
Air mata Wang mengalir semakin deras, saat tiba-tiba Xiao Lin menolak untuk ia dekati.
"Xiaoxiao,," Gumamnya sangat lembut, ia menggeleng tak percaya, melihat istrinya sangat ketakutan dengan dirinya.
Ia terkejut dengan reaksi sang istri tercintanya, yang histeris melihat dirinya. Hingga hampir saja mendorong putranya sendiri yang masih berada dalam pangkuannya.
Beruntung, meski dalam keadaan syok, Wang Yue masih sigap dan tanggap. Sehingga ia masih dapat menyelamatkan putranya, yang hampir saja terjatuh dari atas ranjang.
Si kecil yang mengalami hal serupa dengan sang ayah, yaitu syok melihat sang ibu, kini kembali menitihkan air matanya dalam gendongan sang ayah.
Sementara Lulu dan Cc, mereka dengan cepat menenangkan Xiao Lin yang masih menangis histeris.
Mereka membaringkan tubuh Xiao Lin yang kini mulai tenang setelah Lulu menyuntikkan obat penenang padanya. Kemudian keduanya mengganti selang infus pada tangan Xiao Lin, dan mengobati luka pada punggung tangan Xiao Lin yang kini berdarah karena tekanan saat dirinya histeris tadi.
"Sebelumnya saya mohon maaf Tuan Wang,, bisa kita menunggu di luar? Kita harus membiarkan a Lin beristirahat." Ucap Lulu sopan.
"Saya mohon, ijinkan saya menemani Xiaoxiao disini. Saya ingin menjaganya." Pinta Wang Yue tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Xiao Lin.
"Dengan berat hati, kami mohon maaf Tuan. Lin Jiějiě harus beristirahat total, jadi tidak ada siapapun yang boleh berada disini. Karena Jiějiě membutuhkan ketenangan untuk pemulihan, danitu akan mengganggu waktu istirahat nya." Timpal Cc, mencoba memberi penjelasan.
"Saya mohon,, ijinkan saya disini untuk menjaga istri saya. Lagi pula saya tidak akan mengganggunya, jadi mohon dengan sangat ijinkan saya menemaninya." Mohon Wang Yue dengan pandangan terluka.
"Istri??" Gumam keduanya, yang semakin merasa bingung mendengar pengakuan Wang Yue.
"Hiks,, hiks,, Bi_bi Lu_lu,, Bi,bi Cc.. Hiks,, to_long, be_ri Yi Paa, i_jin. Hiks,, untuk me,nemani, Yi Maa. Hiks,,hiks,,hiks,, selama ini, Yi Paa, dan Yi Maa, tidak pernah bertemu, hiks,, Yi Paa, sangat sedih, hiks,,hiks,, sam,pai Yi Paa, lupa makan,, hiks,,hiks,,hiks,, juga lupa untuk istirahat. Hiks,,
Yi Paa_selalu sibuk bekerja, hiks,, itu karena Yi Paa, terus saja memikirkan Yi Maa. Hiks,, a_Yi, sakit. Setiap,melihat Yi Paa, menangis_ hiks,, sambil memeluk, foto Yi Maa. Hiks,, sama seperti a_Yi melihat Yi Maa menangis, sakit.. Hiks,,hiks,, sangat sakit rasanya.." Ujar si kecil dengan suara tangis yang tersendat.
Sementara sang ayah yang mendengar permintaan, sekaligus pengakuan dari putranya, merasa sedikit heran, dari mana putranya tahu tentang hal yang selama ini ia tutup-tutupi.
Ah, atau mungkin Wang Yue lupa bahwa a Yi adalah putranya, darah dagingnya sendiri. Jadi, apapun yang ia rasakan si kecil akan bisa merasakannya.
Lagi dan lagi, kekuatan si kecil menyihirnya untuk tidak menolak permohonannya.
"Baiklah, saya ijinkan. Tetapi ada beberapa hal yang harus kita bicarakan Tuan, tolong ikuti saya."
Dokter cantik itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut usai memberikan ijin pada Wang Yue.
__ADS_1
"Bibi,, mengapa Bibi Lulu mengajak Yi Paa keluar? Apa Bibi akan memarahi Yi Paa Bibi??" Tanya si kecil dengan memandang punggung sang ayah yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Mm? Mana mungkin Bibi melakukannya, apa Bibi terlihat akan memarahi Papa a Yi, hm? Bibi hanya ingin berbicara dengan Yi Paa saja nak, bukan untuk memarahi nya.." Jelas Cc dengan tersenyum gemas.
A Yi kembali dalam pangkuan Cc sembari menunggu sang ibu yang kembali terlelap dalam tidurnya.
Sementara Lulu dan Wang Yue kini berada di ruangan dimana Lulu biasanya menyibukkan diri dengan tumpukan-tumpukkan kertas laporan kesehatan pasiennya.
"A Cheng,, kau masih disini?" Sapa Lulu pada Zi Cheng.
Namun, lagi-lagi nampaknya Wang Yue dikejutkan dengan hal yang tak terduga di hadapannya.
"Mn. Tadinya kami berniat membeli beberapa makanan, tetapi Bin Gē mengikuti dari belakang lalu meminta kami untuk kembali." Terang Zi Cheng.
