Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
46


__ADS_3

Xiao Lin yang memulai, tapi ia sendiri yang merasa kesal.


Melihat sang suami hanya diam, wanita cantik itu membuang nafasnya kasar.


"Permisi.. Apa masih disana?"


Wang Yue kembali tersenyum melihat tingkah istrinya, tidak akan habis senyumnya untuk sang istri tercintanya.


Karena dialah alasan dirinya tersenyum, terlebih Wang Yue masih merasa begitu bahagia kembali bertemu dengan pemilik hatinya.


"Heuumm.. Aku bicara tapi kau tetap diam seperti patung, bukannya menjawab justru tersenyum seperti itu.


Apa yang membuat mu merasa lucu,? Ini tidak seperti tetua Wang yang ku kenal dulu. Ada apa dengan pagi ini, apa begitu banyak cinta di hatimu hm? Kau tak hentinya tersenyum seperti itu."


"Xiaoxiao ku memang lucu, dan telah mengisi hatiku penuh dengan cintamu sejak dulu hingga sekarang. Itulah alasan bagiku untuk tersenyum, karna Wang Xiao Lin, ah bukan. Xiao Wang mèimei adalah kebahagiaan ku."


Tak ada suara terdengar dari bibir Xiao Lin, ia terdiam dengan hanya nafas yang berhembus.


"Ada apa? Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" Tanya Wang Yue khawatir, melihat sang istri hanya mengedipkan matanya lucu.


"T_tidak. Hanya saja,, dari mana tetua Wang ini belajar merayu? Itu benar-benar membuat Xiao Wang yang malang ini terkejut." Tuturnya kemudian menggoda sang suami.


"Tentu saja dirimu." Lanjut pria iti dengan menunjuk sang istri.


"Aku???" Ulang Xiao Lin dengan mengikuti gerakan sang suami menunjuk dirinya, yang di angguki singkat oleh sang suami.


"Ba_bagaimana aku? Aku bahkan tidak ingat pernah menggodamu sebelumnya, bagaimana bisa itu aku." Sangkal Xiao Lin tak mengakui.


"Mn. Itu kau. Apa kau ingat saa,,,,"


"Ah, sudahlah sudah,, jangan ungkit lagi." Dengan segera Xiao Lin menghentikan kalimat sang suami.


Ada semburat merah di wajahnya, ia terus memalingkan wajahnya dengan sedikit menunduk, tak lupa jemari tangannya terus menggaruk kepala tanda ia malu.


"Apa kau malu?" Tanya Wang Yue dengan wajah mendekati wajah sang istri.


"Sudahlah,, jangan bahas itu. Ah, ya. Dimana pangeran kecil kita? Jam berapa sekarang? Mengapa aku belum melihatnya, Lao Wang, dimana putra kita??"


Entah memang malu atau benar-benar malu saat ini, Xiao Lin terus berusaha mengalihkan perhatian sang suami agar tidak membahasnya.

__ADS_1


"Tidak." Sahutnya singkat.


"Cih. Hanya itu saja jawabanmu? Baiklah, baiklah, lupakan." Cicitnya pasrah dengan jawaban suami yang singkat.


"Tunggulah disini, mungkin saja putra kita bersama mereka di luar."


Wang Yue beranjak dari tempatnya dan berlalu pergi, sebelum Xiao Lin menghentikan nya dan meminta untuk pergi bersama.


"Tuan Wang, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Cc tepat saat Wang Yue menutup pintu.


"Apa hanya anda sendiri disini Guru Cc?"


Wang Yue balik bertanya, dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.


"Ya. Seperti yang anda lihat. Hanya saya sendiri saat ini, apa ada yang anda butuhkan?" Ucap Cc dengan kembali dirinya bertanya pada sang lawan bicara.


"Tidak ada. Lalu dimana a Yi? Bukankah sebelumnya bersama anda dan Lubin? Dimana dia?"


"Ah, ya,, saya ingat kemarin kami bersama disini. Tapi sejak semalam saya kembali ke rumah, dan pagi ini saya belum melihatnya. Binbin, dia,,, pagi ini pergi untuk menjemput Lu Jiějiě." Jelas Cc jujur.


Ia sendiri kini mulai bertanya-tanya tentang keberadaan murid yang sekaligus keponakannya itu.


"Cepatlah angkat.! Jangan membuat ku kesal.!" Umpatnya dengan ponsel yang ia tempelkan di sisi telinganya.


