Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
24


__ADS_3

Dokter cantik itu menghentikan langkahnya mendapati seorang pria bertubuh tegap berdiri memunggunginya.


"Selamat sore Tuan Kuan Yue, bagaimana kabar anda hari ini? Maafkan saya terlambat mengunjungi anda.." Sapanya sopan.


"Ah, Nona Lu,, maaf_ saya tidak menyadari kedatangan anda. Ya, seperti yang anda lihat saat ini. Saya sangat lebih baik dari sebelumnya." Sahut pria itu dengan membalikkan badannya.


"Ah,, ya. Bukankah ini sudah lewat dari jam kerja anda? Bukankah seharusnya anda sudah meninggalkan rumah sakit, saat ini?


Dan,,


Pagi ini Chengcheng mengatakan sebelumnya bahwa anda tidak datang untuk pemeriksaan, karena alasan yang penting. Apa ada sesuatu yang penting yang membuat anda datang?" Ujar seseorang tersebut tanpa basa-basi.


"Maaf untuk hal itu. Hari ini jadwal saya sangat padat hingga saya tidak dapat datang untuk memeriksa keadaan anda, itulah sebabnya saya datang sore ini untuk memenuhi tanggung jawab sebagai seorang dokter." Jelas dokter cantik itu dengan tidak mengurangi rasa gugupnya.


"Nona Lu, saya tahu anda tidak pandai berbohong. Dan saya juga tahu, alasan anda menemui saya karena Chengcheng yang meminta anda untuk datang.


Saya tahu, jika kalian akan memaksa saya untuk tidak bertemu dengan a Xiao, itulah sebabnya kalian berada disini. Benar begitu Nona?"


Tak.!


Serasa ada sesuatu yang terjatuh tepat menimpa kepalanya, Zi Cheng dan Lulu terdiam.


"Meskipun kalian tetap akan melakukan hal demikian, saya akan tetap menemui a Xiao. Karena saya tidak akan pernah bisa tenang jika belum bertemu dengannya.


Kalau begitu saya permisi. Tolong jangan halangi jalan saya."


"Dimana anda akan menemuinya? Apa anda tahu dimana dia berada?"


"Dimana pun, saya masih bisa mencarinya."


"Mengapa anda tidak menanyakannya kepada kami?"


"Karena saya tahu, akan sia-sia jika saya bertanya kepada orang-orang yang tak ingin memberikan kesempatan pada saya. Yang hanya akan menutupi keberadaannya dariku selama ini."


Lulu memejamkan matanya sebelum kembali mengatakan sesuatu.


"Ikuti saya jika anda benar-benar ingin bertemu dengannya."


Setelah mengatakan demikian, dokter muda nan cantik itu berlalu berjalan mendahului Zi Cheng dan seseorang di depannya.


"Binbin??"


Lulu terkejut melihat Lubin yang berdiri tepat di hadapannya.


"Ba_bagaimana kau sampai disini? Bukankah Jiějiě menyuruhmu kembali lebih dulu?" Ucapnya dengan sedikit gugup.


"Maaf Jiě, aku mengikuti Jiějiě sampai memasuki ruangan ini. Apa Jiějiě sungguh-sungguh ingin membawanya bertemu dengan Lin Jiějiě?"


Tanpa ragu Lulu mengangguk.


"Mn. Jiějiě sudah memikirkannya. Mungkin tidak ada salahnya Jiějiě membawanya bertemu a Lin."


"Tapi Jiě, apa itu akan baik baik saja? Dia,, dia adalah orang dari bagian masa lalunya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Lin Jiějiě?"


Lulu menggeleng, kemudian menarik jemari Lubin yang menunjuk seseorang di belakannya.


"Baiklah jika itu keputusan Jiějiě, semoga saja itu tidak membuat keadaan memburuk nanti."


"Apa kau ingin bertemu dengannya? Ikutlah,, a Lin pasti akan senang bertemu dengan mu."

__ADS_1


Lubin mengangguk tanpa ragu, kemudian berjalan mengekori sang Jiějiě dari belakang, di ikuti kedua orang di belakangnya.


Sesampainya di pintu ruangan dimana a Yi dan sang ibu serta yang lainnya, kedua orang di belakang nampak ragu untuk memasuki ruangan tersebut.


Bukan Lulu, ataupun Lubin tentunya. Melainkan Zi Cheng dan sang kekasih hati yang entah mengapa justru merasa bimbang.


