Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"

Kehidupan Selanjutnya."Pertemuan Kembali"
15


__ADS_3

°


~


Drrtt_


Drrtt_


Drrttt...


Terdengar dering ponsel berbunyi, namun tidak mengalihkan sedikitpun perhatian dari beberapa orang yang terlihat serius dalam obrolan nya.


"Oh,, mn. Baiklah.."


Kalimat lain dari salah satu orang di antara mereka, tak lupa ia menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku celana selesai ia menjawab panggilan tersebut.


"Eumn,, Jiě. Kalau begitu aku permisi dulu, setelah ini aku tunggu di ruangan a Yi."


Ucapan itu terlontar dari si pemuda yang tak lain adalah Wang Hao. Usai ia menutup sambungan teleponnya, pemuda itu kembali mendekati si dokter cantik dan si cantik Cc.


"Ah,, ya. Cc,, tolong pertimbangankan lagi permintaan ku, kali ini aku benar-benar berharap padamu." Sambung pemuda itu sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


Pagi ini ruangan Lulu nampak sedikit lebih ramai dari biasanya, namun itu tidak juga berarti baik. Terlebih lagi jika di lihat dari atmosfir di dalam ruangan tersebut yang kini cukup suram setelah kepergian Wang Hao.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini? Apa hanya aku yang tak mengerti dengan ini semua?"


Lubin yang memang sedari tadi diam, mulai bertanya yang entah pada siapa.


"Diamlah jika kau tidak tahu. Jangan menambah suasana semakin buruk disini.!"


Zizi merasakan suasana di sekitarnya kurang baik, membisiki Lubin dengan pelan dan berhati-hati dalam ucapannya agar tidak memancing amarah sang empunya.


"Kau.! Memang apa yang kau tahu?!!" Sahutnya kesal tanpa peduli jika beberapa telinga disekitarnya mendengar ucapan nya.


"Justru karna aku tidak tahu, aku meminta mu untuk diam.!!! Karna jika kau tidak menutup mulut mu itu, kau pula tidak akan dapat mengetahui nya.!!!"


Meski merasa geram pada pemuda disisinya, Zizi tetap menahan emosinya agar tidak menggangu orang keadaan di sekitarnya.


Lubin yang berniat membalas ucapan Zizi, hanya dapat membuka mulutnya dan menutup nya kembali rapat rapat. Setelah mendengar kalimat Cc pada sang Jiějiě.


"Ada apa Jiě? Bukankah kita sudah sepakat untuk lebih menjaga Lin Jiějiě dan lebih berhati hati dengan orang lain?


Lalu mengapa sekarang Jiějiě mengijinkan Tuan muda Wang itu terus datang kemari dengan berbagai alasan untuk menemuinya.? Apa Jiějiě sudah lupa dengan apa yang Jiějiě katakan saat itu padaku?!"


Cc membombardir Lulu dengan kekesalannya, karena merasa terganggu dengan kehadiran Wang Hao yang selalu datang berkunjung ke ruangan dokter cantik itu dengan berbagai alasan untuk menemui sang Jiějiě.


Tak ada jawaban dari si empunya.


Gadis itu sibuk memikirkan entah apa yang ada di dalam hatinya, ia terkejut melihat reaksi Cc saat ini yang menurutnya di luar dugaan.


Untuk pertama kalinya,, dirinya mendengar Cc berkata dengan nada yang terkesan datar dan sedikit meninggikan suaranya.


Lulu bukan marah, tidak juga menyalahkan Cc. Namun melihat wajah bermasalah dari seseorang di hadapannya saat ini membuatnya berpikir tentang apa yang sebenarnya ia pikirkan.


"Jiě, kau sendiri yang mengatakan padaku,, bahwa aku harus berhati hati dengan orang asing, tapi bahkan kau melupakan ucapan mu itu Jiě."


Terdengar lirih dan ada kekecewaan di setiap ucapannya. Lulu kembali teringat tentang percakapan antara dirinya dan Cc sebelumnya.


"Jiě,, ada apa? Mengapa tidak biasanya Jiějiě memintaku untuk membiarkan Lin Jiějiě sendiri."


"Cc,, sekarang jelaskan pada Jiějiě, apa hubungan mu dengan pemuda bermarga Wang itu."


"Jiě,, Cc tidak memiliki hal apapun yang berhubungan dengan nya.."


"Jangan berpura pura lagi, lebih baik jelaskan semua pada Jiějiě, dan jangan coba untuk membohongi Jiějiě."


"Jiě,, sebenarnya ada apa?? Mengapa kau begitu panik?"


