
Tidak lama datang seorang laki-laki menghampiri dia " permisi mbak, apakah anda nona Cristal" tanya laki-laki itu pada nya.
" iya saya Cristal, apa kamu pelatih disini " ucap gadis itu
" iya saya seorang pelatih disini, dan saya yang akan melatih nona " ujar laki-laki itu
Cristal agak kaget saat melihat pelatihnya yang begitu tinggi dengan wajah yang tampan dan bentuk tubuh yang atletis.
Ia memandang wajah laki-laki itu dengan cukup lama hingga laki-laki itu menyadari kalau sedang di perhatikan lalu dia pura-pura batuk untuk menyadarkan Cristal
" uhhukk... uhhukk "
Cristal mendengar itu langsung sadar "maaf ... maaf sudah membuatmu nggak nyaman"
" iya nggak apa-apa, lain kali jangan begitu lagi " sahut laki-laki itu dengan senyum kecil
Cristal dan pelatihnya kini sudah diruangan alat-alat untuk menembak, laki-laki itu segera menerangkan peralatan apa saja yang dibutuhkan saat berlatih nanti.
__ADS_1
Dorr...dorr...dorr.... suara letupan dari pistol gadis itu. Ia menembak ke arah papan yang sudah disediakan tapi selalu meleset tidak mengenai sasaran, pelatihnya yang berdiri disampingnya hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya dan mencubit dahinya.
Cristal yang melihat pelatihnya seperti itu dia hanya menoleh dan meringis karena malu tebakankan tidak tepat sasaran.
" sudah, latihan hari ini sampai disini dulu, saya masih memaklumi karena ini latihan yang pertama " ucap laki-laki itu.
" baiklah, oh ya saya belum tau nama pak pelatih " sahutnya
" kamu bisa panggil saya Leo dan jangan panggil saya pak, saya nggak setua itu Cristal " timpal leo
" iya " dengan anggukan " besok kita latihan lagi jam berapa ?" imbuh gadis itu
" Ok kalau gitu aku pamit pulang dulu pak, eh... leo"
Gadis itu segera pergi ketempat parkiran dan masuk ke dalam mobilnya, dia senyum-senyum sendiri karena memikirkan pelatinya yang tampan itu.
" ya ampun aku lupa minta nomor telepon nya Leo, dasar bodoh" ia mengerutuki dirinya sendiri sambil memukul kepalanya dengan ponsel.
__ADS_1
Segera Cristal meninggalkan tempat parkiran itu dan menuju perusahaan untuk menemui pak Ronal.
" Aku nggak ingin pegang perusahaan aku belum bisa berbisnis dan belum mengerti hal itu, sepertinya aku harus menyerahkan ke pak Ronal saja untuk mengurus perusahaan" batin Cristal saat sedang mengemudikan mobilnya itu dan memasuki area parkir perusahaan ayahnya.
Setibanya di perusahaan itu dia langsung masuk menuju ruangan pak Ronal menggunakan lift. Kini gadis itu sudah di depan pintu ruangan pak Ronal ia segera mengetuk pintunya tidak lama pintu tersebut terbuka dan gadis itu masuk ke ruangan itu.
Ia di suguhkan teh dan camilan oleh bawahannya pak Ronal.
" Tumben main ke kantor, apa ada yang bisa saya bantu mbak " tanya pak Ronal " Apa mbak Cristal sudah siap untuk menjalankan bisnis perusahaan " imbuhnya
" kedatangan saya kesini untuk membicarakan hal ini, pak Ronal kan tau umur saya masih 19 tahun saya juga belum mengerti bagaimana caranya berbisnis dan saya juga masih ingin bermain" ucap gadis itu dengan senyum manja
" Itu semua bisa mbak Cristal pelajari dari sekarang, kalau mbak mau saya bisa mengajari mbak sampai bisa "
" Tidak perlu pak. Apa bapak mau menolong saya ?"
" Saya pasti akan menolong mbak Cristal dengan sekuat kemampuan saya. Emangnya mau minta tolong apa sih mbak ?"
__ADS_1
" Beneran pak Ronal mau nolongin saya ?"