"Gē, ada apa?" Tanya Zi Cheng di tengah kebimbangannya.


"Chengcheng,, kau benar. Mungkin lebih baik kita tidak menemuinya, entah mengapa aku justru tidak siap untuk bertemu dengannya."


"Sungguh sangat di sayangkan jika anda pergi. Mungkin tidak saat ini, tidak juga lain waktu. Jika anda ragu, sebaiknya jangan mengambil keputusan disaat emosi menguasai pikiran anda.


Karena tidak banyak orang yang memiliki kesempatan kedua setelah mereka membuang kesempatan yang mereka miliki."


Lubin, ia lebih dulu memasuki ruangan di hadapannya setelah mengatakan demikian. Meninggalkan Lulu yang diam menunggu keputusan kedua orang di depannya.


"Jika sudah di pikirkan, sebaiknya segera putuskan. Jika anda benar-benar memutuskan untuk pergi, saya tidak akan memaksa anda untuk bertemu dengannya.


Tetapi jika anda memilih untuk tetap masuk dan bertemu dengannya, mungkin itu bisa mengurangi sedikit beban di hati anda."


Lulu melangkahkan kakinya untuk melewati pintu ruangan di hadapannya, namun langkahnya terhenti tepat di tengah pintu ruangan tersebut.


"Saya akan menunggu keputusan anda. Saya harap anda tidak membuang kesempatan yang saya berikan pada anda."


Setelahnya, Lulu benar-benar meninggalkan keduanya.


Tak lama setelah tubuh Lulu menghilang di balik pintu ruangan tersebut, tiba-tiba saja tangan Zi Cheng di tarik paksa oleh sang kekasih hati.


Dengan masih tersisa sedikit keraguan di hatinya, gadis itu hanya diam mengikuti kemana langkah sang kekasih berjalan.


Tepat saat dirinya berada di dalam ruangan tersebut, langkah keduanya terhenti.


Mereka hanya mengamati kehangatan di tengah canda tawa sang empunya yang di pandang. Sungguh,, pemandangan yang sangat tidak biasa menurut mereka yang berada di sekitar Xiao Lin.


Lulu berdehem cukup keras, untuk mengalihkan perhatian Xiao Lin padanya.


"Binbin..!!" Seru Xiao Lin saat pandangannya tertuju pada Lulu dan melihat Lubin di sampingnya.


Namun Xiao Lin tak menyadari kehadiran kedua orang lainnya.


"Jiě," Sapa Lubin pelan, dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekati Xiao Lin.


"Syukurlah, kau baik-baik saja. Aku tak menyangka akan kembali bertemu dengan mu. Aku sangat bahagia tuhan melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang berarti bagiku." Ucap Xiao Lin dengan pandangan menyendu.


"Jiě,, aku juga bahagia, karena tuhan telah mengembalikan seorang keluarga, seorang Jiějiě, dan seorang penyelamat seperti mu pada kami."


Tanpa aba-aba Xiao Lin menubruk tubuh Lubin tepat saat Lubin berada di depannya.


Namun seketika tubuh Xiao Lin menegang, tepat saat dirinya memeluk Lubin. Pandangannya lurus kedepan.


"Jiě,! Xiao Lin Jiě, ada apa? Xiao Jiějiě.! Hey,, ada apa Jiě?!"


Lubin panik, saat merasakan cengkeraman di punggungnya cukup keras. Berkali-kali dirinya memanggil Xiao Lin namun tak ada sahutan.


Menyadari hal tersebut, Wang Hao dan yang lainnya mendekati Lubin.


Namun saat pandangan mata Wang Hao tertuju pada arah pandang Xiao Lin, Wang Hao mengerti sebab dan alasan nya.


"A Lin, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lulu panik.

__ADS_1


"Lin Jiějiě.! Lin Jiějiě.!! Apa yang terjadi? Apa kau mendengar ku?" Cc ikut membuka suaranya.


Tak berbeda dengan Wang Hao. Lulu, Cc dan Zi Cheng, mereka ikut mengikuti arah pandang Xiao Lin yang tertuju tepat pada seseorang di samping Zi Cheng.


"Jiě. Tenanglah,, tidak apa. Semua baik-baik saja. Sekarang kita kembali ke tempat duduk mu saja, Jiějiě pasti lelah."


