Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
13


__ADS_3

°


~


Keduanya berjalan beriringan hingga mereka berada di luar ruangan tersebut.


"A Hao,, bisa kita bicara? Jika tidak keberatan dan jika kau tidak memiliki kesibukan,, bisakah kita bicara?"


Lulu menghentikan langkahnya.


"Silahkan Jiě,, ada beberapa hal pula yang ingin ku bahas."


"Hm,,? Sepertinya sesuatu yang penting..?"


"Mungkin. Tetapi, tentu Jiějiě juga memiliki hal penting yang ingin Jiějiě sampaikan,, bukan begitu??"


Lulu hanya tersenyum tanpa membalas ucapan Wang Hao. Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka hingga tibalah kini keduanya tepat di depan pintu ruangan khusus, yang di sediakan untuk beristirahat beberapa dokter tertentu.


Ia mempersilakan yang lebih muda untuk masuk setelah dirinya terlebih dulu memasuki ruangan tersebut.


"Jadi a Hao,, Jiějiě akan langsung pada intinya saja,,"


Wajahnya yang sebelumnya terlihat kalem kini hilang, tergantikan dengan wajah yang nampak sangat serius.


"Sebenarnya siapa dirimu? Lalu,, siapa sebenarnya keluarga Wang? Mengapa kau bisa mengatakan begitu banyak hal pada Cc? Dan,,, dan,, bagaimana bisa kau mengenalnya??? Atau,,,"


"Lu Jiějiě,, tenanglah. Aku disini,, dan tidak akan kemana mana.. Tidak perlu sepanik itu,, kami bukan orang jahat atau apapun yang berbau negatif."


Wang Hao merasa lucu dalam hatinya melihat respon wanita cantik di hadapannya saat ini.


"Jiě,, mungkin Jiějiě tidak mengenal siapa diriku, seperti apa keluarga ku, dan bagaimana kehidupan ku. Juga,, alasan mengapa aku bisa mengetahui beberapa hal, atau bahkan semua hal tentang saudari Jiějiě.


Tapi percayalah,, adapun alasan di balik semua itu yang tanpa Jiějiě ketahui,, kami bukanlah orang lain. Dan aku tidak akan melakukan hal buruk terhadap kalian. Terutama pada Xiao Jiějiě."


Mencoba untuk tetap menjaga emosi dalam dirinya, Lulu mencoba sedikit yakin dengan ucapan Wang Hao yang terlihat meyakinkan.


"Lalu jelaskan padaku semua alasan yang kau miliki. Maka aku akan mempertimbangkannya (percaya)."


Wang Hao tersenyum, kemudian membenarkan posisi duduknya sebelum memulai untuk menceritakan tentang kehidupan nya.


°


~


Disisi lain kini nampak kedua orang gadis nampak memiliki kekhawatiran dalam dirinya masing masing dengan alasan yang berbeda.


"Cc,,"


"Ah,, Cheng Jiějiě.!! Haish,, mengagetkan saja. Hampir saja aku menabrak mu Jiě."


Cc terkejut saat membuka pintu, dan melihat telah berdiri seseorang tepat di hadapannya.


"Kau berlebihan sekali.! Jangan menyalahkan ku, kau sendiri mengapa terus menunduk?! Lagi pula sudah ku ketuk pintunya sedari tadi, tapi tak ada sahutan. Kemana Jiějiě?"


"Huuuh,,,"


Cc membuang nafasnya kasar. "Ma,maaf Jiě,, aku terburu buru ingin memanggil Lu Jiějiě sampai tak menyadari Cheng Jiějiě disini. Eh,,, dimana Lulu Jiějiě,??"


Cc mengedarkan pandangan mencari dokter cantik itu, namun hanya ada ia dan Zi Cheng saja saat ini.


"Tidak tahu. Sudah ku bilang tadi saat ku ketuk pintunya tidak ada sahutan. Lalu aku masuk,, dan berniat membuka pintu kamar ini, tetapi justru berpapasan dengan mu." Jelas Zi Cheng lagi.


"Apa Lin Jiějiě masih di dalam?" Sambungnya.


"Mn. Lin Jiějiě di dalam."


"Apa boleh jika aku bertemu dengannya?"


"Silahkan saja Jiě,, tapi tolong untuk tetap menjaga perasaannya ya Jiě,, emosi Lin Jiějiě saat ini tidak stabil. Jadi sedikit saja perasaannya tersinggung,,"


Ada jeda di kalimat Cc.


"Haahh..! Aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menenangkan nya Jiě." Lanjutnya dengan wajah pasrah.


