
*Rumah sakit [I]
°
~
"Ekhemm..!! Aiyo,,, sepertinya ada yang sibuk merawat seseorang hingga melupakan tempat tinggalnya sendiri.."
Deheman keras terdengar memasuki gendang telinga dua sejoli yang saat ini masih asik bercengkrama. Namun nampaknya keduanya tidak menyadari kedatangan orang lain di sekitarnya.
"Aiya,, Suamiku,, sepertinya kita memang benar-benar telah di lupakan oleh kedua putri kita. Bukan begitu?"
"Benar Istriku,, kita telah melewatkan masa-masa dimana putri kita tumbuh dewasa. Dimana kita sebentar lagi akan memiliki seorang cucu yang menggemaskan."
"A,ayah,, Ibu,,, a_apa yang kalian bicarakan.. Kami bahkan belum memikirkan sampai ke jenjang itu.." Sahut yang lebih muda dengan wajah memerah.
"Eh,, apa ini?? Suamiku,, lihatlah. Rupa rupanya putri kita merasa malu saat ini. Oow,, manisnya putri kecilku. Tak terasa, sebentar lagi ia akan menjadi seorang Istri dari laki laki yang ia cintai.."
"I_ibu,,,! A_apa yang kau katakan. Ah,, sudahlah, aku tidak ingin mendengar ucapan konyol Ibu." Si gadis berjalan mendahului ayah dan ibunya.
Kemudian ia berhenti tepat di belakang kedua sejoli yang hingga saat ini masih bersenda gurau.
"Chengcheng.!! Kau..!! Menyebalkan sekali.!! Kau membuatku kesal kau tahu.!!
Hmphh.!!
Kau malah asik bermesraan disini sampai kau mengabaikan kedatangan kami.!!"
Gadis yang tak lain adalah Zizi itu, menumpahkan kekesalannya pada saudarinya yang sedari tadi asik dengan sang kekasih.
"Jiě,, kau datang,? Ada apa denganmu? Mengapa kau memarahiku?! Lalu,, apa maksudmu dengan kami? Bukankah kau hanya datang sendiri.?"
Zi Cheng merasa heran dengan sang Jiějiě yang tidak biasanya akan memarahi dirinya.
"Se,selamat malam Paman, Bibi.. Terima kasih sudah repot-repot datang."
Bukan Zizi atau Zi Cheng yang mengatakannya,, melainkan seseorang yang tak lain adalah kekasih Zi Cheng.
"Selamat malam nak,, kami tidak merasa di repotkan. Ah,, bagaimana kabarmu? Kami mendengar kabar bahwa kau telah siuman, jadi kami memutuskan untuk datang. Ah,, tidak. Lebih tepatnya Istriku yang memaksa datang hari ini." Ujar Meng Zhou.
"Ah,, terima kasih Paman, Bibi, aku sangat senang atas kunjungan kalian kemari. Dan,, ya,, seperti yang kalian lihat, aku telah pulih dan baik baik saja sekarang."
"Aish,, anak ini.! Hey anak muda.!! Apa begitu caramu menyambut kedatangan orang tua mu hah? Kau terlihat begitu bodoh dengan wajah seperti itu." Tegur Jiyi pada putrinya.
Sebenarnya ia tidak marah, hanya saja sedikit sebal melihat ekspresi di wajah putrinya itu.
"A Cheng.!! Tutup mulutmu itu,, kau bisa saja menumpahkan air liurmu jika terus dibiarkan menganga seperti itu.!"
Mendengar ucapan nyaring sang Jiějiě, Zi Cheng mengalihkan pandangan padanya.
"Dan perhatikan pandanganmu.! Jiějiě rasa bola matamu akan segera lompat dari tempatnya saat ini juga jika kau terus melotot seperti itu.!!"
Kembali Zizi menegur saudarinya yang meski telah menutup mulutnya, namun pandangannya begitu lebar membuanya merinding.
