
Kembali pada Xiao Lin juga Wang Hao yang semakin larut dalam kesedihannya.
"Xiǎo'ér,,"
Mata Wang Hao melebar sempurna mendengar sebutan yang selama ini tak pernah ia dengar dari seseorang yang sangat berarti baginya, dengan sentuhan lembut di puncak kepalanya.
"X_xiǎo'ér.?" Gumamnya mengulang ucapan wanita di hadapannya.
"Kau ingat?" Tanyanya penuh kelembutan.
Wang Hao hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Namun matanya kembali mengalir deras bulir bulir air yang membasahi pipinya.
"Anak baik.." Ucap Xiao Lin dengan menepuk kembali kepala Wang Hao dengan senyum tulus mengembang di bibirnya.
"Jika kau mengingatnya, kau pasti memahami alasan kami melindungi mu, tanpa harus Jiějiě jelaskan." Sambung nya.
Lagi dan lagi Wang Hao mengangguk dengan nafas tersendat akibat tangisnya.
"Anak pintar,, sudah. Hapus air matamu, jangan lagi menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi di masa dulu. Ayah dan Ibu telah pergi dengan damai, mereka telah berada di tempat yang nyaman di surga.
Dan mereka telah tenang di sisi Tuhan, jadi jangan lakukan hal itu lagi, karena mereka akan benar-benar membencimu jika kau terus menyalahkan dirimu sendiri. Mengerti?"
"Mn. Hao'er mengerti Ibu.." Sahutnya lirih dengan perlahan menundukkan kepalanya.
"Hahh,, benar-benar anak baik."
Xiao Lin menggelengkan kepalanya di sertai senyuman.
"Sekarang bangunlah, kasihan a Yi sendirian disana.." Lanjutnya dengan menunjuk tepat di tempat a Yi berada.
"A_Yi,,?" Gumamnya mengikuti arah tunjuk Xiao Lin.
"Eh,,??? Ti_tidur??? A_a Yi tertidur? Se_sejak ka,pan?" Tanyanya dengan ucapan terputus-putus. Mengingat dirinya baru saja menghentikan tangisnya.
"Sebelum Jiějiě mendatangi mu, mungkin terlalu lama menangis membuat nya lelah."
"Se,se_lama i'tu.?" Tanyanya lagi memastikan.
"Mn. Xiǎo'ér ah, kau terlalu lama menangis, jadi kau tak menyadari nya.." Jawab Xiao Lin santai.
"Jiě,,,"
Tidak membalas, Wang Hao justru bergumam memanggil sang Jiějiě dengan lirih. Namun seluruh wajahnya memerah.
"Ah,, baiklah, baiklah.. Maafkan Jiějiě, Jiějiě tidak akan menggodamu lagi.."
Xiao Lin tersenyum dengan gelengan di kepalanya, tak lupa ia mengusap sayang puncak kepala Wang Hao.
"Kau masih sama seperti 15 tahun lalu, masih seorang Hao'er yang menggemaskan."
Di sentuhnya puncak hidung Wang Hao dengan ujung jari Xiao Lin karena gemas.
"Benar-benar memerah ya.." Sambungnya kembali menggoda pemuda itu.
"Jiějiě,,,"
Dan benar-benar tanpa niat membalas godaan sang Jiějiě, Wang Hao hanya menunduk malu.
"Ekhemm.!! Apa kalian benar-benar menganggap kami patung? Atau kalian anggap kami ini hanya bayangan saja? Hmphh.!! Benar-benar jahat."
Cc menyela percakapan mengharukan antara keduanya. Terlihat jelas jika gadis itu merajuk saat ini.
"Eeuu,, ma,maafkan Jiějiě mengabaikan mu Xiǎomèi, maafkan aku Lu Jiějiě. Tapi sungguh, aku tidak bermksud untuk melakukan nya.."
Xiao Lin benar-benar lupa jika tidak hanya ada mereka berdua saja dalam ruangan tersebut.
"Lupakan itu. Sekarang tolong jelaskan semua pada kami, hubungan apa yang terjadi pada kalian. Keluarga? Keluarga macam apa yang kalian maksud? Mengapa kami bahkan tidak mengenal dia."
Meski nada bicara Cc tidak tinggi tetapi ada ketidak sukaan yang ketara di wajahnya saat memandang Wang Hao.
"Cc,," Panggil Lulu lirih.
__ADS_1
Berniat mencegah agar Cc tidak terbawa emosi, tetapi ia merasa situasi tidak akan mudah meski ia mencoba menenangkan nya.
"Xiǎo mèimei,, Jiějiě akan menjelaskan nya.."
"Dari pada itu, ada hal yang lebih penting yang harus kau ketahui tentang kebenaran keluargamu Ibu."
