Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
10


__ADS_3

°


~


Di suatu tempat, nampak seseorang tengah mengawasi orang lain secara diam diam bak seorang penguntit.


Ia menyembunyikan dirinya agar tidak satu orang pun yang mengetahui keberadaan nya. Entah apa tujuannya, namun apapun itu, yang jelas apa yang dilakukannya adalah salah.


"Ho,, jadi begitu ya,, pantas saja selama ini kau masih bisa bertahan. Meskipun aku percaya kau mampu menjalaninya, tapi,, aku tak menyangka jika kau akan mengalami kemajuan yang begitu hebat.


Pantas saja hidupmu seolah lenyap bak di telan bumi, rupanya,, kau telah menjadi seorang yang berkuasa sekarang.


Tidak heran cukup sulit bagiku untuk mencari keberadaan mu. Baiklah,,, kita lihat sampai mana kau akan menjaga pertahanan mu untuk kedepan."


Orang tersebut terus mengamati bangunan megah di seberangnya dengan pandangan sinis.


"Tidakkah kau merasa lelah? Mengapa tak berpikir untuk menyerah dan melupakannya?!"


Tiba tiba saja orang lain membalas gumamnya, yang entah dari mana datangnya. Yang nampakknya menyulut perasaan marah si penguntit pada laki laki di belakangnya.


"Hemph.!!! Kau selalu saja mengurusi urusan ku. Apa kau tak lelah menjadi pengganggu?


Apa kau setidak tahu malu itu? Jangan pernah berpikir jika apa yang selama ini kau lakukan untukku, bisa membuatku memandang mu. Kau tidak pantas bersamaku. Apa kau masih belum sadar hah?!!"


Ucapan yang terlampau kasar itu kembali untuk kesekian kalinya, tertuju untuk laki laki yang menegur si penguntit itu.


"Aku hanya melakukan apa yang menurut ku benar, dan membenarkan yang salah.


Jika aku menjadi dirimu, mungkin aku akan merasakan lelah telah menyiakan nyiakan waktu ku sepanjang hidup ku hanya untuk mengganggu orang lain. Jika kau berpikir aku serendah itu mempermalukan diriku, kau salah,, justru kaulah yang tak memiliki nya."


Pria tersebut membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan penguntit, tanpa melihat tatapan marah darinya.


"Ah,, ya. Satu hal lagi yang harus kau ketahui. Tentang semua perlakuanku selama ini, bukan semata atas kemauan ku, juga bukan karena aku berharap untuk bisa bersama mu.


Itu semua hanya bukti aku menepati janjiku untuk seseorang. Seseorang yang lebih pantas untuk bersama ku, jadi sadarlah,, kau bukanlah seseorang yang memiliki hatiku."


Setelah selesai dengan kalimatnya, pria tersebut melangkahkan kaki meninggalkan si penguntit yang terengah tengah merasakan kekacauan dalam hatinya.


°


~ Kediaman Chen.


"Jiě, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kelelahan,"


Cc memandang khawatir pada sang Jiějiě yang terlihat pucat.


"Tidak,, Jiějiě baik-baik saja,, lebih baik kita berangkat sekarang, Jiějiě tak sabar ingin bertemu a Yi.."


"Tapi Jiě,, wajah mu terlihat pucat. Kita masih bisa menjenguknya esok Jiě, aku hanya mengkhawatirkan keadaan mu saja, aku tak ingin kau jatuh sakit."


"Tidak apa Cc,, Jiějiě akan baik baik saja, tenanglah.. Jiějiě tak bisa menunda waktu lagi, perasaan Jiějiě menjadi tidak enak sejak tadi. Jadi tolong,, jangan tahan Jiějiě."


"Ba,baiklah... Maafkan aku Jiě."


Cc kembali pasrah saat dirinya hanya bisa menuruti apa yang sang Jiějiě inginkan. Karena akan sia sia jika ia terus menahan atau menolak, sang Jiějiě tetap akan nekat pergi meski kondisi tubuhnya tidak baik.


~Rumah sakit [II]


Tibalah keduanya di rumah sakit di mana a Yi di rawat.


"Apa kau masih sanggup Jiě,? Jika lelah kita istirahat dulu sebentar."


Cc tak hentinya di buat khawatir melihat a Lin yang terlihat lemah, namun terus memaksakan diri.


