
Setelah berkunjung dari kebun miliknya kini Reinand langsung beranjak menuju pabrik barunya yg masih dalam proses pembangunan, di sapanya para pegawai yg ada disana sembari membawa beberapa kantong makanan untuk mereka.
Reinand dikenal sebagai pribadi yg ramah juga dermawan. Ia tak pernah membeda bedakan, bahkan lebih menganggap pegawainya itu sebagai teman daripada atasan dan bawahan.
"Selamat siang semuanya.. Mari istirahat sebentar, saya bawa sedikit makanan buat kalian." Panggil Reinand sambil melambaikan lambaikan tangannya.
"Ah iya pak.."
"Baik pak sebentar.."
"Wah pak Rey.. Pake repot2 segala.."
Jawab para pegawai itu bersahutan lalu segera menghampiri Reinand.
"Silahkan bapak2 ini dimakan, maaf cuma membawa ini." Ucap Rey sopan.
"Tidak apa2 pak, bapak sudah sangat baik pada kami. Harusnya kami yg perlu berterima kasih." Jawab salah satu mandor disana.
"Setelah ini saya mungkin akan jarang kemari pak, istri saya sedang hamil, saya takut harus ninggalin dia lama2 sendiri dirumah.. Jadi yg disini saya titipkan pada kalian semua ya, jika ada apa2 tolong kabari saya" Tutur Reinand.
__ADS_1
"Wah.. Selamat pak, semoga ibu dan bayinya sehat selalu. Bapak tenang saja, kami akan menjalankan amanah bapak sebaik mungkin. Sekali lagi selamat ya pak." Ucap salah satu pegawai sambil mengulurkan tangannya memberi selamat.
"Iya terimakasih, saya percaya pada kalian semua. Kalau gitu saya pamit pulang dulu ya, istri saya sudah menunggu.. Permisi."
Setelah berpamitan Reinand pun segera pulang ke rumahnya. Ia yakin Airy pasti sudah menunggunya,, ah ralat, bukan menunggu dirinya, tapi menunggu anggur yg ia pesan sejak pagi.
****
Tepat pukul 5 sore Reinand sampai dirumahnya. Ia masuk dengan diam2 karena sengaja ingin mengejutkan Airy.
Kemudian matanya tak sengaja menangkap sosok istrinya itu didapur, berkutat dengan pisau dan sayuran ditangannya.
Dengan langkah perlahan Reinand mendekat lalu memeluk istrinya itu dari belakang.
"Kamu sedang apa?". Tanya Reinand lembut.
"Memasak".
"Tumben?".
__ADS_1
"Entahlah, mungkin bayiku yg ingin." Jawab Airy asal.
Sebenarnya Airy memasak atas keinginannya sendiri, ia merasa tak tega melihat Reinand yg setiap hari harus mengurus dirinya. Karena yg ia tahu seharusnya dialah yg mengurus suaminya bukan malah sebaliknya.
"Sudah lepas jangan menggangguku". Berontak Airy.
"Sebentar saja ya, lima menit. Aku merindukanmu Ai, ingin terus memelukmu seperti ini." Ucap Rey mengeratkan pelukannya.
"Lebih baik kamu mandi sana!! tubuhmu bau." Ucap Airy asal berusaha melepas pelukan Reinand.
"Ayolah sayang, sebentar saja.. Aku sedang merindukan istri cantikku ini." Ucapnya lagi dengan manja.
"Nggak usah lebay deh,, baru juga pisah setengah hari."
Airy yg kesal pun segera berbalik menghadap Rey, ingin sekali rasanya ia memaki pria tampan yg sedang menempel padanya ini.
Padahal jika boleh jujur sebenarnya Airy juga suka dipeluk seperti ini, merasa nyaman didekap erat oleh tubuh hangat Reinand,, namun Airy yg terlalu gengsi ia sangat enggan dan malu untuk mengakuinya.
"Lepas Rey... Kalau gini terus yg ada nggak selesai2 masaknya." Rengek Airy.
__ADS_1
"Iya baiklah.. Aku akan mandi, ayah mandi dulu ya nak, setelah itu kita makan sama2." Ucap Rey mengalah, lalu berlutut dan mencium perut Airy.