
Cc memajukan langkahnya agar lebih dekat pada pria yang tak lain adalah orang tua a Yi.
"Tuan Wang,, saya meminta ijin pada anda selaku orang tua a Yi. Saya ingin mengajaknya kembali ke kediaman saya kali ini, saya pikir jika terus membiarkan nya disini juga tidak akan baik-baik saja.
Saya takut a Yi akan terus merasa bersedih melihat Ibunya, terlebih lagi a Yi baru saja pulih, takutnya itu bisa mengganggu kesehatannya jika terlalu lama berada di lingkungan rumah sakit." Papar gadis itu, sedikit membungkukkan badannya meminta ijin.
"Meski begitu,,,"
"Anda tidak perlu khawatir, saya akan meminta Lubin untuk menemani kami. Jadi anda tidak perlu takut. Putra anda aman bersama kami, dan akan baik-baik saja." Tuturnya meyakinkan Wang Yue, untuk percaya padanya.
"Yi Paa,,, a Yi mohon.. A Yi ingin membuat makanan untuk Yi Maa.." Mohon si kecil lagi, kali ini dengan wajah memelas yang mana siapapun yang melihatnya akan langsung tak tega untuk menolaknya.
Sementara itu Cc pun tak mau kalah, ikut terus meyakinkan pria tampan itu bahwa putranya akan baik-baik saja.
Alhasil mau tak mau Wang Yue dengan pasrah mengiyakannya, dan senyum lebar menghiasi wajah kedua orang berbeda usia itu, membuat Wang Yue menghela nafasnya pasrah.
"Sampai kapan kau akan menjadi patung bodoh di sana. Lihatlah bagaimana rupa mu saat ini, kau persis seperti raga yang terpisah dengan jiwanya." Ucap Wang Yue setelah Cc dan putranya pergi.
Wen menggelengkan kepalanya guna mengembalikan kesadarannya.
"Dìdì,, apa yang terjadi? Apa yang ku lihat,,,"
"Ya. Itu sebabnya aku menarik mu paksa tadi, karena tak ingin hal ini terjadi." Jelas Wang Yue sebelum Wen menyelesaikan pertanyaan nya.
"Bagaimana bisa? Siapa yang melakukan nya? Beri tahu aku segera, akan ku cari dia dan ku bunuh dia saat itu juga."
"Belum di pastikan. Terlalu banyak kejanggalan yang ku temui, sementara Xiaoxiao masih dalam masa pemulihan. Aku tidak mungkin mengajukan pertanyaan padanya dengan keadaan seperti ini."
"Kau benar, kalau begitu fokuslah untuk menjaganya mulai saat ini. Xiǎomèi telah selamat, dan kau menemukan nya. Tidak menutup kemungkinan banyak mata-mata yang mengintai mu."
"Mn. Untuk itu aku meminta mu datang kali ini, untuk membahas masalah ini. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan perusahaan aku serahkan padamu Gē, aku harap kau bisa mengurusnya untuk ku sementara ini."
"Bagaimana dengan a Yi? Apa dia akan tetap sekolah, atau harus memperpanjang ijin masa sakitnya?"
Keduanya larut dalam percakapan mereka, tak sadar Wen melupakan beberapa hal.
"Eh,,,? Mana a Yi?" Tanyanya dengan pandangan mencari.
"Hahh.. Dia sudah pergi." Sahut Wang Yue tak semangat.
__ADS_1
"Apa?!! Pergi kemana.! Dengan siapa dia pergi? Ah, ma_maksudku siapa yang membawanya pergi?"
"Jangan berteriak padaku. Kau membuat kuping ku sakit. Gurunya yang mengajak." Ucapnya, benar-benar tak memiliki semangat.
"Putramu pergi dengan orang lain yang belum kau kenali dan kau masih bisa diam disini?! Kau ini,,,"
"Pelankan suaramu dan jangan banyak bicara. Lakukan saja pekerjaan mu, usahakan untuk tidak menonjol, agar tidak menggangu privasi orang lain. A Yi baru saja pergi, kemungkinan mereka masih belum sampai lobby.
Beri jarak dari mereka, agar tak menimbulkan curiga, dan tetap waspada."
"Hemphh.!! Lihatlah, suaramu begitu tak bersemangat. Tetapi mulut mu masih bisa mengoceh padaku." Wen menggelengkan kepalanya menanggapi sikap pria yang lebih muda darinya.
Tidak ada lagi perdebatan dari keduanya, Wang Yue yang nampak kehilangan semangatnya sejak saat putranya pergi, dan hanya dapat memandangi wajah cantik istrinya. Sementara Wen sibuk dengan urusannya sendiri.
"Dìdì,, mari kita bicara dengan serius." Ucapnya, usai menghubungi seseorang.
"Katakan saja." Sahut yang lebih muda, masih tak mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Mengenai Xiǎomèi dan Hao Dìdì,, apa,,,"
"Untuk Xiaoxiao,, sejujurnya aku tak ingin membahasnya. Namun jika kau ingin tahu, akan ku beri tahu."
