Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
33


__ADS_3

Lulu cukup memahami dengan situasi yang tengah Wang Yue hadapi, meskipun itu terjadi bukan pada dirinya. Ia hanya tidak mengetahui, jika kenyataannya Wang Yue hanya mencari alasan untuk tidak menjawab pertanyaan darinya.


"Nona Lu, apa yang sebenarnya terjadi pada Xiaoxiao, juga Hao Dìdì?" Tanyanya dengan serius.


"Tidak sesemudah itu Tuan untuk menjelaskan nya, mungkin tidak untuk saat ini. Tetapi, untuk Tuan Hao. Tidak ada masalah serius, tidak juga bisa di anggap mudah. Karena bisa saja itu akan mengganggu mentalnya." Jelasnya membuat Wang Yue bingung.


"Tunggu. Apa yang membuat itu sulit? Dan apa maksud anda tentang Hao Dìdì? Tolong,, jelaskan pada saya semua yang terjadi pada Xiaoxiao dan Hao'er, agar saya tidak berasumsi buruk sebelum mengetahuinya." Pinta Wang Yue.


Lulu menghela nafasnya pelan.


"Aku tahu tidak akan mudah untuk membuat fokus Tuan Wang teralihkan dari obrolan ini." Batinnya pasrah.


"Begini Tuan, apa yang terjadi pada a Lin di karenakan trauma yang ia alami selama lebih dari 4 tahun silam. Entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu, saya tidak mengetahui lebih jelasnya. Tetapi sejak kejadian yang a Lin alami di tahun itu, membuatnya,,,"


Dokter cantik itu tak dapat lagi melanjutkan ucapannya, suaranya tercekat seolah terdapat sesuatu yang mengganjal menahan untuk tidak melanjutkan nya.


"Maafkan saya Tuan Wang, saya tidak bisa mengatakannya." Pungkasnya.


"Tolong,, saya mohon. Biarkan saya mengetahuinya, ijinkan saya untuk mengetahui semua yang tidak saya ketahui tentang Xiaoxiao. Tolong katakan semua yang terjadi pada Xiaoxiao selama ini, saya mohon.."


Wang Yue berulang kali memohon pada dokter cantik itu, meski ia sadar itu tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Namun, jika itu menyangkut Xiao Lin, ia takkan segan untuk memohon meski itu akan menjatuhkan harga dirinya.


"Akan ku jelaskan semuanya, tetapi tolong biarkan Jiějiě beristirahat." Ucap Lubin yang entah sejak kapan berada di belakang Lulu.


"Jiě, untuk kali ini sebaiknya turuti ucapan ku. Kau tidak bisa terus memaksakan diri seperti ini, kau harus istirahat. Jika kau terus seperti ini, kau akan jatuh sakit." Lanjutnya menegur sang Jiějiě yang terlihat semakin pucat.


Sementara Wang Yue terdiam memandang kepergian kedua bersaudara itu, pandangannya teralih pada si kecil a Yi yang terlelap dalam tidurnya begitu nyaman di sisi sang Ibu.


Senyum kebahagiaan menghiasi wajah tampannya. Baginya,, itu adalah anugerah Tuhan yang terindah, yang paling berharga, yang ia miliki di dalam hidupnya.


"Keberuntungan memang menakjubkan. Aku beruntung memiliki kalian, karna kalian adalah kebahagiaan yang selalu membuat hidupku terasa begitu menakjubkan."

__ADS_1


Wang Yue kembali mendekatkan diri pada keduanya, kemudian mendudukkan dirinya di sisi keduanya terlelap.


"Kenyataan memang tidak pernah salah, bahwa kalian memang satu. Bukan hanya darah yang mengalir dalam diri kalian adalah sama, tetapi segala keseluruhan dalam diri dan kehidupan kalian juga sama."


Pria tampan itu kembali bergumam dalam hatinya, senyum cerah nan bahagia tak pernah lepas dari wajahnya saat menatap si kecil yang begitu nyaman berada di dekat sang ibu.


"Xiaoxiao, kau tahu? Putra kita sangat persis dengan mu. Wajahnya, matanya, hidungnya, senyum nya,, itu semua milikmu. Bukan hanya itu, sifatnya sangat menurun darimu.


Hatinya begitu lembut, meski ia rapuh. Tatapi ia selalu bisa menutupi kelemahan dalam dirinya, ia tak ingin orang lain mengetahui kekurangan yang ia miliki. Meski itu aku, ia tak pernah membiarkanku mengetahui nya.


Sama seperti dirimu, yang selalu membodohi ku dengan senyum di wajah mu, demi menutupi semua luka yang tak ingin ku ketahui. Bukankah begitu?" Lanjutnya dengan pelan, tak ingin mengganggu si kecil yang masih terlelap.


