
Airy pov
Setelah ungkapan Reinand kemarin entah mengapa aku jadi terharu dan tak sampai hati telah menyakitinya. Melihat perjuangannya selama ini sedikit demi sedikit membuat hatiku luluh, sepertinya aku mulai menerima dia sebagai suamiku.
Hatiku pun ikut merasa sakit kala melihat dia menangis, mungkin ini saatnya aku harus melupakan semua masa lalu kami dan memulainya dengan yg baru. Memulai lembaran baru dengan calon buah hati kami.
Siang ini Reinand pergi mengunjungi proyeknya, selain pabrik dirinya juga sedang proses membangun supermarket di kota, aku turut bersyukur melihat usaha suamiku berhasil, dia berjuang sendirian dari nol tanpa dukunganku, aku yakin dia pasti sangatlah lelah, mengurusku juga usahanya.
Maafkan aku Rey.. Maaf.. Ucapku terisak jika mengingat betapa sibuk dan lelahnya suamiku, tapi sedikitpun ia tak pernah mengeluh, selalu menunjukkan senyum cerahnya di depanku.
Mulai saat ini aku akan berusaha mengurangi bebanmu Rey, menjalankan tugasku sebagai istri, mendukung dan selalu mendengarkan keluh kesahmu. Kataku dalam hati.
****
"Kamu sudah pulang". Sambutku ramah melihat Rey sudah didepan pintu.
"Iya sayang, emm.. Kamu ngapain disini?". Ucapnya heran melihatku menyambutnya. Karena selama ini aku hanya senang mengurung diriku dikamar, dan jarang sekali bersikap ramah padanya, yaa pastilah dia merasa heran dengan perubahanku.
"Hanya ingin melakukan tugasku." Jawabku singkat.
__ADS_1
"Maksudnya?". Tanyanya tak mengerti.
"Sudah sana kamu mandilah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Ucapku mengalihkan pembicaraan dan menarik tangan Rey untuk masuk. Sungguh aku malu untuk memulainya, berusaha bersikap ramah dan manis didepannya aku tak terbiasa.
"Baiklah.. Tapi kamu jangan terlalu lelah yaa, ingat kandunganmu." Tuturnya mengingatkan lalu bergegas pergi ke kamarnya.
Hah.. ku hela nafasku panjang,
Mungkinkah aku sudah menjadi istri yg durhaka karena membenci suamiku selama ini? Aku harap kau bisa mengampuniku Tuhan. Gumamku dalam hati sambil menyelesaikan masakanku
Satu jam berlalu, beberapa masakan yg terlihat lezat sudah siap ku hidangkan. Segera ku siapkan semuanya di meja makan, dan bergegas memanggil Reinand untuk makan bersama.
Ku buka pintu kamarku perlahan, sepi.. Kemana kiranya Reinand saat ini, karena selama satu jam tadi aku tak melihatnya keluar dari kamarnya. Saat kakiku akan melangkah lebih dalam, tiba2 ada lengan kokoh yg memelukku dari belakang.
"Ah.. Iya itu.. Makanannya sudah siap, ayo makan." Jawabku gugup.
"Kalau aku maunya makan kamu, boleh nggak?". Ucapnya lagi sesekali mengecup pundak dan leherku.
Apa yg harus aku lakukan, sungguh aku sangat gugup sekarang. Aku sudah berjanji akan menjalankan tugasku sebagai istri, tapi apa harus secepat ini.
__ADS_1
"Hey.. Kok melamun? Aku hanya bercanda sayang.. ya sudah ayo kita makan."
Sepertinya Reinand kecewa, dia segera melepas pelukannya dan menggandeng tanganku untuk pergi ke meja makan.
Namun belum sempat kami benar2 keluar kamar, aku memberanikan diri menarik tubuh Reinand dan menciumnya. Aku tak tega melihat dia kecewa, sudah seharusnya aku menurutinya, melayaninya sebagai suamiku.
Menerima ciuman dadakan dariku tentu saja membuat Rey syok. Ku lihat dia hanya diam menerima perlakuanku yg tak pernah dibayangkannya selama ini. Namun beberapa detik kemudian akhirnya dia membalas ciumanku, merengkuh tubuhku dan memperdalam ciuman kami. Lembut dan manis, itu yg aku rasakan. Bibirnya perlahan turun ke leher jenjangku, meninggalkan tanda kepemilikannya disana.
Aku yg sudah terhanyut seketika melingkarkan tanganku di leher Reinand, menikmati setiap sentuhan tangan dan bibirnya di tubuhku. Dengan nafas yg memburu dan bibir yg saling bertaut ia menggiringku ke ranjangnya, mulai melepas kancing bajuku satu persatu, ah.. Kenapa rasanya bisa senikmat ini? apa aku telah jatuh cinta padanya??
Setelah puas bermain dan mencium tubuh bagian atasku, Reinand menyudahinya, merapikan penampilanku yg nampak tak karuan. Aku merasa heran, kenapa dia menghentikan permainan ini disaat kami berdua sama2 ingin.
"Maaf sayang bukan aku tak mau melanjutkan, hanya saja aku takut bayi kita kenapa2, menurut apa yg ku baca usia kandunganmu ini masih sangat rentan. Jadi lebih baik ku akhiri sebelum nanti aku benar2 tidak bisa berhenti." Ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku memberikan pengertian.
Hah.. Ternyata Reinand sangat peduli padaku dan bayi ini, ia bahkan sanggup menahan birahinya demi keselamatan kami. Aku sungguh menyesal telah berpikir yg tidak2 tentangnya.
Saat ia akan beranjak, aku memeluknya dari belakang, aku tak mampu lagi menahan air mataku, aku merasa sangat jahat padanya selama ini, sementara ia begitu mencintaiku.
"Maafkan aku Rey.. Aku sudah sangat menyakitimu." Ucapku di sela tangisanku.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, jangan menyalahkan dirimu. Aku sudah sangat berterima kasih kamu sudah mau menerimaku, sudah ya jangan menangis."