
Cc yang sejak tadi hanya diam mengamati, kini pun larut dalam pemandangan mengharukan di hadapannya.
Terlalu larut dalam kegiatan yang mereka lakukan, hingga membuat ketiganya melupakan niat mereka sebelumnya untuk mencari sang kepala keluarga dan anggota keluarga lainnya yang hingga kini dalam keadaan mengkhawatirkan yang tak mereka ketahui.
Hingga Chen datang, keadaan menjadi berubah.
Ya. Dengan kedatangan Chen ke bangunan megah itu seorang diri, tentunya menjadi pertanyaan besar bagi Xiao Lin selaku istri dari si pemilik rumah.
Dengan cengiran konyol khas dirinya, Chen mencoba menghilangkan kegugupannya dengan menunjukkan beberapa benda yang ia pegang pada ke tiga orang di seberangnya itu.
"Ah,, selamat malam semuanya. Bagaimana kabar kalian hari ini? Ah,, sudah waktunya makan malam, akan ku siapkan makanan, lalu kita makan bersama."
Chen mengambil langkah seribu untuk cepat menghindari kontak mata dari si empunya yang meski tanpa mengatakan apapun, Chen tahu jelas apa yang akan Xiao Lin tanyakan padanya.
Sementara Xiao Lin masih dengan posisi sebelumnya, si kecil yang melihat kedatangan Chen dengan cepat berlari mengikutinya usai melepaskan hewan kecil dari tangannya.
"Paman, Paman.. Di mana Yi Paa? Mengapa Paman datang sendiri?"
Si kecil langsung memburu Chen dengan pertanyaannya, usai ia mendekat.
Hal itu tentu saja membuat Chen sedikit terkejut. Karena bukan hanya sang ibu, rupanya pun melupakan si kecil yang patut menjadi kewaspadaannya agar ia menjaga sikap dan ucapannya.
"Ah,, jagoan kecil Paman,, apa yang kau butuhkan nak? Apa kau lapar hm? Sebentar Paman siapkan makanan untukmu lalu kita makan bersama ok.?"
Alih alih menjawab, Chen kembali melarikan diri. Namun agaknya si kecil yang sejak sebelumnya memiliki perasaan khawatir terhadap orag tuanya, kini tak begitu saja mudah untuk teralihkan perhatiannya.
"Paman Chenchen,, bisakah katakan di mana Yi Paa? A Yi,, a Yi ingin bersama Yi Paa.. A Yi,, ingin memeluk Yi Paa.."
Chen memandang lembut mahluk kecil itu yang kini telah berada dalam dekapan sang ibu, yang entah mengapa justru membuat Chen turut dilema melihat wajah teduh dari keduanya itu.
Chen menghela nafasnya lemah. Ia menatap keduanya tanpa melepas benda yang ia pegang.
"Baiklah,, jika ingin Paman mengatakannya, maka a Yi harus menuruti Paman terlebih dulu."
Si kecil mengangguk antusias menanggapi Chen.
__ADS_1
"Kalau begitu,, mari habiskan semua hidangan di meja ini terlebih dulu, baru setelahnya Paman akan beritahu keberadaan Yi Paa mu."
Si kecil langsung menuruti Chen tanpa penolakan. Berbeda dengan Xiao Lin yang ingin memprotesnya, namun lebih dulu ia cegah.
"Eeei,,, Lín Xiǎomèi ah,, aku tidak menerima penolakan. Ini adalah perintah dari Suamimu, jadi cepat makanlah sebelum menjadi dingin."
Xiao Lin kini hanya bisa kembali mengatupkan bibirnya, karena Chen tak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Acara makan malam itu pun berjalan dengan tenang tanpa ada satupun membuka suaranya.
*
Di lain tempat dengan suasana tak jauh berbeda dari kediaman Wang Yue, kini nampak wanita cantik lainnya tengah asik dengan kesibukannya berjalan mondar mandir tanpa henti sembari berulang kali memandangi ponsel miliknya yang sesekali bergetar.
Nafasnya berulangkali terhembus lemah dengan penuh ke putus asaan.
"Gē,, apa yang terjadi denganmu? Mengapa aku tak bisa menghubungimu?" Gumamnya usai membaca teks pesan yang entah dari siapa.
