Kamulah Takdirku?

Kamulah Takdirku?
episode 79


__ADS_3

Mendengar kata pesta pernikahan sungguh membuat hatiku sakit, pikiranku melayang pada Qila yg kebetulan juga akan melangsungkan pernikahan hari ini. Apa aku bisa setegar itu melepasnya? Bisa cepat melupakannya? Ya semoga saja.


"Kak ayo cepat." Teriak adikku dari lantai bawah.


Dia begitu antusias menghadiri pesta malam ini, bahkan ia sudah bersiap dari dua jam yg lalu, entah menurun dari siapa sifat pesoleknya yg seperti itu.


Sebenarnya ingin sekali aku menolak ajakan mama untuk pergi ke pestanya paman Bima, namun mengingat kembali betapa baiknya dia padaku waktu kecil, membuatku tak enak hati, dan memilih untuk ikut hadir.


"Haihh.. Kau lama sekali kak." Protes Aldo begitu melihatku turun.


"I don't care." Jawabku acuh.


"Sudah sudah, ayo kita berangkat." Sahut papa.


****


Dan disinilah kami sekarang, pesta mewah dihotel bintang lima. Paman Bima memang benar benar luar biasa, ia mengadakan pesta yg sangat mewah untuk putra satu satunya itu.


Aku jadi penasaran bagaimana rupa putranya yg dulu pernah jadi temanku, sudah lebih dari 10 tahun sejak kami terakhir bertemu, karena beberapa alasan, paman Bima akhirnya memutuskan pindah dan tidak pernah berkunjung lagi sampai sekarang.


Suasana pesta begitu ramai, mama dan papa pun langsung mencari keberadaan paman Bima, sedangkan Aldo sudah pergi entah kemana.


Dan untukku, karena aku kurang nyaman dengan keramaian, aku memilih untuk duduk sendiri di ujung ruangan. Suasananya nampak lebih sepi dan tenang.

__ADS_1


"Kak Sam." Sapa seseorang yg tiba tiba sudah berdiri dihadapanku.


"Eh.. Kamu Nad?". Ucapku sedikit terkejut.


Bagaimana tidak, setauku Nadine tidak pernah mengenal keluarga paman Bima, tapi mengapa dia bisa disini sekarang.


"Iya Kak, mempelai wanita yg mengundangku." Jawabnya spontan, mengerti arti tatapanku yg penasaran.


"Lalu kakak kenapa bisa disini?". Sambungnya lagi.


"Oh.. Mereka teman lama orang tuaku." Jawabku jujur.


"Baiklah kak, aku kesana dulu ya, mau ngasih ucapan selamat sama mereka." Pamit Nadine lalu bergegas pergi ke tengah tengah pesta.


Dering ponsel sejenak menyadarkan lamunanku, dimana tertulis nama Aldo dilayarnya. Entah apa yg dia inginkan, tiba tiba menelponku ditengah keramaian seperti ini


"Ada apa?". Tanyaku to the point.


"Kemarilah, mama papa mencarimu. Kami berdiri dekat pelaminan." Ucap Aldo lalu mengakhiri panggilannya.


Dengan malas ku langkahkan kakiku mencari keberadaan mereka, melihat dari ujung ke ujung berharap segera menemukan orang tua dan adikku itu.


"Kakak.." Panggil Aldo sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Baru satu langkah, tubuhku tiba tiba menegang. Apa aku sedang berhalusinasi sekarang? Mengapa terlihat seperti Qila.



Perahan tapi pasti, aku berjalan mendekati keluargaku yg tengah asik berbincang dengan kedua mempelai juga paman Bima dan istrinya.


"Sam, dari mana saja?". Tegur mama yg membuat beberapa orang disana menoleh ke arahku, termasuk pasangan pengantin itu.


Deg.. Bagai luka yg sengaja disiram air garam, perih, sakit, hancur, itulah yg kurasakan.


Dia.. Ternyata bukan sekedar ilusiku, gadis itu benar benar Qila.


Jadi dialah menantu paman Bima? Dialah mempelai wanitanya?


Ya Tuhan.. Apa kau sengaja melakukan ini?


Tak hanya aku, Qila juga nampak terkejut dengan pertemuan ini. Bisa ku lihat tatapan simpatinya padaku. Ya mungkin dia merasa bersalah, karena telah menikah sementara belum memberikan jawaban apapun tentang perasaanku seminggu yg lalu.


"Selamat ya buat kalian berdua, aku harap kalian akan selalu bahagia." Ucapku berusaha tegar, mencoba tersenyum sekaligus menyembunyikan sakit hatiku.


"Iya pak terima kasih. Aku juga berharap semoga kelak kau akan mendapatkan seseorang yg baik, yg bisa mencintaimu seutuhnya." Jawab gadis manis itu dengan tatapan sendunya.


Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita Qi, aku akan pergi dan berusaha melupakanmu, doakan aku semoga berhasil ya..

__ADS_1


__ADS_2