Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
76


__ADS_3

Wen melirik sekilas pada pria yang lebih muda darinya.


"Perhatikan kondisimu, jangan ceroboh jika kau ingin menjaga keluargamu. Tenang saja,, aku tidak akan pernah menyakiti keluargaku sendiri. Kembalilah ke tempat tidurmu, percayakan padaku, aku akan mengurus sisanya, Kuan Dìdì.."


Usai memastikan tidak ada darah yang mengalir lagi, Wen pergi dengan senyumnya. Meninggalkan Kuan yang merasa aneh dengan kalimat Wen yang menurutnya tidak wajar untuk orang yang tidak saling mengenal, namun merasa yang bersangkutan seolah sangat mengenalnya.


"A Chen_mereka,,"


Wen berjalan dengan langkah cepatnya saat melihat Chen yang mondar-mandir di depan pintu ruangan lain yang masih tertutup rapat.


"Ah,, Ayah dan yang lain masih menanganinya Gē,,"


Chen yang tak kalah paniknya dengan Wen, ia pun menjawab seadanya.


"Yak. Berhentilah menjadi alat pembersih lantai di hadapan ku.! Kau membuatku semakin pusing.!"


"Gē, ini tak ada hubungannya dengan alat pembersih lantai. Aku hanya sedang panik saja kau tahu.!"


"Maka berhentilah membuatku semakin pusing.! Lagi pula ada apa denganmu? Itu tidak akan dapat mengubah apapun.!"


"Yak.! Maka kau juga berhentilah memarahiku.! Karena itu juga tidak akan berpengaruh pada apapun saat kau hanya bisa mengeluarkan emosimu padaku. Dan berhentilah menjadi panik, maka aku akan berhenti.!


Kau pikir aku tak tahu bagaimana rasanya hah?! Tapi aku mencoba lebih tenang dari pada kau yang seperti kehilangan keluarga mu, menangis di sepanjang jalan dengan bertanya bagaimana keluarga ku? Bagaimana keluarga ku?!"


Ya, dan seperti itulah kebersamaan Wen dan Chen ketika keduanya di satukan di tempat yang sama. Tak jauh berbeda dengan Chen dan Wang Yue ketika keduanya bertemu.


Mereka akan nampak seperti orang yang saling kesal, namun sebenarnya itu hanyalah argumen yang menyampaikan rasa kedekatan mereka dengan pemahaman yang lain dari pada yang lain saat menyampaikan nya.


Dan...


Plaakkk...!!


"Yak.! Kau manusia tua yang gila.!! Ada apa denganmu?! Kau selalu saja memukulku tanpa meminta ijin padaku terlebih dulu.!"


"Cih, tenang katamu?! Lebih baik tutup mulut berisik mu itu, atau aku yang akan menyumpat rapat-rapat selamanya.!!"


Begitulah adanya. Ruangan yang sedari tadi di penuhi kekhawatiran, kini menjadi tempat yang ramai dengan suara kedua orang dewasa itu.

__ADS_1


Chen yang kini nampak sangat kesal dengan mengusap sisi kepalanya, dan Wen yang berdiri tegak dengan tatapan membunuhnya.


Keduanya larut dalam dunia mereka sendiri tanpa menyadari seseorang memperhatikan semua yang mereka lakukan.


Tak berselang lama, keduanya kembali pada mode seriusnya saat pintu ruangan tersebut terbuka.


"Paman Ji. Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka baik-baik saja?"


Wen langsung memburu ayah Chen dengan pertanyaan nya.


"Wuah,, ada apa dengan wajah itu anak muda? Hahaha,, apa kau sangat khawatir? Tenanglah, mereka akan baik-baik saja."


Wen kini bisa bernafas lega, setidaknya dirinya masih beruntung keluarganya masih untuh dan akan bisa berkumpul lagi.


"Bagaimana, sudah bisa bernafas bukan? Aaah,,, lihatlah wajah menyebalkan itu, bukankah itu terlihat seperti orang gila yang semakin gila dengan senyum anehnya."


Chen yang juga merasa sangat senang setelah melupakan rasa kesal yang sebelumnya ia rasakan. Kini justru memancing kembali emosi sang lawan dengan godaan yang dilakukannya.


"Anak muda,, perhatikan tingkahmu. Berhentilah mengganggu nya,, kau akan dalam bahaya jika kau terus berperilaku seperti itu padanya.."


