
"Rey, gimana keadaan istri dan bayimu? mereka baik2 saja kan?". Tanya bunda yg baru datang bersama ayah mertuaku.
"Iya, mereka gppa kan?". Ucap ayah Chandra menimpali.
"Tenang saja bun, ayah. Mereka bertiga baik2 saja. Airy sedang istirahat, tubuhnya sedikit lemah baru minum obat. Dan ya itu cucu kalian, yg biru itu laki2, dan satunya perempuan." Tunjukku pada dua box bayi di samping ranjang istriku.
Baik bunda maupun ayah Chandra terlihat sangat bahagia bisa melihat cucu pertama mereka, mereka sangat antusias ingin menggendong cucu mereka bergantian.
"Siapa nama mereka Rey?". Tanya bunda yg sedang menggendong anak laki2ku.
"Yg sama bunda namanya Abrisham Rahardian, dan yg digendong ayah namanya Ayana Zavi Rahardian." Ucapku menjelaskan.
"Nama yg bagus, bunda jadi pengen bawa mereka pulang."
"Iya bun bawa aja, biar aku bisa berduaan terus sama Airy." Candaku yg berhasil membuat bunda dan ayah Chandra terkejut.
"Hmm.. Ya nggak bisa nak Rey, kasian mereka masih kecil, masih butuh asi mamanya." Tutur ayah Chandra, ternyata dia menganggap perkataanku tadi serius. Sontak saja aku terkekeh dibuatnya.
"Iya ayah, aku tahu. Aku hanya bercanda, lagi pula aku ingin terus bersama dan bermain dengan putraku. Jika kalian merindukan mereka biar aku yg membawanya menjenguk kalian." Ucapku menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah lebih baik kamu pulang dulu, bersihkan badanmu dan ganti bajumu, biar kami yg menjaga mereka." Perintah bunda yg melihat penampilanku acak2 an.
Bagaimana tidak? Aku menemani istriku sedari pagi, menyaksikan proses menegangkan itu, juga menjadi korban cakaran Airy yg kesakitan. Tentu saja penampilanku sangat lusuh dan berantakan.
Akhirnya aku mengiyakan perintah bundaku dan pergi dari rumah sakit.
****
"Halo.."
"Ada apa bun?".
"Apa??? Pliss jangan becanda bun!". Teriakku terkejut.
Bagaimana mungkin? Pasti mereka mengerjaiku? Ya mereka mengerjaiku.
Dengan langkah gontai dan pikiran yg berkecamuk aku segera mengambil mobilku dan bergegas kembali ke rumah sakit. Tak henti2nya aku berdoa di sepanjang perjalanan, semoga bunda hanya sedang mengerjaiku. Semoga bayiku baik2 saja.
__ADS_1
Setengah jam kemudian aku sampai di rumah sakit. Tanpa peduli dengan tatapan orang lain aku berlari melewati lorong gedung itu. Rasanya sudah tidak sabar mengetahui apa yg sebenarnya terjadi.
Brak..
Ku buka pintu kamar inap istriku dengan kasar, ku lihat dia sedang menangis, meraung raung di pelukan ibuku. Begitu juga dengan ayahku yg kini tengah berdebat dengan dokter dan perawat disana.
Perlahan ku hampiri mereka, ku tengok kanan dan kiriku. Bayi laki2 ku masih terlelap di box bayinya, sedangkan box satunya kosong. Tak nampak apapun selain bantal dan guling kecil.
"Rey.. Putriku.. Dimana putriku?? Kau pasti menyembunyikannya kan? iya kan? mana putriku Rey?". Teriak istriku yg semakin histeris melihat kedatanganku.
"Sebenarnya apa yg terjadi bunda? Dimana Zavi? Bagaimana mungkin ada yg berani menculik dia disini? bukankah ada kalian yg menjaganya?". Ucapku meminta penjelasan.
"Maafkan bunda Rey, tadi bunda ingin ke toilet, bunda menitipkan Zavi pada suster disini, sedangkan ayahmu sedang berbincang dengan dokter diluar. Kami benar2 tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini, sekali lagi bunda minta maaf." Ucap bunda yg masih menangis, ku lihat dia amat menyesal karena telah lalai menjaga cucu perempuannya.
Sial.. Kenapa ada orang yg tega melakukan ini? Apa maunya? Mungkinkah dia ingin menjual putriku? Atau hanya ingin mengambil organnya?
Ah.. Tidak... Ku mohon jangan. Lindungi dia Tuhan.
__ADS_1
Tanpa basa basi aku segera berlari mencari ruang keamanan rumah sakit ini, bisa2nya rumah sakit besar seperti ini kecolongan. Aku akan meminta pertanggung jawaban dari mereka. Dan jika bayiku tak kunjung di temukan, maka aku tak akan segan untuk menuntut mereka semua.