
°
~Rumah sakit [II]
Kedua bersaudara Wang itu kini tengah menyantap makan malamnya, atau mungkin hanya satu orang dari keduanya saja lebih tepatnya.
"Bisakah Gēgē menitipkan a Yi padamu?"
Wang Hao menghentikan kunyahan di mulutnya dan dengan gugup ia menelannya.
"Berapa usia mu sekarang? Mengapa makan saja masih tersedak. Kau bahkan lebih buruk dari a Yi saat makan.! Makanlah dengan pelan, tidak akan ada yang merampas makananmu disini. Tidak usah terburu-buru.!"
Meski ucapannya terdengar marah, namun nyatanya Wang Yue sangatlah peduli pada Wang Hao.
Ia bahkan dengan sigap menepuk tengkuk Wang Hao agar memuntahkan makannya yang mungkin tersangkut di tenggorokan pemuda itu, tak lupa memberikan air minum padanya.
"Jangan menyalahkan ku.! Ini semua salah mu Gē."
Wang Yue mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Wang Hao.
"Aku bahkan baru memasukkan makanan ke dalam mulut ku, dan bahkan belum sempat mengunyahnya. Tetapi kau menanyakan hal yang konyol padaku.!
Sungguh membuat ku merasa kesal padamu. Jadi dengan buru buru aku menelan makanan ku, yang bahkan belum selesai ku kunyah. Agar aku bisa menjawab pertanyaan mu yang membuat ku kesal.!!"
"Mn. Maaf.."
Wang Yue hanya menyahut singkat, tanpa niat beradu argument dengan yang lebih muda.
"Haihh,,! Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu padaku Gē.?! A Yi adalah putramu, yang berarti dia adalah keponakan ku. Putramu juga putraku Gē, memangnya kau anggap aku ini siapa?! Sampai hal seperti itu saja kau harus bertanya.!!
Ah, sudahlah. Berbicara panjang lebar denganmu hanya akan membuat ku semakin kesal padamu.! Katakan saja apa maumu."
Wang Yue melirik tajam dengan ekor matanya pada Wang Hao, namun ia tak bisa memarahinya.
"Gēgē ingin mengambil beberapa pakaian ganti, jadi Gēgē meminta bantuan mu untuk menjaga a Yi dulu selama Gēgē pergi."
"Hahh, kau seperti dengan orang lain saja kau ini Gē. Sudah,, biar aku saja yang mengambilnya, kau pasti lelah, beritahu aku apa saja yang kau butuhkan agar aku membawanya untukmu."
"Terima kasih,, tetapi Gēgē baik baik saja, lagi pula ada beberapa berkas yang harus Gēgē periksa, tolong jaga a Yi dan hubungi Gēgē segera saat a Yi tersadar nanti."
Setelah nya Wang Yue beranjak, tak lupa ia mengecup sayang putra kecilnya yang masih terlelap.
"Papa pergi dulu nak,, cepatlah bangun dan Papa berjanji akan menuruti semua yang kau inginkan."
Kemudian Wang Yue pergi meninggalkan ruangan tersebut.
°
~Rumah sakit[I]
Usai meninggalkan Lubin dan yang lainnya, Lulu kini berada tepat di depan sebuah ruangan pasiennya.
"Chengcheng,, dengarkan Jiějiě, kau harus tenangkan dirimu nanti. Ingat, dia baru siuman dan kondisinya masih belum stabil, jadi,, kau harus mengontrol emosi mu agar tak mengganggunya ok.?"
Lulu memperingatkan gadis muda dari keluarga Meng itu yang kini bersamanya.
"Mn. Aku mengerti Jiě, terima kasih telah merawatnya."
"Sekarang kau masuklah, dia menunggumu di dalam."
Zi Cheng mengangguk kemudian memasuki ruangan tertutup di hadapannya.
"Semoga kau masih mengenaliku Gē." Doanya dalam hati.
Gadis mida itu pun melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan di hadapannya.
"Cheng_cheng.. Kau,,, datang..." Tanya lirih seseorang yang duduk bersandar pada ranjang pasien, setelah Zi Cheng berada di dalam ruangan tersebut.
Gadis bernama Zi Cheng itu mengangguk dengan cepat, sesaat setelah mendengar pertanyaan tersebut.
"Gē,,," Suaranya tercekat.
Entah mengapa, Zi Cheng merasa suaranya serasa berat, seolah suara yang ia ucapkan enggan untuk keluar.
"Mendekatlah,, apa kau tak merindukan aku?"
Zi Cheng mendekat setelah mendapat perintah, dan langsung menerjang tubuh yang masih lemah di hadapannya.