"Jiě,," Panggilnya lirih pada sang Jiějiě.
"Apa,, mereka benar benar orang tuaku?" Lanjutnya lemah.
"Hoyy,!! Ada apa dengan otakmu?!! Apa setelah kau memiliki kekasih kau menjadi lupa pada Ayah dan Ibumu?!! Kau pikir mereka siapa jika bukan orang tuamu?! Orang tua kita.!!" Kesal Zizi dengan memukul kepala Zi Cheng.
"Oyy.!! Aishh.!! Kau tahu, ini sungguh sakit.! Apa salahnya aku bertanya.! Lagi pula ada apa dengan mereka yang tiba-tiba datang.! Selama ini bukankah mereka tidak peduli dengan keadaan anaknya sendiri.!!
Apa mereka pikir dengan segala yang mereka berikan untuk kami akan membuat kami bahagia? Katakan Jiě?!! Apa itu cukup bagimu? Aku tak butuh semua yang mereka berikan.! Aku hanya butuh mereka bersamaku.!!
Dan apa mereka pikir hartalah yang utama? Jika begitu, aku lebih baik terlahir dari orang yang sederhana saja Jiě.! Setidaknya itu lebih baik, dari pada memiliki keluarga yang memiliki segalanya tetapi sibuk dengan urusan mereka sendiri."
Tidak ada yang berniat menjeda ucapan Zi Cheng saat ini, termasuk Zizi. Karena ia tahu, begitu banyak beban di hati saudarinya yang telah lama ia pendam.
"Jiě, apa Jiějiě tahu? Selama ini aku begitu iri pada a Lin Jiě, Jiějiě juga tahu seperti apa kehidupan nya dulu. Dan itu saangaat, sangat jauh dari kehidupan yang kita miliki.
__ADS_1
Dia memiliki keluarga yang sederhana, tetapi mereka selalu bisa saling melengkapi, saling memahami, dan saling berbagi. Dia selalu memiliki kasih sayang dari kedua orangtuanya, Paman dan Bibi selalu bisa memanjakan Lin Jiějiě dan tak pernah membiarkan nya sendirian.
Tetapi tidak dengan kedua orang tua kita yang hanya memikirkan bagaimana cara mengumpulkan uang untuk memperbanyak kekayaan.!
Aku tak pernah meminta apapun dari mereka Jiějiě, aku hanya ingin merasakan kasih sayang yang nyata dari kedua orang tuaku.!
Bahkan memelukku saja mereka tak pernah melakukannya.!! Hiks,, apa itu yang di sebut keluarga Jiě.?!! Hiks,, hanya kau,! Hiks,, hanya kau saja, Jiě,, kaulah keluarga ku satu satunya. Hiks,,
Mereka tidak pernah tahu, selama ini aku sangat ingin memiliki waktu bersama mereka,, aku merindukan keluarga ku yang dulu Jiě,, hiks,, aku rindu saat-saat kita tinggal di rumah kecil kita dulu.."
Tumpah sudah tangis Zi Cheng.
"Jangan menangis,, hiks,, jangan menangis putriku.. Hiks,, maafkan Ibu nak. Hiks,, maafkan Ibu yang selama ini begitu egois padamu.
Hiks,, Ibu pikir dengan mencukupi semua kebutuhan kalian, itu akan membuat kalian bahagia,, hiks,, maafkan Ibu,, Ibu tidak menyadari jika Ibu telah membuat kalian membenci Ibu dengan cara Ibu. Hiks,, maafkan Ibu.."
Tak kuasa menahan air matanya, Jiyi menangis dengan memeluk putri kecil nya. Tidak, sebenarnya tidak sepenuhnya ia mengabaikan kedua putri nya.
Karena yang sebenarnya adalah,, Jiyi akan selalu menemani kedua buah hatinya tidur, ia akan selalu memeluk keduanya. Namun mungkin tidak ada yang menyadari hal itu, karna setiap Jiyi kembali kerumahnya, kedua buah hatinya telah terlelap dalam tidurnya.