"Katakanlah, Xiaoxiao menjadi seperti ini akibat trauma yang ia alami saat kami berpisah. Kau tahu Gē,?
Mereka menyembunyikan Xiaoxiao dan membuatnya seolah Xiaoxiao mati saat kebakaran itu terjadi. Menyiksanya, hingga mentalnya terguncang. Hanya itu yang bisa ku jelaskan padamu saat ini Gē, ku harap kau mengerti maksud ku."
Wen mengangguk, ia paham dan tak lagi memperpanjang. Dapat di lihatnya, betapa terlukanya sorot mata Wang Yue saat ini.
"Mengenai Hao'er,, aku masih tak mengerti mengapa hingga kini ia masih belum membuka matanya. Saat aku datang dan bertemu Xiaoxiao, Hao'er sudah dalam keadaan tak sadarkan diri disini.
Dokter Lu bilang apa yang Hao'er alami saat ini sama persis dengan yang di alami Xiaoxiao sebelumnya. Hanya saja perbedaan mereka jauh, yang terjadi pada Xiaoxiao bersangkutan dengan trauma yang dialami nya.
Sementara Hao'er,, aku masih tak mengerti. Dokter Lu, Lubin bahkan Guru Cc mengatakan hal serupa, jika Hao'er memiliki trauma dan dendam di masa lalu. Aku pernah berpikir bahwa diriku sangat mengenalnya sebagai anak kecil di keluarga kami, akan tetapi saat ini aku merasa tak yakin dengan diriku sendiri Gē."
Ada jeda untuk beberapa saat, sebelum akhirnya melanjutkan kembali kalimatnya.
"Aku pernah merasa kami begitu dekat dan saling memahami, namun saat ini aku justru berpikir jika aku salah. Aku tak sedekat itu dengannya, hingga masalah seperti ini saja aku tak tahu apa-apa.
Haohai adalah anak yang baik, aktif dan periang. Selama kami menjalani kehidupan bersama sejak kecil, aku selalu melihat Xiaoxiao dan Hao'er adalah pribadi yang mirip. Itulah yang membuatku kecewa, sebagai seorang Gēgē dan orang tua baginya, aku tak cukup mampu membimbingnya menjadi lebih baik." Pungkasnya.
__ADS_1
"Bukan salahmu membuat nya seperti ini, kau sendiri tidak akan tahu kapan seseorang akan berada di titik terendahnya(sakit)."
"Ah,, Dìdì. Aku rasa hari ini cukup, mari lanjutkan pekerjaanmu dulu, biar sisanya aku akan mengurusnya. Dan sebelumnya maaf, membuat mu sedih. Namun kau harus tahu, ini bukanlah tentang mampu atau tidaknya dalam membimbing Hao'er.
Namun kau juga harus tahu, kau tak bisa memperkirakan bagaimana perkembangan hidup seseorang walau kau terus memantaunya."
Wen menyodorkan beberapa map berisikan berkas pada Wang Yue dengan beberapa kalimat yang ia ucapkan, guna mengalihkan pembicaraan.
"Ada hal yang ingin ku ketahui sebelum aku pergi, namun ku harap kali ini kau tidak mengalihkannya dariku, juga jangan membenciku." Ujarnya sesaat menerima lembaran-lembaran kertas tak bernyawa itu dari Wang Yue.
"Katakan." Sahut Wang Yue singkat.
"Apa kau masih tak ingin berbaur dengan Kuan Dìdì?"
Mendengar pertanyaan Wen, Qang Yue seakan tersulut emosi.
"Untuk apa aku berbaur dengannya."
"Kau tak bisa selamanya mengabaikan nya, kau tahu bukan, semakin lama kau menghindar, akan semakin sulit bagimu untuk menerimanya."
"Tak ada tempat untuknya."
"Kau gila?!! Apa kau akan terus membawa dendam mu itu sampai mati?!!"
Wen mulai kesal atas jawaban pria itu.
"Jika harus, maka akan ku lakukan."
"Apa kau sungguh bahagia dengan itu? Apa kau sungguh akan membawanya hingga nafas terakhir mu?"
Wang Yue terdiam, amarahnya jelas tak terkontrol saat ini. Namun Wen tahu, jika saat ini Wang Yue dalam suasana hati yang bimbang.
"Dìdì, cobalah pikirkan kembali untuk menerimanya. "
"Menerimanya? Cih.!! Tidak ada tempat untuk seorang sepertinya yang telah menghancurkan keluargaku. Ku katakan padamu Gē, aku harus benar-benar berpikir ribuan kali untuk menerimanya."
"Lalu apa kau pikir hanya dirimu yang merasa di rugikan? Apa kau pikir dengan membencinya dan membalaskan dendam mu padanya akan mengubah keadaan?
Apa kau pikir itu semua akan baik-baik saja? Lalu bagaimana kehidupan mu selama ini saat pria itu tak ada bersamamu, apa jauh lebih baik? Apa hidup mu akan benar-benar tenang?"
__ADS_1
Wen semakin mencecar Wang Yue dengan pertanyaan nya, tanpa memberi celah untuk nya bersuara.