Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
36


__ADS_3

*


Chen kini beralih ke mode seriusnya memandang Kuan. Ia membuang nafasnya pelan sebelum kembali berbicara.


"Kuan Gē. Jangan salahkan Yue'er dalam hal ini,, dia hanya masih belum menyadari nya. Juga,, jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu bukan murni salahmu.


Yue'er memang terlihat keras, begitu kuat, namun sebenarnya dia begitu lemah dan rapuh. Untuk saat ini biarkan dia menikmati kebahagiaannya, biarkan dia untuk tenang. Anggap saja memberinya sedikit waktu untuk memahami situasi sempit ini."


"Bagaimana bisa kau tahu begitu banyak? Kami bahkan tidak saling mengenal." Tanya Kuan di sela kegelisahan hatinya.


"Hemhh.." Chen tertawa disertai seringai, seakan mengejek pada Kuan.


"Bukan kami." Tunjuk Chen pada dirinya sendiri yang kemudian berganti menunjuk Kuan.


"Tetapi kami," Sambungnya, mengulang kembali gerakan sebelumnya.


Namun justru berganti dengan ibu jarinya yang ia acungkan, menunjuk sebuah pintu dimana Wang Yue berada di dalam ruang lainnya.


"Sangat dekat. Tidak ada tentang dia yang tidak ku tahu." Pungkasnya.


"Ch. Benar-benar sombong." Lubin menggerutu dengan pandangan sengit.


"Binbin,," Panggil sang dokter cantik dengan lembut, membuat Lubin terkejut.


"J_jiě. Dari mana kau berasal.?!" Ucapnya gugup.


"Bodoh. Apa yang kau maksud? Apa aku terlihat seperti mahluk astral?" Gerutu nya dengan wajah yang di buat kesal.


"Ma_maksud ku dari mana Jiějiě datang, aku hanya terkejut. Maaf, membuat mu tersinggung."


Lubin tak sadar jika sang Jiějiě hanya menggodanya.


"Jiějiě berada di belakang mu sejak kau keluar, apa yang membuat mu terkejut hm?"


"Tidak. Hanya saja.."


"Sebenarnya kau siapa?"


Belum sempat Lubin menyelesaikan kalimatnya, Kuan kembali bersuara.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa hanya aku yang tak mengerti? Bisa tolong jelaskan padaku?"


Kedua bersaudara Lu itu yang masih asik memandang, seketika mengalihkan perhatiannya saat pertanyaan lain memasuki indera pendengarannya.


Sementara si empunya yang di tanyai, masih terlihat santai menatap wajah pria yang menuntut penjelasan darinya.


"Aku hanya orang asing yang sedikit mengerti tentang kehidupan keluarganya. Atau mungkin bisa kau bisa menyebutku, termasuk dari beberapa orang asing yang sedikit menyukai melibatkan diri dalam urusan orang lain."

__ADS_1


Kuan semakin tak mengerti penjelasan Chen padanya, yang menurutnya jawaban tak sesuai dengan harapan nya.


"Apa kau sungguh mengetahui semua?" Tanyanya di sela kebingungan.


"Mungkin."


Kembali Chen menjawab dengan jawaban yang tak memuaskan.


"Apa kau sungguh peduli dengan hal seperti itu? Atau bahkan itu hanya kamuflase yang kau gunakan untuk menutupi dirimu yang sebenarnya?" Sambungnya yang membuat salah satu di antara mereka naik darah.


"Cukup.!! Jika kau hanya berniat menyudutkan Kuan Gē seperti sahabat mu itu, lebih baik kau tinggalkan tempat ini. Jangan buat suasana hatiku menjadi kesal karenamu.


Kau hanya orang yang tidak mengenal Kuan Gē, jadi kau hanya bisa menilainya semaumu. Tanpa mengetahui kebenaran tentang dirinya.!!"


Zi Cheng, ialah orang yang paling tak terima saat Chen mencoba memprovokasi keadaan yang menurutnya menyudutkan sang kekasih.


Ia memasang badan tepat di hadapan Kuan, seolah siap menantang perang pada Chen dan bersiap melindungi sang kekasih yang tengah dalam bahaya.


Sedangkan Chen hanya menyeringai melihat hal tersebut.


"Wow.!" Serunya.


"Sungguh,, pemandangan yang cukup menghibur. Lihatlah,, siapa yang sedang berbicara dengan ku saat ini. Oh,, bukankah kau adalah putri dari keluarga Meng?" Ucapnya dengan tepukan tangan di sertai tawa mengejek.


"Aku rasa bukan diriku yang tak mengenal siapa orang yang tengah kau lindungi itu,, tetapi kaulah yang tak mengenali siapa seseorang yang begitu kau cintai selama ini.


Ah,, atau mungkin hanya kau saja orang yang tak tahu apa-apa selama ini? Sungguh,, sebenarnya aku cukup merasa kasihan pada dirimu. Cintamu membutakan dirimu sendiri."