Dan ia akan lebih dulu terbangun sebelum keduanya bangun. Itulah alasan mengapa dirinya selalu ingin berada disisi sang suami, karna pekerjaannya yang cukup padat dan ia melakukan semuanya semata untuk membagi waktunya agar bisa selalu bersama sang suami.
Namun tanpa ia sadari itulah yang membuat kedua buah hatinya semakin jauh darinya.
°
~
"Yi,, Paa,,,"
"Ya sayang,, Papa disini nak.."
Wang Yue bangkit dari duduknya saat mendengar suara purau buah hatinya, yang baru saja membuka matanya seusai ia terjatuh tak sadarkan diri sebelumnya.
"Apa a Yi ingin sesuatu? Atau a Yi haus nak? Minum dulu nak.." Wang Yue membenahi putranya untuk duduk menyandar pada ranjang pasien.
Tanpa mengindahkan pertanyaan sang ayah, a Yi bertanya dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi di ruangan tersebut.
Wang Yue terdiam. Ia tak tahu bagaimana untuk menjawab pertanyaan putra kecilnya.
"Permisi tuan,, saya akan memeriksa pasien dahulu.."
Suara halus nan lembut membuyarkan lamunan Wang Hao, yang juga merasa kebingungan dengan pertanyaan keponakan tercinta nya.
"Dokter, syukurlah anda datang.."
Wang Yue lega karena dokter datang di saat yang tepat. Di saat tak tahu akan jawaban apa yang harus di katakan pada a Yi nya.
"Permisi tuan.." Ucap sang dokter dengan senyum manis di bibirnya.
"Ah,, a Hao, kau ada disini?" Tanyanya kemudian saat pandangannya teralih pada Wang Hao.
"Eh, Jiě,, jadi Jiějiě yang akan memeriksa a Yi?"
Terkejut saat Wang Hao melihat seseorang yang akan merawat sang keponakan adalah Lulu, namun ada perasaan lega, karena yang merawat sang keponakan adalah orang yang ia kenal.
"Emn. Selesai Jiějiě memeriksa keadaan pasien, Jiějiě berniat memeriksa semua data pasien lain untuk mengisi waktu karena Binbin mungkin akan terlambat datang." Ujar sang dokter cantik itu.
"Hanya saja,, Jiějiě tidak menyangka jika itu adalah a Yi." Lanjutnya sembari memeriksa keadaan a Yi.
Wang Yue sendiri nampak tak begitu mempedulikan percakapan diantara keduanya, karena ia hanya ingin fokus pada putra kecilnya saja.
"Bi_bi Lu,lu.."
Mendengar suara lirih pasien nya, Lulu tersenyum. Pandangan nya fokus pada a Yi.
"Ya,, Bibi disini jagoan.. Bagaimana kabarmu hm? Apa ada yang sakit?" Tanyanya lembut dengan beberapa usapan yang ia berikan di puncak kepala a Yi.
"Bibi,, a Yi ingin bertemu bidadari cantik disini.. Apa Bibi bisa membantu a Yi bertemu dengan bidadari waktu itu?"
__ADS_1
Lulu sedikit memiringkan kepalanya, mendengar pertanyaan si kecil di hadapannya yang membuatnya sedikit bingung.
"Nak,, apa maksud mu? Bibi kurang memahaminya.."
"Yi_Maa.." Jawab si keci dengan cepat.
Jika Lulu masih tetap mempertahankan senyuman nya saat ini, berbeda dengan Wang Yue. Matanya sedikit melebar dan kembali ia merasakan denyutan jantungnya yang seaakan melemah, mendengar putranya kembali menyebutkan tentang sang ibu.
"Andai waktu bisa terulang kembali,, mungkin Papa bisa mengembalikan Ibumu nak,, dan takkan pernah ada kesedihan yang mendalam di hatimu.
