aku mohon kamu datang kesini menemuinya, dari tadi dia terus meracau memanggil namamu." Jawab Bima memohon.
"Becandamu nggak lucu Bim." Ucap Airy tak percaya.
Bisa saja itu hanya trik mereka agar bisa bertemu denganku. Pikir Airy.
"Jika kamu tidak percaya, datang saja ke rumah sakit A sekarang." Ucap Bima geram lalu segera menutup panggilannya.
Cukup lama Airy berpikir akan menemui Reinand atau tidak, dia masih sangat membenci pria itu, namun dia juga sedikit tidak tega, bagaimana jika pria itu benar sedang kritis dan mencarinya.
__ADS_1
****
"Dimana dia?". Tanya Airy pada Bima yg sedang duduk termenung di depan ruang operasi.
"Disana". Jawab Bima singkat sambil menunjuk ke ruang operasi tersebut.
"Kenapa bisa begini? Apa yg terjadi?". Tanya Airy penasaran.
"Dia sudah tergila gila padamu Ai, dia frustasi karena tak kunjung menemukanmu, selama hampir 2 minggu ini dia tak merawat dirinya, jarang makan, dan sering mabuk2 an. Mungkin itu juga yg membuatnya terjatuh dari tangga, aku menemukannya sudah tak sadarkan diri dan banyak pendarahan." Tutur Bima.
"Aku sudah sangat membencinya Bim, seberapa besarpun usahanya aku tidak akan kembali ke sisinya lagi. Aku ingin melupakannya." Jawab Airy mencoba menahan air matanya.
"Iya aku bisa mengerti kondisimu, meski dia salah, tapi cobalah memahaminya, dia tidak bisa hidup tanpamu Ai. Dia sangat mencintaimu." Ucap Bima.
"Gimana keadaanya dok?". Tanya Bima.
"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya, kalian bisa menjenguknya nanti setelah kami pindahkan ke ruang inap." Jawab dokter itu.
"Terima kasih dok."
****
__ADS_1
Sudah 3 hari pasca operasi Reinand tak kunjung membuka matanya, Airy yg selalu menemaninya pun khawatir, dia takut Rey tidak akan pernah bangun lagi. Dia merasa bersalah telah mengabaikan pria itu. Dan berjanji pada dirinya sendiri jika Reinand sadar, dia akan mencoba menerimanya.
Pak Rey, ku mohon sadarlah. Aku sudah memaafkanmu, maaf juga kau seperti ini karena aku. Aku janji tak akan pernah meninggalkanmu lagi, jadi ku mohon bangunlah!
Ucap Airy yg menggenggam lembut tangan Reinand, dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis melihat kondisi pria itu seperti ini. Dia merasa bersalah.
"Benarkah? kau tidak akan pergi dariku lagi?".
Mendengar suara itu segera Airy mendongakkan kepalanya, dan ternyata ya Reinand telah sadar.
"Apa kamu sudah tidak waras ha? Kenapa kamu melukai dirimu sampai seperti ini?". Teriak Airy kesal.
"Kamu yg sudah membuatku tidak waras Ai, aku merindukanmu." Ucap Reinand lalu menarik Airy kedalam pelukannya.
"Lepassss!!". Teriak Airy lagi sambil memukul tubuh pria itu meminta untuk dilepaskan.
"Au...Sakit Ai." Ucap Reinand yg berpura pura kesakitan
"Ah maaf maaf."
"Jika tidak ingin menyakitiku, maka biarkan seperti ini sebentar." Ucap Reinand masih memeluk Airy.
__ADS_1
"Dasar, masih sakit bisa2 nya nyari kesempatan." Umpat Airy kesal lalu melepaskan pelukannya.