"Tidak, kita lanjut saja. Lagi pula kita sudah sampai rumah sakit, jadi sebaiknya kita lanjutkan, itu akan lebih mengurangi waktu juga tenaga, Jiějiě akan beristirahat nanti setelah bertemu a Yi."


"Heumm,, baiklah.."


Lagi lagi Cc hanya pasrah mengikuti sang Jiějiě di sisinya, hingga mereka sampai pada ruangan a Yi.


Wang Hao telah berdiri di depan pintu ruangan a Yi untuk menyambut keduanya, sejak saat Cc memberi tahunya telah sampai rumah sakit itu.


"Ah, Cc,, eu,, Xi,xiao Jiějiě.." Sapanya pada dua orang di hadapannya.


"Bagaimana keadaan a Yi? Apa dia sudah membaik?"


"Eu,, a Yi baik,, tapi,,,"

__ADS_1


Wang Hao merasa kebingungan untuk menjelaskan.


"Ah, maafkan aku yang tidak sopan. Eu, lebih baik kita masuk saja kedalam." Ucapannya kemudian, ia tidak tahu bagaimana mengatakannya, jadi lebih baik jika melihat secara langsung saja keadaannya. Pikir Wang Hao.


"A_Yi,," Gumam lirih a Lin, tepat saat dirinya berada di sisi a Yi.


"Nak,, bangunlah.. Kau harus menyambut kedatangan mereka, bukankah kau ingin bertemu dengannya?"


Wang Hao berkata dengan begitu pelan tepat di puncak kepala a Yi.


"Sejak kapan?"


Wang Hao melirik pada seseorang di samping nya.


"Sejak kemarin malam" Sahutnya kemudian.


"Mengapa,? Melihat anak ini terbaring tak sadarkan diri, dadaku terasa sangat sesak melebihi sebelumnya,, bahkan nafasku tak sesulit ini sebelum melihatnya.."


"Jiě,, apa kau baik saja? Wajahmu semakin pucat."


Cc mendekat memandang khawatir pada sang Jiějiě yang terdiam dengan wajah pucatnya, saat memegang jemari mungil a Yi.


"Benar, apa kau sakit Jiě,? Ah,, sebaiknya aku panggilkan dokter saja untuk memeriksa mu dulu. Cc, tolong jagakan a Yi juga Xiao Jiějiě untuk ku."


Wang Hao melangkahkan kakinya keluar ruangan, tetapi tertahan oleh yang lebih dewasa.


"Tidak,, tidak perlu memanggil dokter. Aku baik baik saja. Aku hanya,,," Ucapnya menggantung, pandangannya kembali mengamati wajah mungil nan pucat di hadapannya.


"Hatiku terasa sakit, sakit sekali melihat a Yi dengan keadaan seperti ini.. Dadaku terasa berat untuk bernafas, juga,, jantung ku seakan enggan untuk terus berdetak, sungguh,, ini sangat menyakitkan.. Kau tahu? Ini seperti,,, saat aku merasa akan kehilangan seorang anak.."


A Lin terdiam di akhir kalimatnya, pikirannya melayang entah kemana.


Sementara kedua orang di sisinya, memandang sedih seseorang yang tengah menyeruakkan perasaannya saat ini. Hingga ia termenung entah apa yang tengah dipikirkan nya, yang pasti itu membuat Wang Hao juga Cc semakin khawatir.


~


"Gē,, di,dimana bayi kita?? Aku ingin melihatnya.."


"Tenanglah sayang,, bayi kita selamat,, dan masih dalam perawatan dokter,, bayi kita sangat tampan,,"


"Aku ingin melihatnya,, Gē, izinkan aku menemui putra kita.. Akhh..!!"


"Se,semalam?! Ini bahkan sudah sore hari,, hahh,, bagaimana bisa aku seperti itu,, bahkan di saat kelahiran putraku sendiri,, seharusnya aku yang pertama kali melihatnya, dan memeluknya,,heumm,,"


"Gēgē janji,, setelah dokter mengizinkan Gēgē membawa putra kita, Gēgē akan membawanya padamu,, hm,, kita akan merawatnya bersama sama,,"


~


"Jiě, Lin Jiějiě, Apa kau tak apa?"


Cc mengguncang lengan orang di hadapannya dengan pelan.


"A Yi,, eh,? K,kau sadar.. Syukurlah.."


Melihat si kecil memiliki pergerakan, Wang Hao meraih tubuh mungil itu yang hendak bangun dari tidurnya.