Seketika wajah Zi Cheng berubah menjadi menyebalkan bagi Cc. Ia sedikit kesal melihat ekspresi yang Zi Cheng tunjukkan saat ini.


"Ada apa dengan wajah mu anak muda? Apa kau menyerah sekarang, ha?" Ucap Zi Cheng dengan tawa tertahan.


"Aku bukan menyerah,, hanya saja,, jika Lin Jiějiě dalam mood yang buruk, itu berarti akan sangat sulit untuk membujuknya untuk makan." Sahutnya lemas.

__ADS_1


"Hey,, jangan seperti itu,, kau adalah saudarinya, kau yang paling mengerti keadaan nya juga hatinya. Meskipun itu sulit bagimu, kau bukanlah orang yang akan begitu saja membiarkan dia sendiri,, apa lagi terluka."


Ada senyum terukir di wajah Cc kala mendengar ucapan orang yang lebih dewasa darinya.


"Sebaiknya kita masuk sekarang, aku sangat ingin bertemu dengan Lin Jiějiě."


"Mn. Mari Jiě,,"


Cc memberi jalan pada Zi Cheng setelah ia membukakan pintu.


"Cc, apa Lin Jiějiě tertidur?" Tanya Zi Cheng setelah berada di dalam. Melihat dari posisi tidur yang membelakanginya, ia menyangka jika sang Jiějiě tertidur saat ini.


Namun belum sempat Cc menjawab, sang Jiějiě lebih dulu membalikkan badannya setelah mendengar suara Zi Cheng. Ia bangun dari tidurnya karena terkejut melihat seseorang di hadapannya saat ini.


"Lin Jiějiě." Ucap Zi Cheng lirih saat melihat wajah seseorang di hadapannya yang selama ini ia khawatirkan.


Ia tidak mendekat, atau pun mengucapkan sepatah kata lagi setelahnya. Matanya berembun dengan gerakan kelopak mata yang lambat, seolah ingin berkedip, namun enggan untuk melakukannya.


Begitu pula dengan seseorang di hadapannya, yang saat ini telah terduduk tegak akibat rasa terkejutnya.


Ia terdiam, matanya memerah, serta bibirnya bergetar dengan kepala menggeleng, namun tak ada kata yang terucap.


"Jiějiě,, hiks,, cepat. Hiks,, ikutlah bersama ku,, hiks,, ku mohon."


"Chengcheng,, pergilah.! Jangan membahayakan dirimu, tinggalkan Jiějiě. Kau selamatkan lah dirimu, atau mereka akan menghabisi mu.! Jiějiě janji akan segera menyusul mu nanti, tolong pergilah,, sebelum mereka menemukan mu disini. Cepatlah.!!!"


"Jiějiě.!! Awas..!!!"


"Akkhh..!!! Che_cheng,Cheng,,, pergi,,"


"Tidak Jiě, hiks,, aku tidak bisa membiarkan mu sendiri. Hiks,, mereka akan menghabisi mu Jiě, hiks,, ayo,, hiks,, kita pergi bersama,, untuk menyelamatkan diri. Hiks,, kumohon,,"


"Tidak Chengcheng,, itu tidak mungkin.!! Cepatlah,!! Pergi.!!! Cepat pergi, dan mintalah bantuan untuk menyelamatkan Jiějiě. Akkhh..! Cepat pergilah.!!! Jiějiě tidak akan bisa menahannya lagi lebih lama.!! Jiějiě mohon, pergilah.!!!"


"Hiks,, Jiě,, bertahanlah,, aku akan segera mencari bantuan. Jiějiě bertahanlah.. Hiks,, tunggu aku sebentar.."


°


"Cheng_cheng,,,"


A Lin mengulang menyebut nama gadis di hadapannya dengan pelan setelah beberapa menit berlalu, ia kembali ke alam sadarnya.


Zi Cheng tak kuasa menahan tangisnya, melihat seseorang di hadapannya saat ini.


Ia terisak dan terus meminta maaf pada sang Jiějiě yang setelah sekian lama baginya, tak dapat ia temui setelah kejadian di masa silam.


"Hiks,, selama ini,, hidupku begitu kacau,, hiks,,hiks,, karena kesalahan yang telah ku buat padamu Jiě,, hiks,, aku_ aku, sangat berdosa padamu,, hiks,, lebih dari 4 tahun, hiks,, aku selalu menunggumu Jiě,, hiks..


Aku menunggu,, hiks,, untuk bisa bertemu dengan Jiějiě,,hiks,, dan memohon maaf kepada mu atas perbuatan ku,, hiks,,hiks,, aku,,,"


"Chengcheng,, maaf.."