Wang Hao lebih memutus ucapan Xiao Lin, sebelum menjelaskan pada Cc.
"Maksudmu?"
"Apa yang kau maksud?"
"Hao'er,, apa,,"
Pertanyaan itu terucap dari ketiga orang yang berbeda di saat bersamaan. Mereka sama-sama meminta penjelasan pada Wang Hao.
"Putramu," Ucap Wang Hao cepat menghentikan kalimat Xiao Lin.
"Putra yang telah kau lahirkan Ibu.." Lanjutnya, membuat Xiao Lin terdiam dengan kepala memiring serta menyipitkan matanya.
"Putra kecilmu masih hidup, dan dia sangat menyayangi mu, dia selalu ingin bertemu dengan mu Ibu."
"Hao'er,, itu tidak mungkin. Mereka membunuhnya tepat setelah insiden kebakaran di rumah sakit."
Xiao Lin menolak percaya ucapan Wang Hao, meski ia tahu pemuda itu tidak akan membohongi nya.
Jauh di lubuk hatinya, Xiao Lin yakin jika putra nya masihlah hidup. Namun kenyataan yang terjadi di depan matanya, memaksa Xiao Lin mempercayai bahwa putranya telah tiada.
"Kau tahu? Mereka bahkan dengan keji membunuhnya. Hiks,, tanpa belas kasihan, dan tanpa mempedulikan dia yang menangis kesakitan. Hiks,,"
Entah berapa banyak air mata yang jatuh mengalir membasahi pipi Xiao Lin, sudah jelas tak terhitung lagi.
"Ibu,, apa Ibu yakin yang Ibu lihat dan Ibu ketahui adalah kebenaran nya? Apa Ibu percaya jika itu adalah putra Ibu sendiri?"
Xiao Lin bungkam. Apa yang Wang Hao katakan memanglah benar adanya.
"Hao'er tahu ini tak mudah untuk Ibu percayai, tapi Hao'er yakin Ibu telah menyadarinya sejak dulu jika putra Ibu masih hidup. Apa Ibu ingin memeluknya?"
Tidak ada jawaban, namun Wang Hao tahu jika sang Jiějiě sangat-sangat ingin memeluk putranya.
"Menggemaskan bukan?" Tanya pemuda it tiba-tiba sesampainya di samping a Yi, tanpa mengalihkan pandangan dari sang keponakan.
Masih tanpa suara, Xiao Lin benar-benar bungkam. Namun hatinya tak dapat berbohong, dan membenarkan apa yang Wang Hao katakan.
"Bahkan wajahnya begitu manis saat tertidur? Sungguh,, siapa saja akan merasakan damai di hatinya saat melihat wajah bak malaikat tanpa dosa ini.
Wajah yang begitu polos. Matanya, hidungnya, bukankah sangat indah Ibu?"
"Indah.." Sahut Xiao Lin tanpa ragu.
"Bukankah itu milikmu Ibu?"
Melihat raut kebingungan di wajah sang Jiějiě, Wang Hao tersenyum dan kembali melanjutkan ucapannya.
"A Yi memiliki mata yang indah sama seperti Ibunya, juga hidung mancung milik Ibunya. Bukan hanya itu saja, pahatan wajahnya begitu sempurna, perpaduan antara Ibu dan Ayahnya. Tetapi wajah polos itu, itu adalah wajah murni milik sang Ibu."
Pandangan Wang Hao beralih pada Xiao Lin.
"Itu semua milikmu Ibu.." Sambungnya.
"Mi_milik,ku?"
"Putramu." Jelas Wang Hao.
"Pu,putra_ku?"
"Mn. Putra kandungmu. Wang_Xiao_Yi. Yang selama ini Ibu ketahui telah meninggal. Dia selamat dan masih hidup hingga saat ini."
Mata Xiao Lin kembali melebar sempurna, tubuh nya limbung, dan hampir saja terjatuh jika saja Wang Hao tak sigap menangkap nya.
"Wa,wang_xiao_yi,,? Pu_putra, ku?" Gumamnya bertanya.
__ADS_1
"Mn. A Yi adalah putramu, benar-benar putramu Ibu. Selama ini a Yi selalu menunggumu, dia selalu ingin bertemu dengan mu, juga ingin selalu memelukmu meski ia tahu, Ibunya telah tiada."
Xiao Lin memegangi dadanya yang terasa tercabik-cabik mendengar ucapan Wang Hao.
"Hiks,, itulah sebabnya, saat pertama kali melihatnya, aku merasa anak ini adalah milikku. Hiks,, rupanya dia adalah putra ku sendiri. Hiks,, bodoh.!! Hiks,, harusnya aku menyadarinya saat pertama kali melihatnya.
