
Kini saatnya pak Ronal berangkat ke Australia, terlihat dia sedang dibandara dengan membawa koper besar. Karena kemungkinan dia akan disana hingga 1 minggu.
Di bandara pak Ronal diganti oleh bu Lisa dan juga Cristal. Mereka saling memeluk satu sama lain.
" nak, kamu sebentar lagi nggak perlu takut, karena tidak akan ada lagi yang mengganggu kamu juga menerormu melalui pesan email bodong." ujar pak Ronal.
Gadis itu hanya terdiam dan melihat kepergian papa angkatnya. Dia tidak tau lagi harus bilang apa selain mengucapkan semoga selamat sampai tujuan dan itu pun dari dalam hatinya.
Bu Lisa yang melihat anak gadisnyabitu dia langsung memeluknya dan mengusap-usap pundaknya.
" semua akan baik-baik saja. Papa pasti sudah tau apa yang terbaik untuk anaknya." hibur bu Lisa pada gadis itu.
" iya ma, Cristal percaya kok sama papa." sahutnya.
Saat ini Leo, Cristal dan bu Lisa sudah berada didalam mobil. Mereka meninggalkan bandara tersebut dan pulang kerumah. Ditengah perjalanan bu Lisa mengajak kedua anak itu untuk mampir ke sebuah restoran betawi.
" Ley, kita mampir ke restoran betawi ya. Mama lagi pengen makan makanan khas betawi." ujar bu Lisa
" mama ngidam ya? Wah aku bakal punya adek... Hehehe... " gada Leo pada mamanya.
" ngidam ngidam... Harusnya kalian tuh cepetan nikah biar papa sama mama bisa menimang cucu!" ucap bu Lisa.
Mendengar kata nikah, Leo dan Cristal saling pandang untuk sesaat,kemudian mereka kembali mengarahkan pandangannya kedepan lagi.
" kenapa? Mama nggak salah bicara kan? Dan mama pikir kalian juga sudah melakukannya. Tidak perlu risau dengan mama. Mama masih bisa diam kok. Makanya cepetan nikahnya, ya!" kata bu Lisa lagi.
Pipi gadis itu menjadi merah merona lantaran ucapan dari mama angkatnya itu. Dia tidak menyangka kalau bu Lisa mengetahui hal-hal yang seperti itu tanpa ia cerita.
" kok mama bisa...... Mungkin Leo yang bercerita! Tapi tidak mungkin juga dia cerita hal begitu pada mama kan?" ucap gadis itu dalam hati.
Lain halnya dengan Leo yang menahan tawanya karena kata-kata yang benar adanya di ucapkan oleh mamanya.
__ADS_1
" kita sudah sampai." kata lelaki itu untuk mengalihkan topik, meskipun memang mereka sudah sampai di restoran.
Mereka bertiga turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restoran tersebut, kemudian mencari meja kosong untuk mereka duduk. Tidak lama setelah mendapatkan meja mereka dihampiri oleh pegawai disana.
" permisi, mau pesan apa?" tanya pegawai itu dengan membawa bolpoin dan juga buku kecil yang bias ia gunakan untuk mencatat pesanan.
" saya mau kerak telor, soto betawi dan es..es... Es apa ya enaknya?" ucap bu Lisa, lalu ia bertanya pada kedua anaknya untuk minumannya.
" es teh tawar 2 terus sependapat mayang 3 sama pecak lele. Itu saja." sahutnya Leo dengan cepat.
" pecak lele buat siapa?" tanya gadis itu.
" buat kamu. Dan setelah tawar buat kamu juga dan mama." jawab lelaki itu dan tidak mau dibantah.
Gadis itu memutar bola matanya, dia ingin sekali marah dengan Leo yang tidak mau diskusi dulu untuk makanan yang harus ia pesan, karena ia tidak terlalu begitu suka dengan ikan lele mengingat ikan tersebut ada kumisnya dan itu membuatnya sedikit aneh.