"Xiaoxiao,, entah apa yang telah kau lalui selama ini, apapun itu,, Gēgē berjanji itu takkan pernah kau alami kembali. Karena Gēgē akan selalu menjaga mu dan takkan pernah membiarkanmu tersakiti oleh siapapun, terutama mereka." Ucapnya seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Gē."


Wang Yue menolehkan kepalanya saat seseorang memanggilnya.


"Gē, mari kita bicara." Ucap orang tersebut yang tak lain adalah Lubin.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Wang Yue pada seseorang di sampingnya.


"Ah, aku sangat baik Gē. Sebaliknya,, apa kau baik-baik saja? Euu, maksud ku,, mungkin semua terlalu mengejutkan mu. Apa,,"


"Seperti yang kau tahu, ini memang sangat mengejutkan ku. Tetapi aku baik-baik saja. Hanya saja,,, Bin, kau tahu bukan,,"


Wang Yue tak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari orang-orang tercintanya.


Namun di akhir kalimatnya, ia sepenuhnya membalikkan badannya menghadap pada si lawan bicara.


"Hn. Aku mengerti Gē, mungkin kita harus lebih berhati-hati dan memikirkan rencana selanjutnya. Untuk berjaga-jaga jika mereka bertindak lebih jauh."

__ADS_1


"Kau benar. Sebaiknya kita bicarakan hal itu nanti, sekarang lebih baik kau katakan padaku tentang apa yang ingin kau jelaskan sebelumnya."


"Tapi Gē, ini penting. Juga,, ini menyangkut keselamatan Xiao Lin Jiě."


Lubin sempat menolak untuk menuruti ucapan Wang Yue, namun pada akhirnya ia hanya menuruti nya.


"Hahh.." Nafasnya terbuang kasar.


"Baiklah." Pasrahnya. Kemudian memulai obrolan yang sebelumnya ia janjikan, mengenai penjelasan tentang Xiao Lin.


"Katakan apa yang kau ketahui, jangan ada sedikitpun yang kau tutupi dariku."


Lubin mengangguk tanpa memberi jawaban.


"Jelaskan sejelas-jelasnya padaku tentang Xiaoxiao, dan mengapa bisa kau menyembunyikan semua ini dariku selama ini." Imbuhnya sebelum Lubin menjawab.


"Baiklah, baiklah.. Maaf untuk hal itu Gē, sebetulnya sejak Xiao Lin Jiě di pindahkan ke rumah sakit ini aku masih tidak mengetahui jika kalian masih hidup. Karena pada saat itu terjadi, bertepatan dengan kabar yang mereka buat untuk meyakinkan Xiao Lin Jiě bahwa suami dan putranya telah meninggal.


Dan saat ku tahu kalian masih hidup, aku ingin segera memberi tahu padamu tentang Jiějiě. Tetapi,, mengingat keadaan Jiějiě tidak memungkinkan, jadi ku putuskan untuk tidak memberi keberadaannya tahu padamu.


Saat itu Jiějiě mengalami koma selama beberapa bulan. Dan saat ia tersadar, banyak memori dalam ingatannya hilang. Hanya menyisakan trauma akan kejadian yang di alaminya."


Ada beberapa adegan yang kini muncul kembali dalam ingatan Lubin, mengingat beberapa peristiwa yang menyakitkan bagi sang Jiějiě yang membuatnya hancur.


"Dengan kondisi Jiějiě yang memprihatinkan, aku tidak mungkin mengatakan tentang keberadaannya padamu, karena nyawanya masih terancam. Aku takut mereka akan mengetahui tentang keberadaan Jiějiě jika kau tahu tentang hal itu. Karena ku tahu, mereka selalu mengawasimu di luar sana.


Jika sampai kau mengetahuinya, mereka akan dengan mudah mengetahui keberadaan Jiějiě saat itu. Dan juga mereka akan mengetahui kebenaran tentang pemalsuan kematiannya yang dulu kami buat untuk menyelamatkan Jiějiě.


Tentunya itu akan sangat merugikan, karena bukan tak mungkin mereka akan mengancam keselamatan Jiějiě."


Wang Yue tercengang dengan penjelasan Lubin. Perasaannya bercampur aduk bak warna yang di satukan menjadi satu warna. Entah ia harus memilih mana, antara sedih, senang, sakit, kecewa, menyesal, marah, atau putus asa saat ini.

__ADS_1


Selama ini ia terus mencari keberadaan sang istri, namun tak pernah sedikitpun mendapatkan hasil yang ia inginkan.


Rupanya, itu adalah kebodohannya sendiri yang tak mampu menjaga orang orang yang ia cintai.


__ADS_2