
°
~Rumah sakit.
Pagi ini Zi Cheng tengah menyiapkan diri sebelum membuka pintu ruangan di hadapannya.
Ia melangkahkan kakinya usai di rasa siap untuk memasuki ruangan tersebut.
"Chengcheng,, kau datang?" Sapa seorang lelaki tampan dengan suara lembut nan tegas khas miliknya.
"Mn. Hari ini adalah hari terakhir kau di rumah sakit. Jadi aku harus datang dan tidak boleh melewatkannya." Sahut Zi Cheng dengan langkah cepatnya.
"Kau berlebihan sekali.."
"Hahh,,!" Terdengar helaan nafas dari Zi Cheng.
"Akhirnya,,, setelah sekian lama, hari ini kau bisa meninggalkan tempat membosankan ini Gē."
"Hn. Kau terlihat sangat bahagia."
"Mn. Tentu." Sahut Zi Cheng cepat, sembari membereskan beberapa barang miliknya dan seseorang yang bersamanya saat ini.
"Begitukah?"
"Apa kau tidak merasa senang bisa meninggalkan rumah sakit yang membosankan ini Gē? Tempat ini serasa penjara yang mengurung mu, menyita waktumu sia sia selama ini.
Aku saja yang hanya mondar-mandir ke tempat ini bosan, apa lagi kau yang selama bertahun-tahun tidur disini." Ucapnya dengan lantang.
"Aku pikir kau juga sama seperti ku, jika saja bukan kau,," Sambungnya kemudian yang dengan tiba-tiba memutus ucapannya.
"Mungkin aku tidak akan membiarkan diriku datang kesini." Pungkasnya dengan menolehkan wajahnya pada sang lawan bicara.
"Tentu saja kau tidak akan mendatangi rumah sakit, atau bahkan menjenguk sampai menemani seseorang yang tidak kau kenal. Apa kau bercanda?" Sahut sang lelaki tampan tersebut dengan senyum di sertai gelengan kepala nya.
"Heumm. Kau benar juga Gē."
Zi Cheng kembali melanjutkan acara berberes nya, sedangkan seseorang di belakangnya kini hanya memandangi punggung sang gadis manis yang tengah membelakanginya.
__ADS_1
"Chengcheng,," Panggilnya kemudian setelah beberapa saat terdiam.
Zi Cheng sendiri yang masih asik dengan kegiatannya, hanya menanggapi dengan gumaman.
"Bagaimana kabar a Lin? Apa dia dia baik-baik saja?"
"Aku tak tahu pasti Gē," Sahutnya dengan mendekati si empunya yang bertanya.
"Tapi mendengar dari apa yang Lu Jiějiě katakan, keadaannya jauh lebih membaik sekarang. Ah,, ya. Pagi ini aku bertemu dengannya, tetapi hanya sebentar saja. Dia terlihat begitu sibuk, setelah mengatakan kau bisa kembali hari ini dia pergi.
Jadi dia menitipkan salam padaku dan meminta maaf karna tidak bisa menemui mu Gē." Terang nya.
"Nampaknya, kau jauh lebih banyak bicara dari pada kau yang dulu."
"Si_siapa yang kau maksud? Aku?!!" Zi Cheng menatap wajah pria yang lebih dewasa darinya dengan sebal.
Namun bukannya menjawab, si empunya justru tersenyum menanggapi ucapan Zi Cheng.
"Apa aku boleh menemuinya? Aku ingin melihat sendiri seperti apa keadaannya saat ini."
"Kita akan menemuinya. Tetapi setelah kau benar-benar pulih Gē. Aku tidak ingin kau terlalu lelah. Kau masih harus banyak beristirahat."
"Tapi Gē,,"
"Gēgē mohon,, sebentar saja. Setelah itu Gēgē janji untuk pulang bersamamu."
Zi Cheng hanya mengangguk lemah mengiyakan permintaan sang kekasih, meski sebenarnya ia khawatir, tetapi ia tidak bisa menolak.
Terlebih lagi ia tahu jika sang kekasih sangat mengkhawatirkan Xiao Lin, seseorang yang telah menjadi orang yang penting dalam hidupnya.
~
Hari berganti, senja telah tiba. Namun Wang Yue nampak masih sibuk dengan pekerjaannya.
Tidak biasanya ia akan seperti itu. Mengingat setiap hari ia akan selalu meninggalkan kantor setelah selesai dengan pekerjaannya, dan akan lebih menyibukkan diri dengan menyambung pekerjaannya di rumah, dengan si kecil di sampingnya yang akan selalu menemani nya.
