
Pria bernama Chen itu tersenyum, ia membalas pelukan pria dewasa itu dengan sesekali menepuk punggungnya.
"Mn. Ini aku Gē, aku kembali. Apa sudah mengingat ku sekarang?" Ucapnya pelan, mengabaikan seseorang di sisi mereka yang kini benar-benar tengah mengalami goncangan hatinya.
"Bocah nakal. Mengapa sudah sebesar ini baru kembali? Bagaimana kabarmu? Gēgē pikir kau melupakan Gēgē dan tidak ingin menemui Gēgē lagi."
"Banyak hal yang harus ku lakukan selama ini Gē, maaf tidak memberi mu kabar. Kabarku baik-baik saja seperti yang kau lihat saat ini. Dan jangan pernah katakan jika aku tak ingin menemui mu lagi, karena kini aku kembali untuk mu, untuk kalian."
"Kalian??" Tanya pria kekar itu seraya melepas pelukannya.
"Mn. Kalian. Tentu saja,, Dìdì tersayang mu si kepala batu itu." Sahutnya, memberi penjelasan pada Kuan.
Chen tak sengaja menurunkan pandangannya ke bawah, tatapan nya kini tertuju pada seseorang yang sedari tadi duduk di samping Kuan sebelum ia memeluk dirinya.
"Euu,,o,oouu,,,, Gē. Dari pada itu, sebaiknya perhatikan saja,,"
Chen terus menggerakkan bola matanya yang tertuju pada gadis yang kini terlihat suram. Menginstruksikan agar sang Gēgē memperhatikan sang kekasih yang kini nampak begitu kesal.
Kuan yang tak mengerti hanya dapat mengeluarkan suara selayaknya nafasnya yang ia hembuskan kasar, tanda ia bertanya.
Chen menghela nafasnya dengan menggeleng, tak ingin membuat Zi Cheng salah paham padanya, ia membalikkan tubuh Kuan agar menghadap pada sang kekasih hatinya.
"Ada apa? Mengapa murung?"
Zi Cheng terkejut dan mendongakkan kepalanya saat tiba-tiba sang kekasih menyentuh lembut kepalanya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak ada apa-apa antara aku dengan Qi'er selain hubungan saudara. Jadi jangan beranggapan berlebihan pada kami." Jelas Kuan kemudian.
"Ti_tidak. Kau saja yang berpikir seperti itu.!!!" Sangkal Zi Cheng.
Ia menjadi salah tingkah saat telapak tangan besar sang kekasih membelai pipinya, yang seketika membuatnya serasa panas dan memerah.
"Benarkah??? Sungguh,, kau benar-benar tidak merasa cemburu???" Lanjut Kuan bertanya, kali ini dengan wajah yang ia buat terlihat kecewa.
"Y_ya.! Siapa yang cemburu.! Aku tidak.!!" Sangkalnya kembali dengan lantang.
"Oh,, begitu.."
Pria itu menampilkan wajah yang ia buat sedemikian rupa agar terlihat sangat kecewa atas pengakuan Zi Cheng.
"Ah, Qi'er,, lama tak mendengar kabar Paman juga Bibi, bagaimana keadaan mereka saat ini?"
Kuan membalikkan badannya menghadap Chen, mengabaikan sang kekasih yang kembali kesal padanya.
"Mereka baik-baik saja Gē. Setelah semua urusan beres, mereka pasti datang menemui mu." Papar Chen.
Saat ingin membalas kalimat Chen, Lulu dan Cc datang, embuat Kuan membatalkan niatnya untuk berbicara.
"Binbin,, jika kau senggang, tolong ikut bersama Jiějiě. Cc, tetaplah disini. Segera beri tahu Jiějiě jika ada perkembangan tentang Wang Hao." Ucapnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut bersama Lubin.
__ADS_1
Tak lama setelah kepergian kedua bersaudara itu, pintu ruangan tiba-tiba di ketuk.
"Siapa yang mengetuk? Apakah tamu? Jika itu Binbin, atau Lu Jiějiě tidak mungkin melakukannya."
Cc berinisiatif membukakan pintu, bagaimanapun sang pemilik ruangan tidak berada di tempat, jadi ia pikir harus membukanya.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Cc sopan pada seseorang pria yang sebelumnya mengetuk pintu.
"Ah, maaf mengganggu. Saya ingin bertemu dengan Tuan Wang, apa bisa?" Sahutnya tak kalah sopan.
"Oo,, Tuan Wang,,, ah,, ya. Silahkan masuk.."
Cc menutup pintu dengan rasa penasaran yang tinggi, batinnya bertanya-tanya tentang siapa laki-laki tersebut.
"Eh,, dari mana Tuan tua ini berasal? Mengapa tiba-tiba datang,,? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan disini Tuan W,,,"
Chen yang masih berdiri di tempatnya seketika mengoceh tak jelas pada seseorang yang datang bersama Cc.
Namun ucapannya tak berlanjut saat si empunya mengeluarkan aura mengancam, dengan wajah sangar serta mata yang siap keluar dari sarangnya pada saat itu juga.
"Ah,, rupanya ada si mahluk aneh disini. Bagaimana kabarmu? Sudahkah kau meminum obatmu hari ini? Jika belum, biar ku bantu meminumkannya disini.