Andai itu terulang,, Papa rela, jika harus bertukar nyawa dengannya,, agar kau bisa terus bersama Ibumu, mungkin takkan pernah ada air mata yang terjatuh menghiasi kesedihanmu.
Dan mungkin takkan pernah ada penyesalan yang mendalam bagi Papa karena telah meninggalkan Ibumu sendiri, mungkin saja Ibumu akan selamat jika Papa terus menjaganya."
Mungkin itulah yang terpikirkan oleh Wang Yue,, ia terus menyesali apa yang telah terjadi pada keluarga nya. Ia tidak menyadari,, jika dirinya pergi dan bertukar nyawa dengan istrinya, itu tidak akan lebih baik dari saat ini.
Tentu saja akan ada kesedihan lain bagi putra dan istrinya atas kepergiannya, bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi di kehidupan putra dan istrinya seperti apa yang ia jalani hingga sat ini bersama putra kecilnya.
"Jiě,, yang a Yi maksud adalah Jiějiě." Jelas Wang Hao.
Mengerti dengan apa yang di maksud Wang Hao, Lulu tersenyum.
"Ah,, begitu.. Eum,, a Yi,, apa a Yi benar benar ingin bertemu dengannya hm? Jika itu benar,, Bibi janji akan membawanya bertemu dengan a Yi nanti.."
Mata si kecil seketika berbinar.
"Be,benarkah?? Apa Bibi bersungguh sungguh??" Seketika mood a Yi kembali, ia begitu antusias mendengar apa yang Lulu katakan.
"Ada syarat yang harus a Yi penuhi jika ingin bertemu dengannya.. Bagaimana??"
"Mn. A Yi mau.." Tanpa pikir panjang a Yi mengiyakan apa yang dokter cantik itu katakan.
Meski si kecil tak tahu syarat apa yang akan di berikan kepadanya, yang ia tahu hanya bagaimana cara untuk secepatnya bertemu dengan seseorang yang ia sebut bidadari.
"Baiklah,, sekarang Bibi hanya ingin a Yi beristirahat dulu, lalu makan dan minum obat a Yi dengan teratur.
Kemudian, jika a Yi menginginkan sesuatu,, a Yi harus mengatakannya kepada orang tua a Yi. Lalu,, setelah a Yi melakukan itu semua,, Bibi janji a Yi akan bertemu dengannya. Mengerti?"
"Mn.! A Yi mengerti Bibi.! A Yi janji akan melakukannya,, asal a Yi bisa bertemu dengan bidadari yang sangat cantik seperti Yi Maa.."
Tanpa penolakan, lagi lagi a Yi menyetujuinya. Sungguh,, memang anak yang baik.
"Ah,, baiklah, karna Bibi sudah selesai,, Bibi akan kembali ke ruangan Bibi. Setelah ini, a Yi harus makan dan minum obat agar lekas sembuh dan bisa bertemu dengan bidadari cantik nanti.."
"Mn. A Yi akan melakukannya. Terima kasih Bibi.."
Semangatnya kini semakin meningkat, tak seperti sebelumnya yang tak terkendali dan selalu menolak untuk makan dan meminum obatnya.
Tak tahan untuk tidak tersenyum, melihat senyum cerah terpancar dari wajah mungil di hadapannya.
"Entah mengapa sejak saat pertama kali melihatnya,, hatiku merasakan kehangatan yang sama. Begitu familiar, seolah aku telah lama mengenalnya.." Hatinya bergumam.
"Saya permisi Tuan.." Pamit Lulu setelahnya.
"Mn. Terima kasih dokter." Sahut Wang Yue.
"Jiějiě,, mari ku antar." Wang Hao mempersilahkan Lulu untuk berjalan di sisinya.
"Terima kasih.." Ucapnya lalu tersenyum.
•
•
•
•
•
__ADS_1