
Kemudian Leo mendekatkan tubuhnya pada Reyhan.
" Rey, kita salah kamar." bisik Leo pada Reyhan, memberitahu kalau mereka sudah salah kamar.
" masak sih, enggak lah. Orang bener ini kamar kita kok." elak Reyhan tak percaya dengan ucapan Leo.
Kemudian Leo memperlihatkan nomor pada kartu tersebut dan juga menunjukkan nomor pada pintu kamar itu.
" kamu lihat ini, di kartu tertulis nomor 304 sedangkan di pintu ini nomor 204." ucap Leo menunjukkan kartu itu.
" jadi?" tanya Reyhan pada Leo tidak percaya.
" kita salah kamar. Ayo naik kelantai berikutnya." ajak Leo dengan menarik tangan.
Reyhan menggosok rambutnya hingga terlihat acak-acakan, dia tidak percaya kalau sampai bisa salah kamar seperti itu.
Tidak lama mereka sampai dikamarnya, Leo segera membersihkan diri agar bisa tidur lebih nyenyak lagi. Namun berbanding terbalik dengan Reyhan yang langsung menabrakkan dirinya keatas kasur tersebut dan memejamkan matanya.
Pagi ini Cristal terlihat sedang bermalas-malasan diatas kasurnya. Dia melihat ponselnya dan tidak ada panggilan ataupun pesan dari sang kekasih. Dia menunggu kabarnya dan juga yang pasti merindukan suaranya. Namun ia tetap berfikir positif.
" Mungkin dia sedang sibuk." ucapnya dengan percaya.
Dirasa sudah cukup untuk bermalas-malasannya, dia mulai beranjak dari tidurnya. Dengan rambut yang masih berantakan ia pergi kedapur yang langsung disambut oleh mbok Mira disana.
" pagi non, mau dibuatkan roti selai dan susu? " mbok Mira menawarkan sarapan paginya.
" emh.... Boleh deh mbok." jawab gadis itu yang sempat berpikir sejenak lalu menyetujuinya.
Mbok Mira segera membuatkan roti selai dan juga susu hangat. Setelah selesai membuatnya, segera menyajikannya diatas meja.
Gadis itu segera menyantap sarapannya dengan perlahan hingga tandas tak tersisa. Setelah menyelesaikan sarapannya, Cristal pergi keluar rumah dan melihat sekeliling untuk menikmati udara segar dihalaman rumahnya.
Dia pun melihat bunga teratai yang baru saja mekar tadi pagi di kolam air mancur yang terletak di halaman depan rumah tersebut. Dia menyentuh bunga itu, dia juga ingin memetiknya namun ia urungkan niatnya. Dia lebih suka memperhatikan keindahan yang sudah tersedia disana.
Merasa lelah dan sudah puas melihat-lihat lingkungan rumah yang ia rindukan, gadis itu kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di tempat lain, bu Lisa sedang sibuk memasak untuk makan siangnya sekalian membawakan bekal makan siang suaminya kekantornya. Namun ia juga menyiapkan untuk anak perempuan kesayangannya. Ya dia adalah Cristal yang juga kekasih putranya.
Selesai dengan memasak, segera ibu yang gaul itu memasukkan hasil masakan ya kedalam rantang kecil yang akan diberikan kepada suami dan anaknya.
Tidak lama kemudian, bu Lisa sudah sampai di kantor tempat suaminya bekerja. Segera ia masuk dan menuju keruangan suaminya membawakan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya.
" selamat pagi " pak Ronal mendengar ucapan salam dari arah pintu, dengan cepat dia mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.
" kok mama, nggak bilang kalau mau datang? " ujar pak Ronal.
" mama cuma sebentar kok pa disini. Oh ya, ini mama bawakan makanan buat papa untuk makan siang." sahut bu Lisa yang langsung meletakkan rantang yang dipegangnya diatas meja.
" kenapa begitu? " tanya suaminya dengan sedikit bingung.
" mama mau kerumah lama Cristal pa, berkunjung kesana sekalian bawakan makanan." jawab bu Lisa dengan mengangkat rantang yang dipegang sebelah kiri itu.
" oke. Hati-hati ya ma." ucap suaminya dengan senyum.
" kalau begitu, mama berangkat dulu." segera bu Lisa meninggalkan ruangan tersebut.
" nggak ada Reyhan nggak seru.!" celetuk Revi dengan bibir yang dibuat manyun olehnya.
" namanya juga kerja, dia harus mengerjakan segalanya dengan profesional dong." sahut Monica dengan santai.
" ini nggak ada kerjaan apa gitu." ucap lelaki yang sedang memutar kursinya kekanan dan kekiri.
Monica terkejut dengan ucapan temannya itu. Tumben-tumbenan dia minta pekerjaan.
" kamu mau ada kerjaan?" tanya perempuan itu yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Revi.
" kamu bisa mengepel ruangan ini dengan kain pel. Kan dapat kerjaan." lanjut Monica dengan menunjuk seluruh ruangan tersebut.
" kenapa kamu sangat menjengkelkan! " sahut lelaki itu dengan kesal.
Monica hanya bisa tertawa melihat ekspresi dari rekan kerjanya itu.
__ADS_1
Dua minggu kemudian.
Reyhan dan Leo beru saja turun dari pesawat. Mereka berjalan menuju pintu keluar dibandara tersebut. Mereka segera memasuki mobil taxi yang memang sudah berada di area bandara. Didalam mobil, mereka sangat lelah sekali dan terlihat dari wajah mereka.
" maaf pak, kemana saya harus mengantar bapak? " tiba-tiba suara supir taxi memecah keheningan.
" ke cafe yang disimpang lima" sahut Reyhan masih memejamkan mata.
" kenapa tidak pulang dulu pak, bapak kelihatan kecapean sekali." sahut sopir itu.
Leo yang mendengar ucapan sopir tersebut segera menyipitkan matanya dan memperhatikan sopir taxi tersebut.
" Sayang, apa kamu tidak menanyai aku capek atau tidak? " ucap Leo dengan sedikit senyuman.
Reyhan terkejut dengan apa yang dikatakan orang disampingnya itu, kemudian dengan cepat menarik topi yang dikenakan oleh sopir tersebut dari atas. Dan benar saja setelah topi itu ditarik, rambut panjang sedikit pirang jatuh dengan indahnya.
Reyhan memicingkan matanya, dia tidak habis pikir kalau sopir tersebut adalah Cristal.
" kenapa kamu menyamar jadi sopir?" tanya Reyhan dengan sedikit bingung.
" dan siapa yang memberitaumu kalau kami akan sampai di jakarta siang ini? " sahutnya lagi.
" dari Leny dong, emang dari siapa lagi." jawab gadis itu dengan santai.
" ok mbak supir, tolong ke kafe yang disimpang lima." ucap Leo yang pura-pura ketus.
" baik pak." sahut gadis itu dengan memanyunkan bibirnya.
" bawel!" sahutnya lagi. Kemudian dia melajukan mobilnya dengan kencang menuju kafe yang dimaksudkan.
Sesampainya di Cafe, ketiga orang itu memesan beberapa camilan dan tentu saja kopi americano.
" apa sudah selesai pekerjaan kalian yang di Australia?" tanya Cristal dengan sedikit ragu.
" semuanya sudah selesai. Jalan kedepannya pasti aman." jawab Leo sembari meneguk kopi yang berada ditangannya.
__ADS_1