"Kau tidak tahu siapa dia,, Ayah hanya memperingatkan mu agar lebih berhati-hati,, atau,,,"


Chen bergidik ngeri saat sang ayah membisikinya, entah itu hanya lelucon atau memang dirinya tak mengenal betul siapa yang ayahnya maksud.


"Baiklah, pekerjaan Ayah sudah selesai, Ayah akan pergi. Kalian urus sisanya."


"Terima kasih Ayah, hati-hatilah saat mengemudi. Sampaikan salam ku pada pujaan hatiku saat kau sampai nanti.."


Chen melambai dengan kalimatnya pada sang ayah, sementara Wen membungkukkan badannya pada yang lebih tua.


"Terima kasih Paman Ji atas pertolongan anda, terima kasih sudah menyelamatkan semua keluarga ku."


"Sudah-sudah,, tidak perlu melakukannya padaku. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kalian semua adalah anak-anak ku, tidak mungkin aku membiarkan kalian terluka begitu saja.


Gadis kecilku, ayo kita kembali. Kau masih belum pantas berkeliaran di sekitar orang-orang dewasa ini."


Yang di tepuk pundaknya tak terima dan menolak ajakan sang ayah.

__ADS_1


"Ayah,, jangan memanggilku seperti itu.. Lagi pula aku sudah dewasa, Ayah pulang saja, aku akan disini membantu Gēgē bodoh itu."


"Wue,, gadis kecil kesayangan Ayah. Apa yang ingin kau lakukan disini? Kau menjadikan ku sebagai alasanmu pada Ayah? Yak.! Jangan berpikir kau bisa berdua dengannya selama aku disini. Sebaiknya kau ikut saja dengan Ayah."


"Wue, Gē.! Apa yang kau katakan.! Lagi pula aku disini hanya untuk,,"


"Untuk menemaninya?? Kau pikir aku tak tahu isi dalam otakmu itu hah?"


"Haakhh.." Terdengar helaan nafas dari yang lebih tua.


"Baiklah-baiklah.. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. Ayah rasa Ayah sudah terlalu tua, untuk memahami situasi kalian."


Tuan Ji memaklumi kedua buah hatinya yang kini telah memiliki kebebasan masing-masing, tak mungkin baginya untuk terus menganggap bahwa kedua putra putrinya itu masih kecil seperti dulu.


Ia berbalik berniat untuk pergi, namun siapa sangka, tingkah kedua putra putrinya kini semakin membuatnya merasa terharu.


"Ayah,,, aku sangat mencintaimu..!!" Teriak kedua bersaudara Ji itu.


Di waktu bersamaan, keduanya memeluk tubuh sang ayah dengan erat.


"Ayah, kau yang terbaik. Kau yang selalu mengerti kami, beri tahu Ibu, kami akan pulang setelah semuanya selesai." Ucap kedua secara bergantian.


"Baiklah, Ayah pergi dulu. Ingatlah untuk segera pulang, Ibumu selalu menunggu di rumah. Dan kau, sebagai saudara tertua, kau jagalah gadis kecil Ayah ini. Meskipun penampilannya seperti dirimu, jangan lupa jika anak nakal ini adalah seorang gadis."


Ada guratan ketidak sukaan di wajah a Xiang mendengar kalimat sang ayah.


"Tenang saja Ayah. Aku tahu. Akan ku jaga peri kecil kesayangan mu ini dengan sangat baik. Dan ku pastikan setelah ini gadis bodoh ini akan sepenuhnya mengubah penampilannya menjadi seorang gadis yang normal."


Gelak tawa ayah dan anak itu pun tak tertahankan. Meninggalkan seorang putri cantik dengan penampilan tomboinya yang kini memasamkan wajahnya.


Namun tak berselang lama, keduanya kini melambaikan tangan dengan senyum lebarnya saat sang ayah mulai melangkah pergi. Tak peduli jika mereka tengah menjadi objek perhatian semua orang yang berkumpul di tempat tersebut.


Beberapa di antara mereka justru tak menyangka jika a Xiang adalah seorang gadis yang berpenampilan seperti laki laki.


Jika saja di antara mereka ada Wang Yue, mungkin ia akan menjadi orang pertama yang menggoda Chen dengan tingkah yang tak biasa itu.


~

__ADS_1


__ADS_2