
Seperginya wanita tersebut, pak Lukman terlihat menelepon seseorang dengan serius. Setelah selesai dengan ponselnya pak Lukman juga pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dia menuju perusahaan tempatnya bekerja ya itu RB Corp. Disana sudah ada Arlan yang sedang menunggu kedatangannya dibuang kerja miliknya.
" wah... Akhirnya datang juga. Bapak kemana saja? Aku sudah menunggu dari tadi pagi." ujarnya.
" apa sudah ada kabar dari pak Ronal? " tanya pak Lukman.
" minggu depan, beliau akan datang ke Australia untuk bertemu dengan bapak. Pak apa nggak apa kita begini?" ujar Arlan dengan sedikit takut.
" Arlan, bapak ini bekerja di perusahaan RB Corp sudah hampir dua puluh tahun, dan baru sekarang pemimpin perusahaan ini tidak beres, bahkan menipu sana sini untuk kepuasan pribadi." jelasnya.
" biarkan waktu yang menjawab. Yang jelas bapak ingin menyelamatkan perusahaan ini yang sudah berada ditangan yang salah." timpalnya lagi.
" tapi pak, saya merasa takut." ujar Arlan.
" Arlan bisa mundur dari sekarang, kalau memang takut ketahuan." ucap pak Lukman.
Arlan terdiam, dia takut selagi dengan bosnya yang sekarang tapi tidak menutup kemungkinan kalau dia juga ingin membantu pak Lukman. Dia berfikir sejenak dan menatap layar laptop yang berada di depannya.
" aku akan membantu bapak, meskipun nanti aku akan dikeluarkan dari sini." ucapnya dengan tanpa ragu.
" kalau kamu sudah memutuskan, jangan pernah berfikir untuk melangkah mundur. Ingat, kita hanya tidak ingin ada kecurangan didalam perusahaan RB Corp ini, dan tidak mau juga ada yang merasa dirugikan." terang pak Lukman.
" saya mengerti pak." sahutnya.
Selesai dengan hal itu, Arlan kembali ketempatnya bekerja. DI ruangan tersebut lelaki muda itu sedang duduk dan tertunda lemas. Dia tidak menyangka kalau dirinya juga ikut terlibat, kalaupun dia berhenti sekarang juga sudah terlambat.
" berjalan maju saja, ikuti arus ini. Aku yakin semua akan baik-baik saja." gumamnya.
__ADS_1
Di rumah gadis itu masih tertidur dengan lelapnya, padahal ini sudah jam sembilan pagi.
Bu Lisa yang berada di pintu segera ia mendekati anak gadisnya dan membangunkannya dengan mengoyak tubuh Cristal yang tertutup selimut dari ujung kaki hingga setengah dari kepalanya.
" ya ampun, gadis ini tidur kayak orang mati aja. Masak pakai selimut sampai kepala begitu." ucapnya dengan heran.
" nak ayo bangun udah jam sembilan ini, nggak baik lho anak gadis jam segini baru bangun." imbuhnya.
" euhm....." suara gadis itu yang malah meringkukan badannya dan menaikkan selimut ya yang terlepas saat dia meringkuk.
Bu Lisa harus membangunkannya, bagaimanapun caranya. Karena dia akan pergi ke supermarket untuk melihat beberapa kebutuhan dapur dan dia ingin mengajak anak gadisnya itu guna menemaninya saat berbelanja. Dengan susah payah dia membangunkan Cristal.
Tidak tahan dengan gangguan dari mamanya, akhirnya gadis itu menyerah dan memaksa matanya untuk terbuka.
" mama, adik masih ingin tidur." ucapnya dengan manja.
" ayo ikut mama, kita belanja kebutuhan dapur sebentar. Ayo bangun bangun... Cepat mandi dan ganti pakaian." ujar bu Lisa.
Saat melihat Cristal berjalan ke kamar mandi tiba-tiba saja pandangan bu Lisa berhenti pada sebuah titik merah dibagian tengkuk gadis itu. Bu Lisa mengejutkan dahinya seketika.
" jangan-jangan itu cup*ng yang Leo buat? Mereka ini! Aku harus tanya ini sama Leo." ucapnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi kemudian dia berjalan menuju almari tempat bajunya yang sudah ia tata dari koper, disana dia terlihat sedang memilih baju yang cocok. Sampai pada akhirnya dia memiliki baju yang agak santai, ya dia memilih celana dan baju kaos saja, karena akan pergi belanja kebutuhan dapur dan pastinya akan membawa barang-barang yan banyak dan lumayan berat, pikirnya. Dan kebetulan juga kaos yang ia kenakan bisa menutupi titik merah yang ada di tengkuknya.
Selesai bersiap gadis itu turun dan menghampiri mamanya yang tengah duduk dibuang tengah, juga sedang menunggunya.
" mama, ayo kita berangkat." ujarnya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Bu Lisa yang terkejut dengan ucapan anak gadisnya itu yang secara tiba-tiba saja membuat telinganya berdengung.
" ayo... Kamu... Yakin? May pakai pakaian begini? Cuma pakai celana pendek dan kaos berkerah saja? " tanya bu Lisa dengan keheranan. Dia tidak habis pikir, biasanya anak perempuan yang seumuran dengan Cristal pasti akan berdandan sedikit meskipun hanya pergi belanja. Tapi kenyataannya, anak gadisnya itu malah santai bahkan juga pakai sendal jepit.
" aku yakin ma, dengan pakaian seperti ini muat adik nyaman saat belanja nanti." jawabnya dengan penuh keyakinan.
Akhirnya mereka berangkat ke sebuah supermarket, dimana tempat itu adalah tempat biasa bu Lisa berbelanja kebutuhan dapur.
Sesampainya di supermarket tersebut, keduanya turun dari mobil yang mereka kendarai. Diparkiran banyak orang yang melihat kearah mereka, bu Lisa yang tau kalau sedang diperhatikan dan dilihat banyak orang membuatnya sedikit risih. Namun lain halnya dengan Cristal yang benar-benar cuek bebek akan orang-orang yang menatap dia.
" mama, adik tau mama pasti risih dengan mereka yang melihat kita kan? Jangan harapkan mereka ma, ayo kita cepat pergi belanja." ujar gadis itu.
Bu Lisa menganggukkan kepalanya dan mengikuti anak gadisnya itu. Tidak sampai disitu, didalam saat mereka berbelanja dan memilih-milih jenis sayur dan lainnya banyak juga yang memperhatikannya. Sampai pada saat pembayaran di kasir.
" berapa yang harus saya bayar?" tanya bu Lisa pada petugas kasir tersebut.
" semua total 560 ribu bu." jawab kasir itu dengan menyebut angka yang harus dibayar.
Bu Lisa memberikan sejumlah uang " ini, tolong dihitung lagi."
" anaknya model ya bu? Cantik sekali dan tinggi lagi. Benar-benar seperti model." ujar kasir itu sambil menghitung uang kembalikan dan memberikannya kepada bu Lisa.
" iya saya model, model pupuk kandang." sahut gadis itu, yang langsung membuat orang-orang yang berada dekat dengannya itu tertawa ngakak.
" mana ada model pupuk kandang senantiasa kamu." ujar seorang lelaki muda yang sedang menunggu antrean untuk membayar disampingnya.
Gadis itu hanya tersenyum malu.
__ADS_1
Bu Lisa yang selesai dengan pembayarannya, segera dia mengajak anaknya itu pergi dari sana.
Benar saja barang-barang yang dibawa sangat banyak bahkan mereka harus meminjam troli untuk tempat belanja mereka dan dibawa sampai ke mobil ya yang berada diparkiran.