Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
54


__ADS_3

Wang Yue mulai bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Mengapa,, mengapa ini membuat hatiku semakin sakit."


Pandangan nya menurun, tatapan nya mulai kosong. Jelas ia terlihat seolah separuh jiwanya pergi. Kepingan-kepingan saat kebersamaan dengan si kecil hadir dalam ingatannya.


"Tidak.tidak. Itu tidak mungkin. Tidak akan terjadi apapun pada putraku."


Pria tampan itu menggelengkan kepalanya cepat seraya menghapus beberapa hal buruk yang menimpa putranya.


Ia beranjak dari duduknya, dan merebahkan tubuh sang istri pada ranjang tersebut.


"Xiaoxiao, tetaplah disini. Gēgē mohon, tunggulah sebentar. Gēgē akan menyusul putra kita, jangan tinggalkan tempat ini selama Gēgē belum kembali."


"Gē, bawa aku bersamamu. Kita susul bersama-sama. Aku tak ingin menunggu disini, aku ingin melihatnya dan memastikan sendiri dia baik-baik saja."


"TIDAK.!! Jangan berpikir bahwa salah satu dari kalian bisa pergi dari sini.!! Yue'er, kau tetap disini, jaga istrimu. Aku akan memeriksa nya sendiri.


Dan jangan coba-coba untuk pergi diam-diam, karna aku tak bisa menjamin kalian bisa bertemu dengan a Yi setelahnya jika meninggalkan tempat ini."


Sepasang suami istri itu terdiam, Chen benar-benar mengerikan saat ini. Ia pergi begitu saja meninggalkan keduanya setelah mengatakannya.


"Kuan Gē, aku pergi dulu. Tetaplah disini jika tidak memiliki kepentingan jangan coba pergi atau meninggalkan tempat ini. Dan jika kau membutuhkan sesuatu hubungi aku." Titah Chen usai menutup pintu kamar rawat Xiao Lin.


Chen memberikan kartu namanya pada Kuan yang kebingungan karenanya.


Tanpa memberikan kesempatan pada Kuan yang ingin berbicara, dan pergi begitu saja setelahnya.


~


Usai keluar dari rumah sakit tersebut, Wen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ia bahkan akan menyalip beberapa kendaraan yang berada di depannya yang di anggap menghalangi jalannya,  demi tujuannya agar dapat segera memastikan A Yi bersama kedua orang dewasa yang menemaninya selamat.


Di sela kekhawatiran nya ia sibuk dengan ponselnya, ia terus menekan tombol nomor untuk menghubungi seseorang.


"Sial.!! Mengapa tidak angkat.!!" Makinya entah pada siapa.


Ia terus mengulang menekan nomor yang sama untuk kesekian kalinya, hingga kemudian tersambung pada si empunya.


"Xiao Han.! Xiao Han dimana kau sekarang? Apa kau memastikannya aman?"


Wen begitu gembira saat si empunya menjawab panggilan darinya.


"Gē,, maaf.."


Mendengar seseorang di seberang meminta maaf, Wen lantas mengerem mobilnya mendadak. Beruntung lalu lintas jalanan saat ini sedikit lenggang, jadi ia terlindungi dari hal buruk yang bisa saja terjadi akibat ulahnya sendiri.


"Apa.!! Apa maksudmu.!! Katakan dengan jelas.!!"


Wen berada dalam suasana hati yang buruk, hingga membentak seseorang di seberang sana si empunya penerima panggilan.


"Mereka,,,"


"Mereka apa?!! Katakan dengan jelas.!!!"


Wen menjadi lebih tidak sabar saat seseorang di seberang sana tak melanjutkan ucapannya.


"Lebih baik kau datang sekarang."


"Bocah bodoh.!! Mengapa kau memutus panggilan ku.!! Benar-benar memancing emosi ku rupanya.!! Lihat saja, akan ku patahkan kakimu jika terjadi sesuatu pada keponakan ku.!!!"

