
Kini Leny dan Reyhan sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Leny. Mereka terbenam dalam pikirannya masing-masing, didalam mobil tidak seorangpun dari mereka yang berbicara sepatah kata pun, Leny yang terus melihat keluar jendela dan Reyhan yang serius dengan menyetir kendaraannya.
" apa yang harus aku buktikan ke dia agar dia bisa menerimaku? Masak iya aku harus digantung kayak gini?" tanya Reyhan pada dirinya sendiri dalam hati.
Terkadang mereka juga saling melirik satu sama lain. Entah apa yang mereka lakukan, kenapa tidak mengobrol seperti biasanya saja? Mungkin karena Reyhan habis menyatakan perasaannya, jadi ada sedikit rasa canggung diantara mereka.
Kini lelaki ini memarkirkan kendaraannya tepat didepan rumah gadis yang tengah duduk disampingnya.
" Leny, apa kamu nggak mau pulang?" tanya Reyhan yang membuyarkan pandangan Leny seketika.
Dengan gugup Leny menjawab "pulang pulang aku pulang. Kita udah sampai kah?"
" kita sudah sampai di depan rumahmu, coba tengok itu pintu gerbang rumah siapa?" tanya Reyhan dengan gemas.
" ah iya ini ini pintu rumah ku. Aku turun sekarang. Terimakasih sudah mengantar." sahut gadis itu kemudian membuka pintu mobil dan langsung keluar. Dia salah tingkah?
" oke, sampai ketemu besok ditempat kerja. Bye bye" kata Reyhan dari dalam mobil.
" ok bye. " sahutnya
Di kediaman pak Ronal, terlihat seorang gadis sedang menikmati makanan yang sudah dibawakan oleh Bu Lisa. Cristal memakan soto yang berada dalam mangkuk didepannya tersebut dengan lahapnya, bahkan dia tidak menghiraukan Leo yang sedang makan juga disampingnya. Gadis itu lebih fokus pada makanan yang ia makan.
" pa kok tiba-tiba mama kasihan sama Cristal ya, setelah melihatnya makan seperti itu." ucap bu Lisa pada suaminya yang duduk dekat dengannya dimeja makan. Wajah bu Lisa tidak bisa gambarkan saat melihat anak gadisnya makan.
Begituan juga Leo yang tertegun dengan tingkah kekasihnya itu, Bagaimana tidak? Gadis itu makan soto ayam tanpa memakai sendok, malah dia meminumnya langsung dari mangkuk tersebut.
" Cristal, apa kamu kelaparan? Sangat kelaparan kah?" tanya Leo pada gadis itu dengan wajah yang tidak bisa di gambarkan. Dia heran ini pertama kalinya dia melihat seorang gadis makan seperti orang bar-bar.
" nak apa seenak itu sotonya? " tanya pak Ronal dengan heran juga.
" hehem...ini sangat enak pa." jawab gadis itu yang masih ada makanan dalam mulutnya.
__ADS_1
" apa dia hamil? " pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul dalam pikiran bu Lisa, namun ia harus membuktikannya kalau anak gadisnya itu hamil atau tidak.
" ya sudah papa naik dulu, mau siap-siap buat besok berangkat ke Australia." pamit pak Ronal pada istri dan kedua anaknya.
" papa ke Australia? Ada perlu apa pa?" tanya Leo dengan terkejut namun ia sembunyikan.
" Iya... Ini kan juga masalah kantor, kamu dan Reyhan yang mengurus perusahaan disini, diluar sana biar papa yang menangani." ujar pek Ronal dengan santai.
Gadis itu sudah mengerti apa yang dimaksud oleh pak Ronal.
" semoga cepat selesai urusannya pa, dan papa juga bisa kembali dengan cepat." kata Cristal.
" iya nak, oh ya sepulang papa dari sana kita bahas pertunangan kalian bagaimana? " ujar pak Ronal.
Leo dan Cristal terkejut dengan apa yang diucapkan oleh pak Ronal. Untuk sekarang mereka masih belum memikirkan untuk menikah, mereka masih ingin menikmati masa pacarannya.
" pertunangan? " tanya Leo.
" kita bahas nanti saja kalau papa udah datang dari Australia." sahut bu Lisa.
Pak Ronal segera pergi ke kamarnya begitu juga dengan bu Lisa yang mengikutinya dari belakang.
Kini tinggal Leo dan Cristal ditempat itu. Leo sedikit ragu untuk bertanya pada kekasihnya, dia takut kalau gadis yang ia sayang itu tersinggung akan pertanyaan darinya.
" Sayang, kenapa kamu makannya seperti tadi? Seperti orang ngidam tau nggak? Apa bulan ini kamu sudah datang bulan?" Leo bertanya dengan sangat hati-hati.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
" aku sudah datang bulan sekitar dua minggu yang lalu. Aku juga tidak dalam keadaan hamil. Dan kalau aku makannya seperti tadi, itu karena aku merasa lapar sekali." jawab gadis itu dengan jujur.
Entah kenapa perasaan Leo merasa lega setelah mendengar jawaban dari kekasihnya itu.
__ADS_1
" sepertinya idenya papa boleh juga." lanjut gadis itu lagi.
" ide? Ide apa?" tanya Leo kebingungan.
" ide... Ide tentang pertunangan kita!" jawab Cristal.
" apa kamu sudah siap? Dan kamu sudah yakin akan hal ini?" tanya Leo tidak percaya.
" Sayang, aku sudah siap dan aku meyakini apa yang aku yakini. Dan juga, apa kita pernah bilang ke papa tentang hubungan kita? Pada akhirnya kan papa tau semuanya sendiri tanpa kita bicara. Dan yang membuat aku bahagia adalah ketika papa dan mama sudah merestui hubungan kita." ungkap gadis itu dengan yakin.
" kalau memang itu mau kamu, aku akan mengikutimu, yang terpenting bagiku adalah kamu bahagia." sahut lelaki tersebut.
Gadis itu segera beranjak dari duduknya lalu membereskan beberapa peralatan makan yang diatas meja dan membersihkan meja tersebut.
Melihat kekasihnya sedang membersihkan meja, Leo tersenyum dengan lebar.
"sepertinya memang sudah siap jadi istri." ucap Leo dalam hatinya. Dia memperhatikan gadis itu dari membersihkan meja hingga mencuci piring. Kemudian dia pergi menghampiri Cristal lalu memeluknya dari belakang.
Cristal tersentak akan tindakan Leo yang tiba-tiba memeluk dirinya. Perasaannya sungguh bahagia.
" kalau begini benar-benar seperti seorang pasangan yang baru berubah tangga. Tenang Cristal sebentar lagi juga kamu akan menikah dengannya." ucap gadis itu dalam hati.
" apa kamu nggak capek? "tanya Leo.
" capek? "
" iya. "
" tapi aku tidak merasa capek."
Leo tetap khawatir dengan keadaan kekasihnya itu, apa lagi setelah perhelatan semalam yang mereka lakukan, ditambah mereka begadang dan tidur pada saat menjelang pagi.
__ADS_1
" apa kamu yakin? " tanya Leo lagi.
" Sayang, aku benar-benar tidak apa-apa! " kata Cristal berusaha meyakinkan kekasihnya itu. Dia tau kalau lelaki yang berada didepannya itu sedang mengawatirkan dirinya. Tapi memang dia tidak apa-apa dan malah dia seperti baterai yang baru saja di isi dengan daya yang penuh.