"Yi,,Yi Maa?? Hiks,,, i,ni,, benar benar Yi Maa Paman? Hiks,, Yi Maa menggenggam tangan a Yi,, hiks,,, Paman Hao, lihat,, hiks,, a Yi bisa merasakan sentuhan telapak tangan Yi Maa lagi.. Hiks,, Paman Hao lihat...hiks,, ini Yi Maa.."


Wang Hao tak dapat berkata melihat betapa bahagianya a Yi saat ia terbangun, bukan hanya dapat melihat seseorang yang di anggap mirip dengan sang ibu, tetapi juga dapat merasakan sentuhan lembut kulit seseorang tersebut.


"Hiks,, Yi Maa,, hiks,, mengapa Yi Maa menangis,? Hiks,, Paman Hao,, mengapa,, Yi Maa hanya diam saja? Hiks,, apa yang terjadi dengan Yi Maa,?


Hiks,, Yi Maa,, ini a Yi,, hiks,, Yi Maa.. Hiks,, ayo lihatlah,, hiks,, a Yi disini.. Hiks,, Yi Maa.. Hiks,, Mengapa Yi Maa tak mengenali a Yi.. Hiks,, apa salah a Yi,, hiks.."


"Hey,, nak. Ssstt,, jangan menangis,, tetaplah tenang ok.."


Wang Hao mencoba menenangkan a Yi yang menangis, memandang sedih pada orang dewasa di hadapannya yang tak juga merespon.


"Hiks,, Paman,, mengapa harus a Yi? Hiks,,hiks,, mengapa a Yi_ hiks,, yang harus merasakan menjadi anak,? Hiks,,hiks,, yang tak memiliki seorang Mama,?


Hiks,, Yi Maa pergi hiks,hiks,, meninggalkan a Yi sejak a Yi lahir,, a Yi bahkan belum sempat melihatnya,,hiks,, a Yi tak bisa mengenalnya Paman.. Hiks,, a Yi ingin memiliki seorang Ibu hiks,, seperti teman a Yi yang lainnya.. Tetapi itu tidak mungkin,,hiks,, Yi Maa,, Yi Maa sudah pergi,,, untuk selamanya dari a Yi.. Hiks,,"


Sakit,, hati Wang Hao begitu sakit mendengar rintihan tangis sang keponakan.


"Hiks,, mereka selalu bersama Mama kemanapun mereka pergi.. Hiks,, a Yi ingin Yi Maa,, hiks,, a Yi ingin Yi Maa kembali Paman,, hiks,, a Yi ingin Yi Maa. Hiks,,hiks,,hiks,,


A Yi mohon,, hiks,, siapa pun engkau di hadapan a Yi saat ini,, hiks,, a Yi hanya ingin merasakan pelukan seorang Mama,, hiks,, a Yi tahu engkau bukanlah Yi Maa,, hiks,, tapi ijinkan a Yi untuk memelukmu,, hiks,,hik,,"

__ADS_1


A Yi terus merancau dalam tangisnya,, tubuh mungil lemah itu menghambur memeluk seseorang yang ia anggap sebagai ibu setelah mengumpulkan semua tenaganya.


Tak peduli jarum yang masih menancap di pergelangan tangannya kini terputus, mengakibatkan aliran darah menetes dari tangannya.


"Kumohon,, jangan menangis lagi.. Hiks,, hatiku terasa sakit dan hancur melihatmu seperti ini nak.. Hiks,, tanpa meminta pun dengan senang hati akan ku lakukan. Kumohon,, jangan menangis lagi di hadapan ku,, hiks,, aku tak sanggup mendengarnya.."


Tanpa di duga,, a Yi mendapatkan pelukan hangat tersebut. Pelukan yang begitu ia rindukan dari seorang ibu yang telah pergi meninggalkan nya, meski ia sadar orang tersebut bukanlah ibunya.


"Terima kasih Tuhan,, engkau masih memberikan a Yi kesempatan merasakan pelukan Mama,, a Yi harap,, engkau bisa menjadikannya sebagai Mama sesungguhnya untuk a Yi.


Sungguh,, a Yi berjanji tidak akan meminta hal lain atau apapun jika ia menjadi Mama a Yi. A Yi berjanji akan menjadi anak yang baik dan apa pun yang Mama katakan, akan a Yi turuti. A Yi menyayangi nya, sangaatt menyayangi nya seperti a Yi menyayangi Yi Paa dan Yi Maa.."