__ADS_1


Wen terus mengumpat pada seseorang yang dengan tiba-tiba menutup panggilannya.


Ia lantas mengecek sinyal GPS milik Han, untuk melihat lokasi sang penerima panggilan tadi.


Usai menemukan lokasi tersebut, Wen kembali menancap gasnya agar segera sampai di tempat tujuan.


Sementara itu, Wang Yue dan sang istri yang masih berada dalam mode panik, kini nampak tak habis pikir dengan Chen yang dengan sengaja mengunci mereka dari luar.


"Brengsek.!! Kau memang keterlaluan.!! Bagaimana bisa kau mengunci kami dari luar.!! Woyy..!! Buka pintunya.!!!"


Wang Yue memaki pada seseorang yang tentunya tidak dapat mendengar makiannya.


"Yue Gē, bagaimana? Hiks,, apa benar-benar tidak bisa di buka? Hiks,, bagaimana jika a Yi,,, hiks,hiks, aku sungguh tidak bisa membayangkan sesuatu terjadi pada putra kita. Hiks,,"


"Xiaoxiao,, ini.. Sekuat apapun aku mencobanya, pintu ini tidak akan terbuka. Kecuali seseorang membukanya dari luar. Ah, akan ku coba untuk menghubungi Lubin dan Guru Cc lagi, kau tenanglah.."


"Bagaimana kalau mereka tidak menjawabnya lagi? Hiks,hiks,, bagaimana dengan keadaan putra kita?? Hiks,, Yue Gē, lakukan sesuatu.."


Xiao Lin terus menangis dan merengek sedari ia bangun. Jika boleh jujur, Wang Yue benar benar merasa bingung untuk menghadapi sang istri yang terus menangis saat ini.


Ia tak tahu bagaimana cara membuatnya tenang, semua cara telah ia coba, namun tetap saja hanya sesaat bisa menenangkannya. Setelahnya ia akan kembali menangis dan merengek untuk bertemu sang buah hati tercintanya.


"Yue Gē,, bagaimana?? Hiks,hiks,, apa tidak di jawab?"


Wang Yue menggeleng menanggapi pertanyaan istrinya.


"Tidak ada yang tersambung." Sahutnya putus asa.


"Hiks,,hiks,,hiks,, bagaimana ini.. Hiks,, Yue Gē,, bagaimana jika mimpi itu menjadi kenyataan. Hiks,,hiks,, bagaimana jika putra kita benar-benar,,,"


"Xiaoxiao,, jangan berpikir macam-macam, itu hanya mimpi. Sebaiknya kau tenangkan dulu pikiranmu, kita tunggu sampai Nona Lu membukakan pintu."


Tanpa di duga, Xiao Lin menepis tangannya. Ia menolak untuk di peluk sang suami.


"Gē,_"


Di tengah kepanasan hati keduanya, terdengar suara serak menyapu pendengaran mereka. Membuat keduanya menolehkan kepalanya, pada sumber suara.


~


Wen berlari menuju seseorang yang di kenalnya, setelah ia sampai tujuan.


"Ah,, Wen Gē. Kau akhirnya datang. Cepat bantu aku."


"Han Dìdì.!! Kau,,,"


"Gē, cepatlah.!! Tidak banyak waktu yang tersisa. Cepat jauhkan mereka dari sini.!!"


Wen yang semula terpaku pada pemandangan di hadapannya, kini mengangguk kemudian membantu menggendong tubuh Lubin yang tampak tak sadarkan diri.


Sementara Xiao Han memapah Cc yang tak berdaya.


"Han Dìdì. Dimana a Yi?"


"A Yi aman Gē, cepatlah. Kita bawa mereka jauh dari sini, sebelum mobil itu meledak."


Keduanya berjalan secepat mungkin meninggalkan lokasi tersebut.


"Wen Gē. Han Gē, bagaimana lukamu?"


Seseorang berlari menyambut keduanya dengan raut kekhawatiran.

__ADS_1


"A Xiang, tidak apa, aku baik."