Hiks,, mengapa aku malah mengabaikan nya, hiks,, dan menganggap seolah perasaan ku hanya sebatas merindukan putra kecilku saja,, yang ku anggap telah tiada. Hiks,, bodoh.!! Kau memang bodoh Xiao Lin.!! Hiks,, maafkan Ibu nak, hiks,, Ibu tidak bermaksud menyakiti mu. Hiks,, maafkan Ibu.."
"Sekarang kau bisa memeluknya, menemaninya setiap saat, dan akan terus bersamanya, selamanya."
"Hiks,, terima kasih Xiǎo'ér, hiks,, terima kasih.. Hiks,,"
Hanya itu yang mampu Xiao Lin katakan.
Hatinya merasa begitu bahagia, benar-benar bahagia. Hingga ia tak tahu apa yang harus di ucapkan nya.
"Jangan berterima kasih padaku Ibu,, ini semua berkat kekuatan yang mengikat hati kalian masing-masing. Yang telah menguatkan kalian untuk tetap bisa bertahan, dan bisa menjalani kehidupan kalian dengan baik.
Dan tentunya do'a yang telah kalian ucapkan satu sama lain, itulah yang telah menyelamatkan kalian hingga mempertemukan kalian kembali. Kalian memang hebat.."
Wang Hao mengusap punggung wanita yang tengah menangis dalam pelukannya, ia merasa sangat lega dan bahagia, bisa mempertemukan dan mengatakan kebenaran yang ia ketahui.
Sementara kedua orang dewasa lainnya hanya menangis haru, menyaksikan drama keluarga yang mengharukan di hadapannya.
"Sungguh. Aku tak tahu jika kau adalah orang yang benar-benar baik. Maafkan aku Wang Hao Gēgē, aku telah salah sangka padamu."
Cc tersenyum kecut membayangkan sikapnya sebelumnya, merasa miris dengan pemikirannya sendiri.
Sebelumnya ia begitu takut jika Wang Hao berniat jahat pada Xiao Lin, hingga membuatnya di kuasai emosi yang tak seharusnya mengendalikan nya.
Kini ia merasa bersalah, hingga malu pada dirinya sendiri, karena telah menjadi bodoh karena emosinya.
"Hiks,, hiks,, Yi_Maa,, hiks,, hiks,,"
"Jangan.! Tetap disini, jangan lakukan hal itu lagi. Kau akan terjatuh dan bisa kehilangan darahmu lagi,,"
lulu dengan cepat menahan tubuh a Yi yang bangun dari tidurnya dan mencoba menuruni tempat tidurnya.
"A Yi.!!" Teriak Xiao Lin dan Wang Hao bersamaan, tepat saat dokter cantik itu mencegah a Yi untuk bangun.
"Nak, apa yang kau lakukan. Hiks,, kau bisa saja terluka. Hiks,," Di peluknya a Yi di tengah tangisannya.
"Hiks,, a Yi hanya ingin memeluk Yi Maa,, hiks,, a Yi tidak ingin melihat Yi Maa menangis.. Hiks,, maafkan a Yi yang nakal Yi Maa,, hiks,, a Yi janji tidak akan mengulanginya lagi. Hiks,,"
"Terima kasih sayang,, hiks,, terima kasih sudah mempedulikan Mama,, hiks,, terima kasih telah menunggu Mama selama ini. Hiks,, terima kasih.."
Xiao Lin berulang kali menciumi puncak kepala putranya.
Semakin erat pelukannya, semakin dalam pula tangisnya. Xiao Lin benar-benar merasa bahagia, hingga tak dapat ia utarakan dalam bentuk apapun.
"Hiks,, Yi Maa,, jangan menangis lagi,, hiks,, hiks,,"
"Tidak nak, hiks,, Mama tidak menangis. Hiks.. Mama hanya bahagia memiliki putra seperti a Yi.. Hiks"
"Hiks,, tapi mengapa Yi Maa menangis. Hiks,, kata Yi Paa dan Paman Hao, jika kita bahagia maka harus tersenyum dan tertawa. Hiks,, bukan menangis seperti itu.. Hiks,,"
"Maafkan Mama sayang,, hiks,, Mama hanya terlalu bahagia."
"Kalau begitu Yi Maa harus tersenyum sekarang. Dan jangan menangis lagi, ok?"
Bak mantra penyembuhan, Xiao Lin benar-benar terhipnotis dengan tingkah putranya. Seolah lenyap semua kesedihan di dalam hatinya melihat senyum secerah mentari milik sang putra.
Benar-benar menyejukkan hati dan penyemangat hidupnya.
"Terima kasih Tuhan atas anugerah mu,, aku bahagia engkau menyelamatkan putraku, dan terima kasih,, telah mempertemukan kami, terima kasih,, telah mempersatukan kami kembali."
•
•
•
__ADS_1
•
•