Tepat saat ia menutup layar ponselnya, seorang pria tua datang menghampirinya. Tentu saja membuatnya terkejut dengan kedatangannya yang secara tiba tiba.
"Ah,, Ayah. Kapan Ayah datang? Mengapa tidak memberi tahuku jika Ayah akan datang? Maaf,, Feifei tidak menyadari kedatangan mu Ayah.." Tuturnya lembut dengan penyesalan di wajah terkejutnya.
Wanita cantik yang tak lain adalah Wang Yifei, ia memeluk erat pria tua di hadapannya yang rupanya adalah sang ayah tercintanya. Wang Huan.
"Mengapa begitu sungkan? Sekarang ceritakan saja pada Ayah apa yang membuat gadis kesayangan Ayah ini bersedih.?"
Wang Yifei tersenyum dengan kepala tertunduk.
"Hanya menunggu kabar Li Wen Gēgē,, tetapi sejak sore ini bahkan aku tak bisa menghubunginya.." Ucapnya sedih.
Di usapnya puncak kepala wanita cantik itu.
"Nak,, Ayah tahu kau sangat mengkhawatirkannya. Tetapi percayalah,, Suamimu baik baik saja. Hanya saja, untuk saat ini akan sulit jika ia menghubungimu."
"Tapi Ayah,, bagaimana Ayah bisa seyakin itu? Apa Ayah tahu sesuatu? Ayah terlihat mencurigakan."
__ADS_1
Wang Yifei kini mulai memandang penuh arti pada sang ayah yang menurutnya aneh.
"Aiyo,, apa Ayah di curigai sekarang?"
Bukannya menjawab, Wang Huan justru memasang wajah memelasnya.
"Ayah,, katakan saja sekarang apa yang Ayah ketahui,, Ayah tiba tiba datang ke rumahku tanpa memberi tahuku. Lalu Ayah meyakinkan ku tentang sesuatu yang bahkan hanya aku dan Suamiku yang tahu.
Bukankah Ayah patut di curigai? Jika Ayah tidak memberitahuku yang sebenarnya, maka jangan salahkan jika Feifei tak mau mendengarkan semua perkataan Ayah lagi."
Meski kalimatnya terdengar sangat lembut, namun membayangkan putrinya merajuk dan enggan berbicara bahkan mendengarkannya saja sudah membuat Wang Huan menggeleng pusing memikirkannya.
Dan berakhirlah ia harus mengalah dengan pasrah pada putri semata wayang kesayangannya itu, yang meski usianya telah dewasa dan telah berumah tangga, namun masih tetap seorang gadis kecil manis di matanya.
"Baiklah,, akan Ayah ceritakan semua padamu."
Mendapati sang ayah yang siap bercerita, Yifei mengembangkan senyum cantiknya. Mengabaikan sang ayah yang mendesah pasrah akibat ulahnya.
"Selama ini Ayah tahu tentang yang kalian lakukan. Ayah tidak bersamamu, bukan berarti Ayah tak tahu apapun tentang kehidupanmu selama ini. Nak,, Ayah tidak bisa menjelaskan semuanya padamu. Atau bagaimana ini semua di mulai, Ayah tak tahu apa yang akan Ayah katakan padamu agar kau tak marah pada Ayah.
Ayah hanya bisa mengatakan hal yang penting saja padamu yang harus kau dan Suamimu ketahui."
Wang Huan memegang tangan putrinya dengan lembut.
"Paman dan Bibi kecil mu, mereka aman bersama Ayah. Jangan lagi membebani dirimu dengan hal yang membahayakan nyawa kalian, apapun masalahnya, jangan lupa pada Ayah. Jangan menutup rapat dari Ayah.
Karena bagaimanapun, kalian adalah putra putri Ayah. Kalian lah yang Ayah miliki di dunia ini, Ayah selalu menemani kalian."
Meskipun banyak hal yang ingin ia ketahui lebih dalam dari sang ayah, namun Yifei tak bisa menanyakan lebih padanya.
Ia cukup terkejut mengetahui jika salah satu keluarganya yang lain masih hidup dan selamat.
Hatinya bergembira, ingin rasanya ia segera bertemu sang suami yang kini entah bagaimana keadaannya.
Kini Yifei hanya bisa berharap agar sang suami dan semua orang yang ia sayangi baik baik saja.
__ADS_1