A Lin memutus kalimat Zi Cheng di sela tangisnya. "Maaf,, telah membuatmu tersiksa selama ini. Maaf,, untuk semuanya."


Tidak ada isakkan dalam ucapannya, namun jelas terlihat ada bulir bulir embun yang telah terjun bebas membasahi pipi a Lin.


"Jangan terus menyalahkan dirimu karena diriku,, hiduplah dengan damai, dan berbahagialah..


Jangan menyimpan kesedihanmu sendiri, berbagilah dengan orang lain,, kau adalah gadis yang baik,, semua orang di sekitar mu sangat menyayangi mu,, mereka bisa merasakan semua kepedihan di dalam hatimu.."


"Hiks,, tidak ada yang lebih menyayangi ku selain Meng Zi Jiějiě dan kau, Jiě. Hiks,, tidak ada yang lebih ku sayangi selain Zizi Jiějiě dan Lin Jiějiě di dunia ini.! Hiks,, hanya kalian,, hiks,, hanya kalian yang kumiliki,, hiks,, kalianlah keluarga ku,, hiks,, kalian segalanya bagiku.."


Cc terdiam. Hanya bisa memandangi kedua orang di hadapannya. Ia tak mungkin mencampuri obrolan keduanya karena ia tahu, sang Jiějiě lebih memahami tentang perasaan di antara dirinya sendiri dan sang lawan bicara.


"Chengcheng,, apa kau sungguh menyayangi Jiějiě?" Tanyanya masih dalam posisi berpelukan.


"Sungguh.. Aku sangat menyayangi mu Jiě, bahkan jika harus mengorbankan nyawa ku pun, aku sanggup." Jawab Zi Cheng yakin.


Mendengar hal yang menurutnya tak masuk akal, a Lin melepas pelukan Zi Cheng. Di tatapnya lekat lekat bola mata yang lebih muda darinya, tak lupa ia menghapus genangan embun di sudut mata sang lawan.


"Chengcheng,, jika kau benar benar menyayangi Jiějiě, dan menganggap Jiějiě berarti dalam hidupmu,, dengarkan apa yang Jiějiě katakan."


Zi Cheng mengangguk dengan gumaman.


"Lupakan masa lalu,, buang semua kenangan buruk yang kau simpan di hatimu. Dan berjanjilah untuk hidup lebih bahagia. Ingat,, hidupmu sangat berharga,, jangan pernah menyiakan untuk hal yang hanya akan menghancurkan mu.


Sayangilah dirimu sendiri, berjanjilah untuk melakukannya demi dirimu sendiri,, hanya itu permintaan Jiějiě.."


Tidak ada tanggapan, atau jawaban dari si empunya yang hanya diam tanpa memandang.

__ADS_1


Di angkat nya dagu Zi Cheng yang menunduk tanpa niat menatapnya.


"Apa kau bisa melakukannya, hm? Anggaplah itu sebagai hadiah darimu untuk Jiějiě,," Pungkasnya setelah tatapan mereka kembali bertemu.


"Mn. Aku akan berusaha." Sahut Zi Cheng tak yakin.


"Jika kau tidak bisa melakukannya,, Jiějiě berjanji akan menghilang untuk selamanya,, agar semua kesedihan yang kau miliki dan kau simpan di hatimu selama ini tak sia sia.!!"


"TIDAK.!!!"


Seketika teriakan Zi Cheng menggema di ruangan tersebut, yang justru membuat yang tertua terkejut dan hampir saja terkena serangan jantung akibat ulah kedua Xiao meimei tersayangnya.


Sedikit sebal, namun a Lin tidak bisa marah. Justru ia merasa lucu dengan respon, dan ekspresi wajah kedua gadis muda di hadapannya.


"Aishh.! Kalian ini..!! Kalian hampir membuat jantung Jiějiě lompat memasuki mulut kalian tahu?!!" Ucapan lembut namun terkesan kasar itu membuat keduanya merasa bersalah telah membuat sang Jiějiě terkejut.


Namun tanpa mereka tahu, jika sebenarnya yang ada di dalam hati sang Jiějiě adalah ia tertawa puas.


"Tidak sia sia aku melakukan trik ini,, ya,,, setidaknya itu berhasil membuat mereka berpikir jika aku akan melakukannya. Haha,, aku memang jahat mengancamnya dengan trik seperti ini, tetapi bagus juga lah, setidaknya itu mungkin bisa merubahnya menjadi lebih baik dan bisa menikmati hidupnya." Gumam hatinya.