Lulu hanya mengangguk sebagai balasan, keduanya tidak menyadari kedua orang lain di belakang mereka terdiam bagaikan patung bernyawa namun tak bersuara.
"Tuan Wang,, mari ikuti sa,,"
Dokter cantik itu menggantung ucapannya saat menolehkan wajahnya, dan melihat sang empunya yang ia ajak bicara tak merespon.
Hanya terdiam tak bergeming di tempat, dengan hanya dada bidangnya yang terlihat terus bergerak seraya irama nafasnya berhembus.
"Untuk apa anda datang kemari."
Suara bariton Wang Yue membuyarkan lamunan ketiga orang di sekelilingnya.
Sementara salah satu orang di sisi Zi Cheng terlihat ingin mengucapkan kalimat, sebelum akhirnya Wang Yue kembali bersuara.
"Apa anda lupa dengan apa yang pernah saya katakan dulu, bahwa saya tidak akan pernah memaafkan anda, meski anda telah tiada."
Meski amarah menguasai dirinya, namun Wang Yue masih berusaha tetap menggunakan kalimat yang pantas pada orang lain, setidaknya itu menurut dirinya sendiri.
Merasakan ketegangan melingkupi sekitarnya, Lulu terus bertukar pandang dengan Zi Cheng. Namun gadis itu sendiri sama seperti dirinya, tak mengetahui apa yang terjadi, hanya menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti.
Sementara satu orang lainnya, nampak masih tak bergeming. Sedangkan satu orang lainnya hanya diam menyaksikan keempat orang di seberangnya dengan malas.
"Dan saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi anda, jika anda berani menampakkan diri di hadapan saya." Sambungnya.
__ADS_1
"Bukan hanya itu, saya juga tidak akan pernah melepaskan kalian. Siapapun yang terlibat, takkan pernah saya biarkan kalian hidup dengan damai."
Selepas mengutarakan semua kekesalannya, Wang Yue membalikkan badan. Berniat kembali memasuki ruangan dimana istri dan putranya berada, sebelum akhirnya suara seseorang mengganggu pendengaran nya.
"Dìdì."
Langkahnya terhenti, sebelum jemari tangannya menyentuh gagang pintu di hadapannya.
"Siapa yang anda maksud dengan itu. Tuan Shen, Kuan?!!."
Wang Yue melirik dengan ekor matanya. Ucapannya sedikit menggeram, dengan nada yang sangat datar tanpa membalikkan badan.
"Shen Yue Dìdì, apa benar kau masih membenciku?"
Bukannya marah, seseorang yang ternyata bernama Shen Kuan itu, masih terus berusaha mengajak Wang Yue berbicara.
Wang Yue yang telah di kuasai emosi sebelumnya, kini mendengar ucapan lawan bicaranya itu, membuat Wang Yue semakin tersulut amarahnya.
"Siapa yang kau sebut Dìdì?!! Aku tidak pernah memiliki seorang keluarga seperti dirimu.!!"
Wang Yue terus mengeluarkan semua kekesalannya, tanpa peduli dengan orang di sekitarnya yang semakin tak mengerti dengan drama yang terjadi di hadapannya.
"Apa hatimu benar-benar tak memberi maaf untuk ku? Dìdì,, apa kau tahu, selama ini Gēgē mencarimu juga Xiǎo mèimei. Gēgē ingin kita kembali bersama seperti dulu, Gēgē rindu saat dimana keluarga kita bersatu." Terangnya dengan suara yang terdengar begitu dalam, dan menyimpan begitu banyak makna tak tersampaikan.
"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu.!!! Lebih baik kau menjauh dariku sekarang.! Sebelum aku mematahkannya.!!"
Wang Yue dengan reflek menangkis lengan kekar Shen Kuan yang mengaku sebagai keluarganya, dan berniat menyentuhnya.
"Wang Yue.! Cukup.!! Jangan membuat keributan di waktu yang tak tepat."
Chen yang sedari tadi merasa muak menyaksikan, mencegah Wang Yue karena khawatir sahabatnya lepas kendali. Kala melihat Wang Yue yang siap melayangkan pukulan kapan saja pada Shen Kuan.
"Kuan Gē, duduklah. Kita bicarakan ini baik-baik." Ucapnya berusaha mencairkan suasana, karena ia sadar,, diantara mereka, hanya dirinya yang tahu tentang masalah yang terjadi pada kedua saudara tersebut.
"Yue'er.!! Kau juga duduklah.!! Jangan coba untuk pergi.!! Selesaikan ini sekarang, atau kau akan menyesalinya nanti.!!" Sambungnya, sedikit menggertak sang sahabat yang berniat kembali memasuki ruangan lain.
"Sebaiknya kau diam.! Sebelum aku menutup rapat mulutmu itu.!!"
__ADS_1
Seketika Chen memegangi bibirnya, mendengar ucapan Wang Yue. Walau itu hanya gertakan, namun tetap saja ada rasa takut merasuki pikiran Chen saat Wang Yue mengatakannya.
"Kau masih tak berubah Yue'er, kau akan menyesal jika terus melarikan diri seperti ini." Gumam Chen memandang punggung sang sahabat.