"A Lin Jiě,," Panggil Cc.


"Entah kau merasakannya atau tidak, tetapi,,, aku merasa ada kesamaan dalam kehidupan kalian. Entah suatu kebetulan, atau memang berhubungan,, tetapi,, kedengarannya aneh bukan?


Euu,, maaf jika Cc lancang. Jiějiě juga pernah kehilangan putra Jiějiě saat dia lahir, dan a Yi juga demikian. Ia kehilangan seorang ibu saat dia terlahir.


Cerita kalian juga serupa, putra Jiějiě meninggal bersama suami Jiějiě setelah peristiwa itu tepat setelah kau melahirkan. Lalu,, Ibu a Yi meninggal saat a Yi masih bayi, tepat setelah melahirkan."


Gadis itu dengan pelan dan ragu mengatakannya, namun semua telah mengganggunya sejak kali pertama ia bertemu a Yi, jadi kini Cc memberanikan diri mengungkapkan beban pikirannya itu.


"Sejak pertama Cc melihat a Yi, wajah kalian terlihat begitu mirip. Kepribadian kalian juga sama, apa yang a Yi sukai,, semua juga ada padamu Jiě.. Tidakkah,,,


Ah,, atau sebenarnya putramu masih hidup dan dia adalah a Yi?


Dan lagi,, a Yi memiliki nama milikmu Jiě, itu bukan suatu kebetulan semata bukan,? Wang_Xiao_Yi."


Deg.


"Wang, Xiao,Yi??" Jantung a Lin kembali berdetak tak menentu.


Pandangannya menyipit kepalanya ia gelengkan, seolah ia mengingat sesuatu di masa lalunya.


~


"Wang, Xiao, Yi. Ah,, ya.. Gē.!! Mari beri nama putra kita WangXiao Yi."


"Mn. Namanya adalah WangXiaoYi putra Wang Xiao"


"Mn. A Yi putra WangXiao."


~


"D,d_darah.!! A,ada darah." Cc panik melihat darah bercucuran di kasur tempat a Yi berbaring.


Lamunan a Lin buyar mendengar Cc panik.


"Darah? D_darah?!! Hey cepat panggilkan dokter.!! Jangan hanya berdiam diri saja.!!"


A Lin yang menyadari dari mana asal darah tersebut berteriak panik pada kedua mahluk di sisinya yang hanya termenung melihat darah yang bercucuran di hadapannya.


"Hiks,, nak,, mengapa kau melakukan ini.. Hiks,, bertahanlah,, dokter akan segera datang.. Hiks,, tahan sebentar lagi.."


Namun bukan ringisan atau keluhan yang terucap, a Yi justru tersenyum bahagia memandang orang dewasa di hadapannya, mengabaikan rasa sakit yang menderanya.


"Ini, tidak sakit,, a Yi, hanya ingin memeluk Yi Maa, a, Yi, senang Yi Maa datang, terima kasih,, Yi Maa,, a Yi bahagia.. A, Yi mohon,, tetaplah bersama a Yi, disini.." Ucapnya riang, meski nadanya begitu lemah terdengar.


"Hiks,, bodoh.!! Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu.!! Hiks,, jangan lagi bersedih,, kau bisa menganggap ku seperti yang kau mau. Panggil aku, dan anggaplah aku seperti Mama,, tapi berjanjilah untuk tidak menangis seperti ini di depanku.."


"Mn. A Yi berjanji. Terima kasih Yi Maa.."


Dan setelahnya 30 menit kemudian dokter datang menangani a Yi. Mengapa 30 menit kemudian?


Ya, itu bisa saja terjadi, mengingat saat ini a Yi berada di dalam rumah sakit yang cukup kecil, jadi pelayanannya  juga kurang memuaskan.


Malam itu saat a Yi demam, Wang Yue dan Wang Hao membawanya ke rumah sakit terdekat pikir keduanya agar a Yi bisa langsung mendapat pertolongan pertama. Karena menurut Wang Hao mungkin akan membutuhkan waktu, jika harus menunggu sang dokter datang ke kediaman mereka.


Setelah sampai di rumah sakit, keduanya yang terlampau khawatir itu, terlalu fokus pada apa yang menimpa a Yi. Sehingga melupakan jika seharusnya a Yi di pindahkan ke rumah sakit yang jauh lebih mewadahi.





__ADS_1



__ADS_2