Sekali gus untuk membuat orang-orang di sekitar mu ini tahu bahwa seorang konyol seperti mu adalah orang yang tidak cukup wa,,"
Tak terima dengan kalimat-kalimat yang di lontarkan sang lawan bicara, Chen melangkahkan kakinya untuk mendekat dengan ocehan tak kalah heboh.
"Wue. Apa yang kau maksud dengan itu Gē.! Jangan berulah denganku, atau aku bisa mengatakan jika kau,,,"
"J_jika... Ah,hahaha... Jika k_kau adalah Gēgē yang sangat baik dan tampan. Hehee,, i_itu maksudku."
Tak berani beradu ocehan dengan sang lawan, Chen menyerah dengan cengiran konyolnya. Membuatnya terlihat aneh dan bodoh di hadapan orang-orang di sekelilingnya.
"Eh,,? Wen Gē. Apa yang membuat mu datang kali ini? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan.?" Tanyanya penasaran.
"Hanya mengirim beberapa berkas dan beberapa pakaian ganti."
"Oh,, si Tuan muda kepala batu itu rupanya. Mengapa tak memintaku saja untuk mengambil, malah menyuruhmu datang sendiri. Merepotkan saja."
Chen menggerutu yang kemudian di dengar oleh beberapa orang di sekitarnya.
"Apa yang kau ributkan? Lihatlah dirimu, itu membuat mu terlihat semakin aneh dan tidak waras kau tahu."
"Heuumm. Terserah kau sajalah Gē." Pasrah Chen yang tak ingin berdebat.
"Gē, duduklah dulu, biar ku panggilkan si batu itu untuk keluar."
Semula tidak ada yang aneh dengan lelaki yang bernama Wen itu, hingga saat dirinya bertemu tatap dengan sepasang kekasih yang sedari tadi duduk pada sofa membelakangi mereka, wajahnya berubah seketika.
"She,, Kuan Dìdì.." Gumamnya jelas, meski sedikit tersendat, namun itu dapat dengan jelas terdengar oleh mereka.
__ADS_1
"Tuhan, terima kasih telah menyelamatkan nya.."
"Ya. Maaf, Tuan ini, bisa saya tahu, apa kita saling mengenal?" Tanya Kuan mencoba mencari kalimat yang pas untuk bertanya.
"Gē, ada apa? Duduklah. Minumlah ini," Chen membantu si empunya duduk, sebelum menyodorkan segelas air untuknya.
"A Chen,, apa aku tak salah lihat?" Tanyanya pada Chen, tanpa menjawab pertanyaan Kuan terlebih dahulu.
"Ah??"
Chen yang juga tak mengerti maksud pertanyaan nya, hanya melirik bingung si empunya.
"K,kuan,, Kuan Dìdì. Benarkah aku tak salah?"
"Tidak. Memang benar Kuan Gē. Apa kau senang Wen Gē?"
Sementara Wen tersenyum bahagia, berbeda dengan Kuan, Zi Cheng dan Cc yang kebingungan.
"Kuan Dìdì, mungkin kau memang tak mengenalku. Tetapi, melihat mu selamat dan baik-baik saja seperti ini adalah suatu kebahagiaan bagiku. Aku bersyukur kalian semua baik-baik saja, 'Milikku pasti akan senang mendengarnya." Ucap Wen semangat.
"Hn. Jadi apa kita harus merayakannya?" Timpal Chen, membuat Kuan kembali urung untuk bersuara.
"Hahh,,, baiklah, akan ku pikirkan nanti. Saat ini lebih baik aku temui Yue'er terlebih dahulu, sampai jumpa semuanya."
Chen melongo bodoh melihat perubahan suasana hati lelaki dewasa yang bernama Wen itu.
"Hahh,,," Hela nafasnya terdengar jelas namun begitu santai.
"Dia benar-benar bahagia hanya dengan bertemu seseorang, konyol sekali." Sambungnya bergumam.
"Qi'er,, Qi'er.!"
"Ah, ya. Mengapa kau memanggilku Gē? Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak. Hanya saja,,, itu sangat menggangu ku dengan wajah seperti itu." Sahut Kuan sambil menunjuk wajah sang lawan bicara.
"Aku???" Ulang Chen, menunjuk wajahnya sendiri.
"Mn. Apa kau memikirkannya lagi.?"
Chen tersenyum dan menggeleng. "Tidak Gē, itu tidak sengaja." Aku nya kemudian.
Kuan sedikit menganga mendengar jawaban Chen, namun hanya beberapa detik saja.
"Siapa laki-laki tadi? Mengapa dia tampak begitu mengenal ku?"
"Dia,, ah, begini. Anggap saja dia adalah orang seperti ku, yang sedikit menyukai mengusik kehidupan orang lain.
Tetapi anggaplah dia orang yang baik, karena dia tidak pernah memiliki niat jahat pada orang lain." Papar Chen, singkat, seolah tak ingin membahas lebih jauh tentang Wen.
__ADS_1
Sementara itu, Wen yang kini berada di dalam ruangan yang sama dengan Wang Yue serta keluarga kecilnya, kini semakin merasakan sesuatu menghiasi hatinya.