
Sesampainya di mall yang berada ditengah kota tersebut, Leny dengan senyum lebar dia memasuki mall dan tentu saja menggandeng tangan Cristal seakan tidak mau melepaskannya.
Cristal hanya mengikuti kemana arah Leny pergi, sampai pada akhirnya mereka mendaratkan bokongnya dikursi yang tersedia di tengah mall tersebut. Berbekal minuman cup dan jajanan yang mereka beli disekitar tempat mereka duduk.
" Leny, kamu kejam sekali. Ini melelahkan sekali tau nggak? Kaki ku terasa kebas." rengek Cristal pada Leny sembari memijit-mijit kakinya.
" sudah, anggap saja olahraga." sahut Leny dengan santai.
Cristal hanya menghela nafasnya, dia pasrah saja apa yang dibilang oleh sahabatnya itu.
Beberapa waktu kemudian merekapun beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk pulang kerumah.
Seperti biasa Cristal mengantarkan Leny pulang kerumahnya barulah dia kembali pulang, namun kali ini gadis itu bukan pulang kerumah orang tua angkatnya melainkan pulang ke rumah lamanya. Tidak lupa juga dia memberikan kabar kepada bu Lisa kalau malam ini dirinya menginap dirumah lamanya. Disana dia disambut oleh mbok Mira, asisten rumah tangga yang paling lama ikut dengan orangtuanya dulu.
" selamat sore Nona Cristal, selamat datang dirumah lagi. Mbok siapkan kamarnya sebentar ya." sapa mbok Mira padanya ketika dirinya baru menapaki ruang tamu dirumah itu.
" iya mbok." sahutnya.
Setelah melihat asisten tersebut pergi menuju kamar dimana dia akan tidur, Cristal berjalan menuju dapur membuka lemari pendingin dan mencari-cari makanan ringan untuk mengganjal perutnya yang sedikit lapar. Dia pun menemukan kue brownis yang berada dipiring lalu diapain mengambilnya dan memakannya.
Beberapa saat kemudian mbok Mira datang setelah selesai membereskan kamar. Betapa terkejutnya asisten itu saat tau kalau kue yang berada dipiring sudah dilahap habis oleh nona mudanya.
" nona, apa tidak takut pusing setelah makan kue brownis itu? Coklatnya sangat pekat dan rasanya juga terlalu manis . Mbok Mira saja pusing habis makan kue itu meskipun hanya makan 1 potong saja." ujarnya.
__ADS_1
" Mungkin mbok, tapi aku minum kopi pahit kok. Jadi semoga saja, bisa seimbang... Hehehe... " sahut gadis itu dengan cekikikan.
" mau dimasakin apa non?" tanya mbok Mira yang mengambil piring kosong tempat kue tersebut.
" apa saja mbok. Tapi masaknya nanti saja, aku mau istirahat sebentar." pungkasnya lalu meninggalkan dapur tersebut menuju kamarnya.
Kemudian mbok Mira melanjutkan pekerjaannya seperti biasa yang membersihkan tiap-tiap ruangan dirumah itu.
Dikamar, Cristal langsung melemparkan tubuhnya ke kasur yang ia rindukan itu lalu melihat handphone nya dan memainkan beberapa permainan yang tersimpan di ponselnya. Tak lama kemudian dia pun tertidur dengan lelap, lantaran ia kelelahan karena diajak Leny sahabatnya itu untuk berkeliling di 2 tempat yang sempat membuat kakinya kebas.
Terlihat Leo dan Reyhan memasuki hotel dimana mereka akan menikah disana.
" Rey, mau makan apa kita malam ini?" tanya Leo pada lelaki yang sedang memilih pakaian untuk ganti.
" apa aja boleh Ley, yang penting kenyang." sahutnya dengan santai juga masih sibuk memilih baju.
" nyari baju ganti. Emangnya kamu nggak ganti? Mau nyari makan pakai baju rapi begitu. Yang santai sedikit dong." pungkasnya setelah mendapatkan baju lalu mengenakannya.
" ya gantilah, masak enggak. Tunggu!" sahut Leo kemudian mengambil baju di koper nya lalu mengganti pakaiannya dengan kaos putih berkerah.
" selesai. Ayo berangkat." lanjutnya lagi.
Merekapun keluar dari hotel tersebut dan mengendarai mobil yang sudah mereka sewa sebelumnya. Dalam perjalanannya, mereka melihat restoran Jepang. Tanpa ada kata Reyhan yang mengemudikan mobilnya langsung membelokkan kearah restoran itu.
__ADS_1
Hidangan yang mereka pesan pun datang. Kedua lelaki itu memesan 2 porsi udon dan 2 porsi takoyaki. Dengan lahap mereka menyantap makanan tersebut. Bahkan tidak ada sepatah katapun dari mulut mereka. Keduanya sama-sama menikmati hidangan tersebut.
Selesai dengan makanan, Merekapun memilih untuk kembali ke hotel. Namun saat di perjalanan Leo tiba-tiba saja meminta Reyhan untuk berkeliling kota perth.
" Rey, bisa kita berkeliling sebentar dikota ini untuk menikmati suasana malam." Pintanya Leo.
" oke." jawab Reyhan yang menyetujui permintaan sahabatnya itu.
Akhirnya mereka melakukan perjalanan malam berkeliling kota tersebut. Tanpa disadari Reyhan ternyata Leo sudah memejamkan matanya saat dia tidak sengaja menoleh kearah Leo.
" ya, malah tidur. Jangan bilang dia tidur sudah dari tadi." umpat Reyhan dengan mengemudikan mobilnya menuju arah hotel.
Beberapa menit kemudian kedua lelaki itu sampai diparkiran hotel. Reyhan membangunkan Leo yang tengah terlelap tidur itu.
" Ley Ley bangun Ley, kita udah sampai." ucap Reyhan dengan menggoyankan pundak Leo agar terbangun dari tidurnya.
Mereka badannya ada yang mengoyak, Leo pun terbangun. Dia mulai bingung saat membuka matanya, dua melihat Reyhan sejenak lalu melihat sekeliling.
" dimana ini? " tanyanya dengan wajah bingung.
" kita diparkiran hotel. Ayo turun terus istirahat dikamar. Kamu ini ngajak jalan keliling malah tidur. Gimana sih? Kalau ngantuk gitu mending kita pulang dari tadi Ley." pungkas Reyhan dengan sedikit kesal.
" iya sorry, habis aku capek sekali tapi pengin jalan-jalan. Gimana dong? Ya mau nggak mau kamu harus berlapang dadalah sedikit, mengantar sahabat baikmu ini mengelilingi kota ini. Iya kan? " ujar Leo dengan nada menggoda lelaki yang masih duduk dikursi kemudi.
__ADS_1
" sudah ayo masuk, capek aku. Jangan minta yang aneh-aneh." ujar Reyhan lalu turun dari mobil yang mereka tumpangi diikuti oleh Leo yang juga turun dari mobil tersebut.
Leo pun mengikuti Reyhan masuk kedalaman hotel tempat mereka menginap layaknya seorang anak yang mengikuti ayahnya dari belakang. Tidak lama mereka sudah sampai di depan pintu kamar mereka. Saat Reyhan akan membuka pintu dengan menscan kartu kamarnya, namun gagal. Dia mencoba berkali-kali tapi tetap saja gagal. Sampai pada Leo mulai kesal dan meminta kartu tersebut lalu melihatnya, di kartu tersebut tertuliskan angka 304 yang artinya kartu itu hanya digunakan untuk kamar nomor 304. Saat Leo melihat nomor kamar yang tertera pada pintu tersebut, membuatnya ingin tertawa.