Akhirnya makanan yang mereka pesan pun sudah datang dan sedang disajikan oleh pramusaji dari restoran tersebut
" terimakasih banyak. " sahutnya bu Lisa.
Segera mereka menyantap hidangan tersebut hingga tandas. Mereka sangat menikmati makanan tersebut apalagi dengan bu Lisa yang memang ingin sekali memakan hidangan khas betawi itu, dia sangat menyukainya.
Selesai dengan hal itu, mereka bertiga pergi meninggalkan restoran kemudian mereka pulang kerumah.
Dirumah, bu Lisa yang baru saja keluar dari mobil langsung berjalan lebih dulu menuju kamarnya, dia akan beristirahat untuk sebentar saja sampai jam 5 sore setelah itu dia akan masak untuk makan malam.
" mama duluan ya, mama mau istirahat." pamit bu Lisa.
" iya ma." jawab Leo dan Cristal secara bersamaan.
Kedua sejoli itu pun memutuskan untuk berjalan-jalan di taman di lingkungan rumah tersebut. Mereka bergandengan tangan, melangkahkan kaki menuju ayunan yang letaknya ditengah-tengah taman itu dan mereka pernah kesana saat malam waktu itu.
__ADS_1
Gadis itu duduk di ayunan tersebut dengan memejamkan matanya, menghirup segarnya udara saat sore hari ditemani sang kekasihnya yang berdiri dibelakanya sambil memeluk dirinya dengan erat dan tentunya penuh kasih sayang.
Leo yang juga menikmati momen seperti ini, perasaannya sungguh bahagia sekali. Tiba-tiba saja ia ingin mengerjai kekasihnya itu. Dia membungkukkan sedikit badannya kemudian meniup telinga gadisnya hingga memerah.
Cristal merasa panas ditelinganya, segera ia membuka matanya dan melihat ke samping kiri ternyata lelakinya itu sedang menuip-niup telinganya. Tanpa pikir panjang tangannya melayang ke arah mulut Leo yang masih manyun yang siap meniup telinganya lagi.
Plaakkk....
Suara pukulan yang sedikit pelan namun sakit, bahkan membuat Leo memegangi mulutnya karena terasa panas karena pukulan yang diberikan oleh gadisnya.
" kenapa mulut aku dipukul sih?" tanya Leo dengan gemas.
" Sayang, kamu sudah menggoda. Dengan cara kamu meniup telinga ku, itu membuatku geli. Dan itu rasanya tidak enak." ujar gadis itu dengan memasang wajah garang.
" tapi ekspresi wajah kamu lucu sayang. Aku sangat terhubung melihatnya." godaan lelaki itu lagi.
Karena merasa sangat amat gemas dengan tingkah lelakinya itu, dia pun ingin membalasnya.
" awas nanti malam ya, aku kerjain kamu sampai terkencing-kencing di celana." ucap Cristal dalam hati.
" hehehe.... Hehehehe." suara tawa gadis itu.
Leo yang sadar akan suara tawa dari kekasihnya, dia pun mulai mencurigai kalau gadis yang didepannya itu sedang merencanakan sesuatu untuknya untuk malas perbuatannya tadi. Tapi dua tidak ambil pusing, dia lebih memilih untuk mengikuti alur permainan kekasihnya entah nanti atau malam hari saat dia tertidur kekasihnya akan menjalankan rencananya itu.
" kamu sedang ngetawain apa sayang?" tanya Leo.
" oh tidak tidak, tidak ada." jawab gadis itu dengan gelagapan.
" ayo kita pindah dari sini. Bagaimana kalau kita jalan kesana saja." Pintanya gadis itu.
" ayo, kita akan mengelilingi rumah ini sampai kamu capek." sahutnya Leo yang menuruti permintaan gadisnya tersebut.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menyusuri jalan kecil yang mengelilingi rumah besar itu.