"Oh, lalu,, lebih baik kau tanyakan saja kebenaran nya pada kekasih tercinta mu itu." Chen semakin gencar memancing emosi Zi Cheng.


"Apa yang perlu ku tanyakan.!! Aku tak seharusnya mendengar ucapan omong kosong mu itu.!!" Tolaknya mencoba mengabaikan rasa penasaran dalam dirinya.


"Hahh,,, baguslah. Aku rasa kau memang tak perlu mengetahui kebenaran tentang kehidupan Gēgē tersayang mu itu di masa lalu, dan siapa yang selama ini ikut andil di dalam nya."


"Gege?? Masa lalu?? Apa maksudnya??" Gumam Zi Cheng lirih.


Chen berdiri dari tempat duduknya, ia berniat untuk melangkahkan kakinya pergi, namun suara Zi Cheng menahannya.


"Tunggu.!! Mengapa kau pergi?! Kau masih belum menjelaskan apapun padaku.!! Setidaknya, katakan sesuatu agar aku tahu."


"Hmphh.!!" Chen kembali menyunggingkan senyum miringnya menanggapi kalimat Zi Cheng.


"Aku rasa seseorang melupakan kata-katanya sendiri. Bukankah sebelumnya seseorang mengatakan tak perlu mendengarkan omong kosong ku? Ah,, atau mungkin aku salah mendengar?" Paparnya, membuat Zi Cheng semakin kesal.


"Cihh.!! Jika kau tak ingin menjelaskan padaku, tak perlu mengatakan hal itu padaku.! Pergilah sejauh yang kau inginkan.!!"


Gadis kecil Meng itu mendesis kesal atas ucapan Chen.

__ADS_1


"Hn. Tanpa kau meminta pun aku akan pergi. Justru kau lah yang menghalangi ku."


Usai dengan kalimatnya, Chen melangkah tanpa ragu meninggalkan semua orang di dalam ruangan tersebut.


"Sstt. Kau.!!!"


Semakin tersulut emosinya Zi Cheng tak dapat lagi menahan amarahnya, ia menggeram dan berniat mengejar langkah Chen untuk memakinya.


Namun terhenti ketika seseorang di belakangnya menahan lengannya, membuatnya memandang kesal pada si empunya.


"Jika kau ingin marah, lakukan itu padaku."


Siapa lagi jika bukan Kuan lah yang menahan lengan Zi Cheng, dan berkata dengan suara tegas miliknya. Menambah kesan bahwa dirinya dalam mood serius.


"Apa ada yang ingin kau katakan padaku, Gē?" Ucap Zi Cheng dengan wajah bingung.


"Mn." Sahut pria kekar itu dengan gumaman.


"Tentang?" Tanyanya semakin penasaran.


"Semua yang ingin kau ketahui tentang diriku."


Zi Cheng terdiam tanpa sedikitpun niat untuk menjawab. Sementara otaknya terus memikirkan hal apa yang membuat sang kekasih nampak begitu serius saat ini.


"Aku dan Yue Dìdì,kami adalah saudara. Atau yang saat ini kalian kenali sebagai Wang Yue. Dia adalah Shen Yuan Yue, putra kedua pemilik perusahaan (S.Y). Yang artinya kami memiliki ikatan dalam darah kami.


Sama seperti Dìdì. Sebagai anak tertua dari keluarga Shen, aku menyandang marga yang sama sepertinya." Papar Kuan.


"T,tapi Gē. Mengapa kau memakai Yu sebagai nama depanmu? Mengapa kau justru menggantinya? Bukankah seharusnya kau menggunakan nama dari Ayahmu saja?"


Zi Cheng mencecar sang kekasih dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak sebelumnya berjejer rapi dalam otaknya.


"Yu adalah nama Ibuku. Aku menggantinya karena merasa tidak nyaman.."


Zi Cheng semakin tak mengerti dengan penjelasan yang Kuan berikan, membuatnya semakin merasa bingung.


"Sungguh. Aku tidak mengerti dengan semua yang kau jelaskan Gē. Itu membuat ku semakin bingung, bagaimana bisa, begitu banyak hal tentang dirimu yang tidak ku ketahui."


Ada ketidak puasan dalam sorot mata Zi Cheng saat mengatakannya.


"Aku merasa ragu, bahwa diriku mengenal mu seperti yang ku ketahui. Aku merasa seolah tidak mengenal dirimu yang sebenarnya."


Jelas, Kuan merasakan ada kekecewaan dalam setiap kata yang kekasihnya ucapkan.


"Maaf,," Katanya penuh rasa bersalah.


"Maaf, karena tidak ku katakan sejak awal mengenalmu."

__ADS_1


Pria bertubuh kekar itu mengungkapkan penyesalannya sembari menarik tubuh sang kekasih, membawanya kedalam pelukannya.


"Maaf.." Kembali ia meminta maaf, sebelum melepaskan nya, dan menuntunnya untuk kembali pada tempat semula dimana mereka duduk.


__ADS_2