"Hiks,, hiks,, kau sadar Gē,, hiks,, aku pikir kau tak akan membuka mata mu lagi,, hiks,, mengapa lama sekali,, hiks,, kau begitu jahat padaku,, hiks,, hiks,, membuat ku menunggu begitu lama,, hiks,, aku membenci mu Gē,, hiks,, hiks,, aku membencimu.!! Hiks,, kau,,,"
"Gēgē juga mencintaimu Chengcheng,, maafkan Gēgē membuatmu sedih,, maaf,, telah membiarkanmu menghadapi semua itu sendiri."
"Cih,, kau_hiks,, percaya diri sekali kau Gē. Hiks,, siapa bilang aku mencintaimu,, hiks,, aku bilang aku membencimu, hiks,, apa kau menjadi tuli setelah hampir 4 tahun lamanya.!
Hiks,hiks,, aku mencintaimu, Gē. Hiks,, ku mohon,, jangan tinggalkan aku lagi.. Hiks,, aku takkan pernah sanggup jika kau melakukannya lagi.."
__ADS_1
Dalam dekapannya, pria yang saat ini memeluk Zi Cheng itu tersenyum,, ia merasa bahagia tak terhingga.
"Terima kasih,, telah mengakuinya,, kau tahu,, ini benar benar menjadi kejutan tak terkira untukku. Kau tahu,? Dulu sebelum aku menutup mata, aku berdo'a agar suatu saat jika tuhan masih memberikan ku waktu untuk membuka mata, tuhan membuka hatimu untukku dan menerima ku menjadi pasanganmu.
Dan sungguh,, aku hanya menginginkan menutup mataku untuk selamanya jika kau masih tak memiliki perasaan apapun padaku."
"Hiks,, bodoh.!! Bagaimana bisa, kau berdo'a seperti itu.!! Hiks,, kau bahkan telah memiliki hatiku untuk waktu yang sangat lama,, hiks,, bagaimana bisa kau tak mengetahuinya.!! Hiks,,"
"Eh,,? Jadi kau mencintaiku dan kau memendamnya? Mengapa aku tak tahu? Kau bahkan selalu menolak ku dan mengabaikan ku setiap kali aku mengajakmu berbicara."
Keduanya terus berbicara tanpa melepaskan pelukan mereka, melupakan fakta bahwa salah satu dari keduanya baru saja tersadar dari masa komanya. Meski dokter telah memperingatkannya untuk tidak berbincang terlalu lama.
"Sejak kapan? Mengapa kau selama ini menolak ku?" Tanya seseorang itu lagi, kali ini ia yang lebih dulu melepas pelukannya.
"Se_sejak kau hampir mati,, hee" Jawab Zi Cheng gugup, dengan cengiran tak bersalahnya di akhir kalimatnya.
Mendengar ucapan Zi Cheng, seketika wajah seseorang di hadapan nya menjadi datar.
"Hahh. Tuhan,, mengapa kau tak mengambil nyawaku saja saat itu. Benar benar, manusia kejam ini tak berperasaan." Batin pria itu sedih.
"Gē.! Mengapa diam saja? Apa ada yang terasa sakit?"
"Tidak. Hanya berpikir, mengapa Tuhan tak mencabut nyawa ku saja waktu itu." Sahutnya dengan wajah masam.
"Ssstt..!! Jika tuhan mengabulkan nya saat ini bagaimana? Apa kau ingin meninggalkan ku hah?"
"Mn. Itu lebih baik bukan,, kau bahkan bisa mencintai ku saat aku hampir mati, jika saat ini aku mati kau akan bisa mencintai ku sepenuhnya bukan?" Katanya dengan tak semangat.
"Hehh,,, tidak. Jangan seperti itu,, baiklah, aku akan mengakuinya sekarang,, sejujurnya itu terjadi saat kau sempat menghilang, dan aku mulai menyadari hatiku terasa kosong tanpa kau yang selalu mengganggu ku."
Dan untuk yang pertama kalinya bagi keduanya orang tersebut, ini adalah percakapan terpanjang mereka selama masa perkenalan mereka.
°
~Kediaman Chen.
"Cc,, siapa yang kau ajak bicara?"
"Ah, Jiě. Lulu Jiějiě menghubungi ku tadi. Apa ada sesuatu yang Jiějiě butuhkan?"
Cc mendekati a Lin sambil menyimpan ponsel miliknya.
"Ah,, begitu,, apa ada yang penting? Eu,, sebetulnya tidak ada yang ku butuhkan,,"
"Katakan saja Jiě,, kau tidak pandai berbohong, jadi akan dengan mudah aku mengetahuinya."
"Entah apa yang mengganggu ku,, tetapi hati dan pikiranku tak tenang sejak kemarin malam. Aku,,, ah, a Yi,, aku terus memikirkan nya..