Han memaksakan senyumnya di sela rasa sakit yang menderanya.


"A Xiang.! Bagaimana kau bisa disini.!! Jangan bilang kau mengikuti Xiao Han."


"Euu,, Wen Gē. Maaf.."


"Kau.!! Bagaimana bisa kau melakukan nya?! Mengapa kau begitu bodoh membuat nyawamu sendiri dalam bahaya?!! Dan,, dan, bagaimana jika a Chen tahu kau berada disini.!!"


Wen memarahi seseorang yang bernama a Xiang, bukan karena ia kesal atau benci. Namun itu menambah rasa khawatirnya dengan keberadaan seseorang tersebut.


"Hahh,,, aku tak tahu bagaimana keluarga Ji kalian, membesarkan anak-anak dengan pikiran dangkal seperti kalian."


Wen terus mengoceh, tak sadar seseorang yang entah berantah di mana keberadaan nya kini mengalami bersin mendadak akibat celotehnya.


"Gē,, maka jangan katakan hal itu padanya. Bersikaplah seolah kau tak melihatku disini."


"Kau.!! Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku.!!"


"Wen Gē,, sudah.. Sekarang lebih baik kita selamatkan mereka, a Yi ada di dalam mobil a Xiang. Kemana kita akan membawa mereka? Apa harus kembali ke rumah sakit itu?"


Wen yang kalut tak sadar masih membawa tubuh Lubin dalam gendongannya, beruntung Han mengatakannya dan itu membuat Wen sadar dengan beban berat di punggungnya.


"Kita naik mobil a Xiang sekarang, namun berhentilah di sana. Aku akan mengendarai mobil ku sendiri, aku tidak mungkin berjalan dengan terus menggendongnya."


Mendapat instruksi dari yang lebih tua, mereka hanya menuruti. Kemudian melakukan seperti yang di perintahkan nya.


"A Xiang, kau ambillah kunci mobil ini. Biar aku yang membawa mereka, kau jalanlah lebih dulu. Jika sampai, cari Nona Lu untuk menanganinya."


"Eh,,? Wen Gē. Bukankah kau bilang akan mengendarai mobilmu sendiri?"


"Cepat keluar dan jangan protes.!! Xiao Han kau ikutlah bersamanya, temani dia. Atau seseorang akan menculiknya di luar sana."


"Hemphh.!! Tanpa kau suruh pun aku tak sudi berlama-lama dengan orang bawel sepertimu."


"Wue.!! Apa yang kau katakan.!"


Begitulah kiranya percekcokan diantara mereka, Han dan a Xiang keluar berpindah mobil. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, di susul dengan Wen di belakangnya.


"Sepertinya kau memang benar-benar ingin memulainya, rupanya kau sudah menyiapkan cara ini. Baiklah,, akan ku terima dengan senang hati."


Wen menyeringai di sela gumaman hatinya, entah apa yang tengah ia rencanakan saat ini.


"Jin bodoh.!!! Habis sudah kesabaran ku.!! Tunggu. Tunggulah, aku akan datang untuk mu.!!! Tunggu dan rasakan balasan tanpa ampun dariku.!!!"


"Yi_Maa,, Yi_Paa.."


Wen seketika kembali mengerem mobilnya dengan mendadak, seperti yang ia lakukan sebelumnya.


"Nak,, kau sadar? Ini Paman Wen, apa kau ingin bertemu dengan Yi Maa mu? Baiklah, tunggu sebentar lagi. Kita akan sampai, kita akan segera bertemu dengan Yi Maa dan Yi Paa disana.."


Mendapat anggukan dari si kecil disisinya, Wen kembali dalam mode bahagia saat si kecil tersadar.


"S_siapa anda?"


Cc membuka suaranya di sela sisa kesadarannya.


Wen melirik melalui ujung sudut matanya pada seseorang di sisi belakangnya.


"Saya bukan orang jahat. Saya hanya seorang keluarga yang ingin melindungi keluarga saya."

__ADS_1


__ADS_2