Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 81


__ADS_3

Mentari bersinar cerah dipagi hari, cuitan burung yg merdu turut hadir menyambut. Ku buka paksa mataku yg masih terasa berat dan mengantuk, sejenak aku terdiam, menatap lengan kokoh yg kini merengkuh pinggangku, rupanya dia, suami yg baru ku nikahi 24 jam yg lalu.


Ku raih jam kecil di atas meja disisi ranjangku, ternyata sudah pukul 7 pagi, aku berusaha menyingkirkan tangan Levin lalu bergegas bangun, bersiap memasak untuk sarapan kami berdua nanti.


Perlahan tapi pasti aku melangkah mencari dimana letak dapur, rumah ini begitu mewah dan luas, berdiri tegak dengan tiga lantai, dan banyak sekali ruangan yg masih belum sempat aku masuk.


Dan ya, akhirnya aku menemukan dapurnya. Aku bergegas membuka satu persatu lemari yg ada disana, lalu mencari bahan bahan yg kiranya bisa ku jadikan sarapan.


Aku menemukan beberapa sayuran, sosis, juga satu potong ayam. Setelah cukup lama berpikir aku pun memutuskan untuk memasak tumis sayuran dan ayam kecap, sederhana memang, tapi semoga saja dia akan menyukainya.


"Pagi istriku." Sapa lembut seseorang yg entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangku.


"Masak apa hari ini?". Sahutnya lagi.


"Rahasia, sekarang lebih baik kamu mandi, setelah itu kita sarapan." Tuturku tanpa menoleh ke arahnya.


"Baiklah, apapun untuk istriku." Ujarnya, mengecup pipiku sekilas lalu pergi.


Perlakuannya padaku sungguh membuatku berdebar tak karuan, suka memeluk bahkan menciumku tiba tiba. Sebagai suami istri memang wajar sih, hanya saja aku masih canggung dan belum terbiasa akan hal itu.


Dan beruntungnya, tadi malam ia tidak meminta haknya sebagai suami, ia tidak ingin memaksaku melakukannya, dan bersedia menunggu kesiapanku.

__ADS_1


Satu setengah jam kemudian semua masakanku selesai, segera ku hidangkan dan ku tata rapi di meja makan. Dan sekarang saatnya memanggil Levin untuk mengajaknya sarapan bersama.


"Wah.. Sudah siap ternyata." Ujarnya kagum sambil berjalan ke arahku.


"Hmm.. Ayo makan, semoga kamu suka."


Kami makan berdua dengan hening dan khidmat, dan bisa ku lihat sepertinya Levin menyukai masakanku. Ya syukurlah, setidaknya usahaku tidak sia sia.


"Kamu berhenti kerja aja ya". Ucap Levin tiba tiba yg kini tengah membantuku merapikan meja makan.


"Nggak, aku masih mau kerja Vin, lagi pula akan sangat membosankan jika hanya berdiam diri dirumah." Sanggahku.


"Kalau begitu kamu pindah ke kantorku." Sambungnya lagi.


"Pindah ke kantorku, atau diam dirumah?". Ucapnya sedikit memaksa.


"Levin..."


"Ayolah, jangan membatasi ruang gerakku seperti ini, aku sudah merasa betah dan nyaman dengan pekerjaanku."


Aku mencoba berbagai cara untuk membujuknya, aku lupa bahwa pria ini memiliki jiwa posesif tinggi, bukan tidak mungkin jika dia akan benar benar mengurungku nanti.

__ADS_1


"Apa karena direkturmu itu? Kau bertahan disana supaya bisa leluasa menemuinya tanpa aku tau, iya kan?". Tuduhnya kemudian.


Ya Tuhan.. Berikan aku kesabaran.


"Serendah itukah aku dimatamu Vin?". Ujarku berusaha mengontrol emosiku.


"Keputusanku masih sama, bekerja di kantorku atau tidak sama sekali."


Mendengar jawaban itu sontak membuat emosiku naik ke ubun ubun. Tanpa babibu lagi, aku segera meninggalkannya lalu pergi ke kamarku. Jika aku tetap meladeninya, berdebat dengannya, hanya akan membuatku naik darah, aku akan berusaha membujuknya lagi nanti setelah emosi kami sudah benar benar padam.


Terima kasih buat yg sudah luangin waktunya baca karya author yg masih banyak kekurangan ini.


Apalagi yg udah like vote & komen, makasih banget buat kalian.


Buat yg kurang suka atau tidak suka sama cerita saya, tidak apa apa, tidak usah dibaca.


Toh disini saya cuma nyalurin hobi.


Saya minta maaf karena saya belum bisa memberikan karya yg sesuai dengan harapan kalian.


Dan untuk sekedar info, cerita ini bakal tamat di tiga atau empat episode lagi.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih, dan maaf.


__ADS_2