Cc,, apa kau tahu kabarnya? Apa yang terjadi padanya? Mengapa setelah aku sadar hari itu dia tak ada? Apa kau bisa mencari tahu kabarnya?"
"Ah,, a Yi,,, ah,, ya. 2 hari ini dia izin tak masuk sekolah Jiě, hari itu saat kau bertemu dengannya dan kau tak sadarkan diri, dia dengan Pamannya menunggumu hingga malam anak itu bahkan melupakan waktu makannya." Tutur Cc detil..
"Keesokan harinya orang tua a Yi menghubungi ku jika a Yi tak bisa mengikuti pelajaran hari itu. Nah, kemudian siang harinya Paman a Yi datang menemui ku di rumah sakit, dia menjelaskan jika a Yi mengalami demam tinggi setelah pulang menemani mu Jiě." Pungkasnya.
"A,, a_Yi demam? Cc!! Mengapa kau tak mengatakan padaku.!! Kau tahu alamat tinggalnya bukan? Cepat. Berikan padaku sekarang.!"
"J,jiějiě. Ma_maafkan aku,, saat itu aku hanya memfokuskan diri padamu, jadi aku tak memberitahu mu Jiě. Dan lagi Jiějiě baru pertama kalinya bertemu dengan a Yi, jadi aku pikir mungkin Jiějiě takkan sepanik ini.. Ma,maafkan aku Jiě.."
Cc tak mengerti dengan apa yang terjadi pada sang Jiějiě, tetapi ada hal yang mengganjal bagi Cc yang membuatnya penasaran. Yang jelas itu masih menjadi tanda tanya baginya.
"Sudahlah lupakan. Beritahu aku sekarang, bagaimana keadaannya, dan dimana tempat tinggalnya. Aku ingin melihat keadaannya. Tolong katakan padaku."
Bukannya menjawab, Cc justru mengambil ponsel miliknya pada saku celananya. Ia kemudian mendial nomor telepon milik Wang Hao, untuk menanyakan kabar murid didiknya itu.
"Ya, dengan Wang Hao disini,, bisa saya bantu?"
Terdengar suara menyebalkan dari sebrang sana, saat panggilan Cc terhubung.
"Haishh..! Bukan waktunya untuk bercanda.! Euu,, ma,maaf.. Yu,tuan,, bisakah saya mengetahui keadaan a Yi saat ini?" Tanya Cc gugup, hampir saja ia terbawa emosi.
"Cc, tolong berikan padaku,, aku ingin mendengarnya sendiri."
A Lin meminta dengan penuh harap setelah mendengar Cc menyebut a Yi.
Cc sendiri hanya mengangguk dan tanpa ragu memberikan ponsel miliknya pada sang Jiějiě.
"Tuan,, apa anda keluarga a Yi? Maaf jika saya lancang telah memutus percakapan anda dengan Cc. Tapi,,, bisakah saya mengetahui keadaan a Yi saat ini? Euu,, maafkan saya sekali lagi jika saya tak sopan."
"Xiao Jiě,,," Gumam Wang Hao pelan.
Untuk seperkian detik, tak ada lagi suara yang terdengar, setelah mengetahui siapa yang tengah berbicara dengan dirinya saat ini.
"Tu,tuan? Apakah anda mendengar saya?"
"Ah,, ya. Saya mendengar nya, maaf. A Yi baik baik saja untuk saat ini Jiě. Ada apa Jiě? Apa ada yang menganggu mu?"
__ADS_1
Terkejut, mendengar seseorang yang tak ia kenali dengan tiba tiba memanggilmu dengan sebutan akrab sungguh membuat a Lin gugup. Namun entah mengapa ada bagian dalam dirinya merasa jika panggilan itu adalah seseorang yang dekat dengannya.
"Benarkah? A Yi baik baik saja?? Eu,, Cc baru saja memberi tahu ku jika a Yi demam tinggi kemarin. Jadi,,, aku hanya ingin tahu keadaan nya saat ini.."
"Ah,, a Yi sudah lebih baik saat ini,, hanya saja,, dia membutuhkan istirahat yang cukup. Dan dia akan pulih kembali."
"Syukurlah,, ah,, tuan. Bisakah anda mengijinkan saya untuk mendengar suaranya? Saya,,, ah, maafkan saya yang terlalu lancang."
"Aku mengerti Jiě, tapi maafkan aku,, bukan aku tak mengijinkan mu berbicara dengan nya,, tetapi saat ini a Yi masih tertidur ."
A Lin mengangguk mendengarkan, namun dapat Cc lihat, sorot mata sang Jiějiě yang nampak kecewa.