"Tu_tuan,, tenanglah. Saya yakin a Yi baik-baik saja, karena sebelum saya pergi a Yi hanya disini bersama kami semua."


"Siapa yang anda maksud 'kami'?" Tanya Wang Yue dengan tatapan berbeda.


"Ah,, itu,, maksud saya,,"


Cc mulai gelagapan untuk menjelaskan pada pria di hadapannya saat melihat raut wajah pria itu yang berubah tak enak.


"Binbin.!!" Seru gadis itu girang saat pandangannya tertuju pada pintu, dimana ada Lubin datang dengan beberapa bungkus makanan di tangannya.


"Syukurlah,, kau kau datang tepat waktu di saat aku tak tahu harus berkata apa." Gumamnya dalam hati, dengan hembusan nafas lega.


"E.? Ada apa Jiě?" Tanya Lubin bingung, pasalnya dirinya baru saja memasuki ruangan tersebut, namun kedua orang lebih dewasa di hadapannya kini menatapnya dengan tatapan menyeramkan.


"Dimana a Yi?" Tanpa basa-basi Wang Yue langsung menanyakan keberadaan putranya.

__ADS_1


"O,, a Yi.. Semalam setelah si manusia menjengkelkan itu mengantarkan Jiějiě,, dia kembali dan tak lama mereka pergi membawa a Yi." Sambungnya membuat kedua orang lawan bicaranya semakin tak mengerti.


"Katakan dengan jelas. Siapa yang kau sebut 'mereka'? Jangan membuat ku tak mengerti dengan ucapan mu."


Wang Yue terlihat menahan amarahnya saat tahu putranya entah kemana dan dengan siapa ia pergi.


"Ji_ji Chen. Dia yang membawa a Yi bersama dengan a Cheng dan Kuan Gē."


Batin Lubin menjerit takut, jika di beri pilihan, bisakah ia meminta untuk pergi dari tempat itu saat itu juga? Itulah kira-kira isi otaknya saat ini.


"Brengsek.!! Bajingan itu, kemana dia membawa putraku pergi.!! Lihat saja, jika terjadi sesuatu pada putraku. Tidak akan ku beri ampun.!! Jangan berharap kau bisa membuka matamu kembali.!!!"


Bak bom yang di ledakan, itulah yang terjadi saat ini. Emosi yang sebelumnya Wang Yue tahan, kini meledak tanpa peduli perasaan orang di sekitarnya yang terlihat ketakutan.


"Dan kau. Bin.!! Bagaimana bisa kau membiarkan nya pergi tanpa memberi tahu ku?!! Mengapa kau membiarkan iblis itu membawa putraku pergi.!! Apa kau lupa siapa dia?!! Dialah yang telah membuat keluarga ku hancur.!!


Dia yang membuat ku harus berpisah dengan Xiaoxiao.!! Dan dialah yang telah membuat a Yi hidup tanpa memiliki kasih sayang dari Ibunya selama ini kau tahu.!!!"


Bak tubuh yang tak bertulang, Wang Yue terjatuh begitu saja setelah selesai meluapkan emosinya.


"Gē.! Apa kau baik-baik saja?"


Lubin yang merasa khawatir seketika mendekati Wang Yue, berniat membantunya namun di tepis oleh si empunya.


"Kau tahu, kemana si brengsek itu membawa putraku pergi?" Tanyanya sembari mencoba bangun.


"Ah, i,itu.. Sebenarnya Chen berniat untuk membawa a Yi kembali ke tempat mu Gē, tetapi saat itu a Cheng juga berniat mengantarkan Kuan Gē pulang.


Jadi Kuan Gē mengajak Chen Gē membawa a Yi tinggal di tempatnya dulu sementara, mengingat kau masih harus menunggu Xiao Jiějiě disini. Jadi,,, Chen mengikuti mereka."


Lubin menjelaskan dengan takut, takut Wang Yue akan murka dan melampiaskan padanya.


"Dasar sialan.!!! Si bodoh itu.!!! Mengapa bisa pergi membawa putraku tanpa meminta ijin padaku terlebih dulu.


Selalu saja memutuskan semua sendiri, tanpa mempedulikan pendapat ku.!" Umpat pria tampan itu, geram pada sang sahabat yang menurutnya selalu sesuka hatinya.


Namun belum puas dengan makiannya, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Mn. Baiklah, bawa semuanya."

__ADS_1


Hanya itu kalimat yang terucap, kemudian Wang Yue menutup panggilan tersebut.


__ADS_2