Lubin mencoba menenangkan Xiao Lin dan perlahan menuntun tubuh sang Jiějiě pada ranjang di hadapannya, di mana mahluk kecil mungil nan menggemaskan tengah mengamati mereka dalam diam.


Sementara si empunya penyebab Xiao Lin menjadi tegang, kini hanya bisa merasa bersalah telah membuat Xiao Lin terganggu dengan kehadiran nya.


Hal serupa terjadi pada Wang Hao, ia terdiam membatu di tempatnya setelah melihat seseorang yang sama.


Tidak ada ekspresi lain, selain wajah datar yang ia tampilkan saat ini. Bisa dibilang sangat tenang dan sangat datar, membuat Cc yang berada tepat di sampingnya menjadi keheranan.


"Ada apa dengan ekspresi wajah anda? Apa ada sesuatu yang menggangu anda?" Bisik gadis itu, namun tak mendapat respon dari si empunya.


"Hey Tuan. Ada apa dengan anda? Mengapa anda menjadi seperti Lin Jiějiě?!" Untuk kedua kalinya, ucapan gadis itu terabaikan.


"Oyy. Tuan Wang Hao.!! Ada apa dengan mu?!! Sadarlah.!!!"


Cc yang kesal karena ucapannya tidak di respon oleh Wang Hao, berteriak cukup keras dengan menampar wajah pemuda itu. Berharap agar si empunya tersadar.


Dan,,, ya. Hal itu berhasil. Wang Hao benar-benar kembali ke alam sadarnya, namun masih tetap tak merespon ucapan Cc.


"Tak ku sangka, ternyata itu mampu mengembalikan kesadaran mu. Hahh,,, entah mengapa aku merasa heran melihat mu dan Lin Jiějiě menjadi aneh setelah melihat orang itu."


Gadis itu bergumam sembari menunjuk seorang yang masih berdiri di dekat pintu bersama Zi Cheng.


"Eh,,? Lin Jiějiě.? Benar, Lin Jiějiě. Astaga, aku malah melupakannya hanya karena menyadarkan tuan muda Wang menyebalkan ini.!" Gumamnya kembali dengan menepuk keningnya sendiri.


"Xiao Jiě,jiě?? Xiao_ Jiě,,"


beberapa kali mengulang kalimatnya dengan lamban, seperti seorang anak yang tengah belajar menghafal kalimat.


"Eh,,,? Ibu.!!"


Seolah tersadar dengan apa yang tengah ia ingat, Wang Hao dengan langkah cepatnya mendekati Xiao Lin dengan suara nyaring nya.


"Ibu.!! Apa Ibu baik-baik saja??" Tanyanya tergesa, namun hanya mendapat sentuhan lembut di kepalanya. Serta senyuman hangat yang terlukis di wajah sang Jiějiě.


Meski begitu, Wang Hao tahu, senyum itu hanyalah senyuman kepalsuan untuk menutupi luka di dalamnya.


"Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja hm?"


Bukan jawaban yang terucap, melainkan pertanyaan yang di tujukan kepadanya. Wang Hao terdiam untuk beberapa saat, sebelum menganggukkan kepalanya kemudian.


Namun Xiao Lin juga sangat tahu, jika sebenarnya Wang Hao tidak merasa nyaman saat ini.


"Yi Maa,,"


Suara si kecil yang sedari tadi diam dengan pandangan khawatir, kini mulai membuka suaranya kembali, memanggil sang Ibu tercinta.


"Yi Maa, apa Yi Maa baik-baik saja? Mengapa Yi Maa bersedih lagi?"


Pertanyaan sederhana namun mampu membuat Xiao Lin tersentuh. Sungguh,, ia merasakan benar-benar di perhatikan oleh orang-orang terdekatnya.


"Yi Maa baik sayang,, apa a Yi menginginkan sesuatu, hm?" Tanya Xiao Lin dengan gemas.


"Mn. A Yi ingin melihat Yi Maa terus tersenyum seperti ini, dan jangan lagi menangis. Karena a Yi benci melihat Yi Maa bersedih.."

__ADS_1


Seketika Xiao Lin memeluk putranya, dengan kembali ia ucapkan beribu rasa syukur di dalam hatinya karna memiliki seorang malaikat kecil seperti a Yi, putra tercintanya.


Sementara itu, Zi Cheng dan sang kekasih kini memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2