"Sebenarnya ada apa denganmu Jiě,? Mengapa kau begitu mengkhawatirkan keadaan nya? Apa hanya karna kau pernah memiliki seorang putra? Atau,, ah, tidak. Chen Xiao, apa yang kau pikirkan.!!"
Cc menggeleng seolah tak setuju dengan ucapan hatinya sendiri.
Meski lawan bicaranya tak lagi mengucapkan satu kalimat pun setelahnya,, Wang Hao mengerti apa yang sebenarnya tengah di pikirkannya.
"Jiě,, tenanglah,, kau boleh menemuinya jika mengkhawatirkan nya. A Yi pasti akan sangat senang jika kau datang.."
"Benarkah?? Kalau begitu aku akan datang.."
Mendengar Wang Hao memberinya ijin untuk menemui a Yi, a Lin tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
"Mn. Akan aku kirimkan alamatnya, kalau begitu aku tutup dulu panggilannya Jiě."
"Terima kasih. Terima kasih.."
Setelah sambungnya terputus, tak berselang lama, notif pesan pun terdengar.
"Cc,, Jiějiě akan berkemas untuk pergi, kau tak apa jika Jiějiě tinggal?"
"Jiě_jiě?" Gumam Cc lirih.
"*Setelah sekian lama kau melupakan panggilan itu, kini kau menyebutnya kembali Jiě. Lagi,, dan lagi,, a Yi lah yang telah membuatmu perlahan bangkit dari keterpurukan mu. Meski pertemuan kalian begitu singkat, nyatanya itu tak bisa menghilangkan fakta jika kau perlahan melupakan kesakitan mu di masa lalu.
Juga,, mengembalikan senyuman mu yang telah lama ku nantikan setelah kau merasakan kehancuran hidupmu. Terima kasih nak,, terima kasih a Yi, kau telah membantu ku. Aku berhutang banyak kepada mu*."
Tak sadar setetes embun bening perlahan menetes membasahi pipi Cc. Rasa bahagia tak terhingga di hatinya, melihat senyum bahagia milik sang Jiějiě yang selama hampir 5 tahun silam menghilang. Kini senyum itu telah kembali menghiasi wajah bak mayat hidup itu.
"Jangan menangis,, Jiějiě tidak suka melihat air mata di wajah yang manis ini.. Jiějiě lebih suka saat melihat ada dimple di kedua sisi pipi merah ini.."
Merasakan sentuhan di pipinya, air matanya justru semakin deras mengalir.
"Hiks,, terima kasih Jiě.. Terima kasih telah kembali.. Terima kasih telah melupakan nya. Hiks,, terima kasih.. Hiks,, karna, telah mengingat ku.. Hiks,,"
Berkali kali Cc mengucapkan rasa terima kasih nya, tanda ia merasa bahagia.
Di usapnya punggung Cc yang kini menangis dalam pelukan.
"Maafkan Jiějiě yang telah egois selama ini,, Jiějiě janji, itu takkan terulang lagi."
Tanpa ada kata lagi yang terucap, keduanya larut dalam kesedihan serta kebahagiaan yang Cc rasakan.
°
~ Rumah sakit [II]
Wang Hao memandang lekat malaikat kecil tak berdaya di hadapannya.
"Hey nak,, mengapa kau lelap sekali,? Apa yang membuat mu merasa senyaman itu dalam tidur mu hm? Kau tahu,,? Ada banyak hal yang ingin paman ceritakan padamu, apa kau ingin mendengarnya?"
Wang Hao mulai berbicara pada tubuh mungil yang masih terlelap itu, seolah si empunya akan mendengar semua yang ia ucapkan.
Pemuda itu tersenyum dengan gelengan di kepalanya, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Baiklah, untuk saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk Paman bercerita. Kita tunggu sampai kau pilih dan sembuh ok.? Ah,, lupakan.! Itu tidak penting saat ini.."
Di raihnya tangan mungil a Yi, kemudian ia genggam.
"Kau akan kedatangan tamu hari ini nak,, dia yang sangat mirip dengan ibumu, kau ingat bukan? Kau tidak boleh mengecewakan nya mengerti?! Bangunlah saat dia datang, jangan buat dia khawatir dan jangan biarkan dia bersedih. Apa kau mengerti anak nakal?"
Jika saja ada orang lain di sekitar mereka berdua, mungkin akan beranggapan jika pemuda itu telah gila. Ia terus berbicara pada a Yi yang masih tak sadarkan diri, mengoceh sendirian tanpa ada yang mendengar atau menyahuti bukankah ia seperti orang yang tak waras?
Ya. Mungkin.
•
•
•
•
•
__ADS_1