Namun agaknya tidak dengan hari ini, Wang Yue seolah lupa dengan tanggung jawab yang selama ini ia lakukan. Entah ia mengingat putra tercintanya atau tidak, tetapi untuk saat ini,, sepertinya sulit untuk di jelaskan.
__ADS_1
"Hahh..." Terdengar helaan nafas panjang.
"Xiaoxiao,, kau tahu bukan?" Ucapnya pada sebuah bingkai yang ia pegang.
Pandangannya begitu lembut, namun menyimpan perasaan rindu yang begitu mendalam.
"Sejak dulu satu satunya kelemahan ku adalah ketidak mampuan ku mengalihkan ingatanku darimu.."
Wang Yue berulang kali mengusap lembut wajah seseorang di balik bingkai kaca tersebut. Wajah polos nan cantik milik sang istri yang telah pergi meninggalkannya.
"Maaf.. Maafkan aku Xiaoxiao_ mungkin tanpa sadar akulah yang telah membuat mu tak tenang disana. Mungkin aku sendiri yang menyebabkan kau terus datang menemui ku.
Aku yang terlalu naif memikirkan diriku sendiri tanpa berpikir jika itu akan menyakiti mu, aku terlalu meyakini hatiku bahwa kau masih ada, hiks,, maafkan aku yang tak bisa membuat hatiku yakin kau telah tiada."
Perlahan tetesan demi tetesan air matanya berjatuhan membasahi pipi nya.
"Hiks,, maaf,, maaf karna aku membuatmu tersiksa, hiks,, maafkan aku yang selama ini egois, maafkan aku,, hiks,, maafkan aku.. Aku pikir selama ini aku akan baik baik saja setelah kau pergi, dan akan bisa merelakan kepergian mu.
Hiks,,hiks,, tetapi aku salah. Aku salah telah berpikir demikian. Hiks,, kenyataan nya aku tak bisa tanpamu, hiks,, dan semakin aku meyakinkan diriku bahwa kau telah tiada, semakin dalam keyakinan di hatiku bahwa kau masih ada disini bersamaku."
Benar-benar sangat tidak Wang Yue sekali, menangis bak seorang wanita yang patah hati karena di tinggalkan oleh sang kekasih.
"Tuhan,, bisakah aku meminta lebih padamu? Ijinkan aku bertemu dengannya.. Bahkan jika harus menunggu hingga di kehidupan kedua, aku sanggup. Asalkan bisa kembali bersamanya, aku akan tetap menunggunya kembali." Begitulah kiranya yang Wang Yue ucapkan dalam hatinya.
Sangat di sayangkan,, ia tak mengetahui sama sekali, jika sang istri yang ia anggap telah pergi meninggalkannya itu masihlah hidup.
Yang ia tahu hanya, entah dimana pun sang istri berada, ia akan tetap dan tetap selalu mencintainya. Tak akan pernah berkurang rasa cinta di hatinya meski mereka tak lagi bersama.
Dan meski dunia meyakini bahwa sang istri telah tiada, Wang Yue akan terus tetap mencari Xiaoxiao nya. Entah dimana pun asal dapat menemukannya, ia takkan menyerah. Hingga dapat ia pastikan sendiri di hadapannya, tentang ketiadaan sang istri tercintanya itu.
"Xiaoxiao,, ijinkan Gēgē menjadi egois untuk kali ini saja. Hiks,, beri Gēgē kesempatan untuk terus mencari mu,, meski Gēgē tahu kau mungkin tidak akan pernah memaafkan Gēgē. Hiks,,
Tetapi Gēgē tidak bisa berhenti sampai Gēgē benar-benar menemukan mu, dan melihat mu benar-benar telah tiada. Hiks,, hiks,, Gēgē mohon_ hiks,, hanya untuk kali ini saja,, sampai Gēgē dapat memastikannya." Gumamnya dalam tangisannya.
"Namun meski nanti tuhan telah benar-benar membawamu, Gēgē masih akan tetap mencarimu. Menunggumu, hingga Tuhan mengembalikan mu pada Gēgē. Dan menjalani kehidupan bahagia kita bersama seperti dulu, meski entah kapan Tuhan akan mengambil nyawa Gēgē nanti."
Wang Yue menangis dalam kesendirian, meluapkan kesedihan dalam hatinya. Itulah salah satu cara baginya untuk meringankan sedikit beban yang membelenggu hatinya selama ini.
__ADS_1
~