"Berbahagialah kalian, jangan lagi menyiakan waktu kalian untuk bersedih,, cukuplah selama ini kalian menderita karena ku. Dan bagaimana pun caranya, akan ku buat perlahan senyum itu bersinar kembali,, agar tak lagi ada kepedihan dihati kalian. Meski sebenarnya itulah yang selama ini ku rasakan.."


Meski hatinya di kuasai kesedihan mendalam, a Lin masih mencoba untuk tersenyum dan berjanji pada dirinya sendiri,, untuk mengembalikan kebahagiaan yang pernah hilang dari kehidupan orang orang yang ia sayangi.


°


~


"Yi Paa,, kapan a Yi bisa keluar dari sini? A Yi ingin pulang,, a Yi rindu Kamar a Yi,, a Yi rindu tidur bersama Yi Paa.."


Wang Yue tersenyum pada si kecil yang tengah menyeruakkan perasaannya.


"Tunggu sampai dokter mengijinkan mu pulang nak,, nah,, biar Papa peluk jagoan kecil Papa yang tampan ini.."


Di usaknya surai lembut milik si kecil, kemudian ia memeluk tubuh mungil tersebut dan membawanya tertidur di atas tubuhnya.


"Mn.! Yi Paa,, ini lebih nyaman.." Ujar si kecil yang telah terbaring di atas tubuh kekar milik sang ayah dalam posisi duduknya, yang telah bersandar sepenuhnya pada sofa di samping ranjang.


"Mn. Tidurlah,, Papa akan menjagamu.."


"Yi Paa,, di_mana Paman_Hao,,? A_Yi, tidak melihat nya,, apa_ Paman Hao, sibuk? Emh,, pasti Paman Hao bersama_ bidadari cantik nya,, hoaammh..."


Si kecil bertanya tanya mengenai sang paman, bukan bertanya yang sesungguhnya, atau menanyakan hal tersebut kepada sang ayah.


Tetapi hanya sebuah gumaman yang masih dapat terdengar ke telinga sang ayah, dengan menguap di akhir kalimat nya.


"Bidadari cantik? Siapa yang a Yi maksud? Apa Paman mu sudah memiliki kekasih?" Tanya Wang Yue penasaran.


"Yi, Paa,, apa Yi_Paa tidak_tahu? Paman, Hao,, sa_ngat me_nyukai,nya,, dia sangat cantik,, se_perti Yi_Maa.." Jelas a Yi dengan suara yang sudah sangat berat untuk terucap.


"Jadi,, apa a Yi mengenalnya?"


Wang Yue kembali bertanya, ia jelas merasa penasaran dengan ucapan putranya.


Namun sayang,, pupus sudah harapan Wan Yue untuk mengetahui nya. Karna putra kecilnya saat ini telah tertidur pulas di pangkuannya.


Padahal baru saja Wang Yue menyandarkan tubuh mungil itu pada dadanya. Siapa sangka, akan sangat begitu cepat ia terlelap. (Jadi posisinya Wang Yue nyandar di sofa trus a Yi di pangkuannya, tidur dengan posisi tengkurap memeluk ayahnya)


Wang Yue lagi lagi tak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya, ia memeluk erat tubuh mungil putranya. Juga,, tak lupa ia menciumi puncak kepala putra kecilnya.


"Sungguh,, aku sangat iri padamu Xiaoxiao,, putra kita begitu mirip dengan mu, dan hampir semua itu milikmu. Tetapi, aku bahagia,, karena itu dapat mengobati rasa rinduku padamu..


Istriku,, damailah disana,, dan jangan pernah melupakan kami disini.. Aku dan putra kita, masih akan setia menunggu kau kembali suatu hari nanti."


Wang Yue menutup matanya, dan segera menyusul putranya ke alam mimpi. Ia juga merasa sangat mengantuk, semenjak a Yi sakit,, ia tidak bisa menyempatkan diri untuk beristirahat.


Ia tidak berpikir bisa untuk memejamkan matanya berang sebentar saja. Wang Yue begitu takut jika ia terlelap,, ia akan melewatkan hal yang menyangkut putranya. Dan ia takkan pernah tahu hal buruk terjadi, jika sampai itu menimpa putranya,, jelas itu akan semakin menambah penyesalan dalam hidupnya.


Itulah alasan ia tak pernah ingin membiarkan dirinya beristirahat, adapun ia tertidur,, itu hanya jika ia benar benar lupa jika ia harus tetap terbangun. (Istilah tidur karna kelelahan, sangking capeknya,letih,lemas,sama tenaga dah gak ada lagi)






__ADS_1


__ADS_2