"Cc, kau yang lebih tahu bukan,, apa yang telah terjadi pada Jiějiě mu? Kau yang lebih tahu tentang peristiwa 4 tahun lalu,, tentu kau tahu apa yang membuatku panik, dan apa yang membuatku begitu khawatir hingga saat ini."


"Cc tahu itu Jiě."


"Lantas mengapa kau masih mengijinkan nya untuk bertemu dengan a Lin?! Kita tidak mengenalnya, tidak juga mengetahui bagaimana niatnya menemui a Lin."


"Jiě,,"


"Cc, jangan terlalu percaya dengan orang yang tidak kau kenali sebelumnya."


"Jiě,, maaf,,, tapi Cc rasa Hao Gē adalah orang yang baik,, Jiějiě hanya terlalu mengkhawatirkan nya saja.."


"Xiǎomèi,, Jiějiě mohon padamu,, hiks,, Jiějiě tidak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi pada a Lin. Hiks,, Jiějiě sangat menyayangi kalian,, hiks,, Jiějiě tidak akan sanggup jika itu kembali terjadi pada kalian. Hiks,,"


"Jiě,,"


"Jiějiě mohon,, hiks,, untuk kali ini saja,, hiks,, lebih berhati hatilah, hiks,, Jiějiě mohon,, itu sudah cukup untuk kalian lalui.. Hiks,,"


"Mn. Cc berjanji,, tolong jangan menangis lagi,, Cc janji akan lebih berhati hati lagi, dan tidak akan memberi ijin sembarang orang untuk bertemu Lin Jiějiě"


Alam sadarnya kembali, ada genangan embun di sudut matanya. Lulu tidak lupa,, juga tidak melupakannya. Karena sampai kapanpun itu akan selalu tersimpan dalam ingatan nya.


"Cc,, Jiějiě tidak pernah melupakannya."


Lulu mendongak menatap wajah khawatir di hadapannya.


"Jiějiě akan selalu mengingatnya, siksaan yang ia terima,, penderitaan yang ia alami,, juga luka yang ia rasakan,, Jiějiě tidak pernah lupa dengan apa yang Jiějiě katakan. Hanya saja,,,"


Lulu menggantung ucapannya, ia berjalan mendekati Cc dan kemudian memegang kedua sisi pundaknya.


"Cc,, Jiějiě melakukan ini hanya untuk a Yi. Jadi tolong mengertilah,, hanya untuk kali ini saja,,"


"A Yi???"


Cc hanya mengulang nama yang menjadi alasan sang Jiějiě melakukan hal yang di luar dugaannya.


"Mn. Cc,, dia membutuhkan semangat dari seseorang, dan hanya a Lin yang dia inginkan."


"Mengapa harus Lin Jiějiě? Aku mengerti, memang semenjak a Yi bertemu dengan Lin Jiějiě, dia selalu bersikap aneh,, dan juga,,, hahh...."


Gadis itu memutus kalimatnya dengan nafas yang terbuang kasar.


"Aku merasa Lin Jiějiě juga aneh padanya,, aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena aku tahu a Yi adalah anak yang baik. Juga,, aku selalu merasa begitu dekat dengan nya.


Tapi mengapa? Mengapa harus LinJiějiě? Bukankah banyak orang lain?"


"Karena wajah mereka sama."


Yang lebih muda mengerutkan keningnya.


"Siapa yang Jiějiě maksud? A Yi dan Lin Jiějiě??"


Lulu tak menjawab.

__ADS_1


"Ah,, kalau di ingat sejak pertama aku melihat a Yi, aku juga berpikir wajah mereka memang mirip,,,"


"Bukan."


Lulu memotong kalimat Cc.


"A Lin dan Ibu a Yi. Mereka,,, Cc.! Mereka benar benar sangat mirip. Hanya saja,,,"


"Hanya apa Jiě?!! Tolong, katakan dengan jelas."


"Saat itu,,,"


Dokter cantik itu menurunkan pandangannya, ia berjalan dengan pelan menuju tempat duduknya.


Kembali ia mengingat tentang percakapan sebelumnya, antara dirinya dan Wang Hao sebelumnya.


~


"Lalu,, apa hubungannya dengan Lín Xiǎomèi? Apa maksudmu kau mencurigainya sebagai pembunuh Jiějiě mu? A Hao, itu tak mungkin.!! Xiǎomèi adalah orang baik baik. Jadi takkan ada hubungannya dengan kematian Jiějiě mu itu.!"


"Karna wajah mereka sama."


"Ma_ apa yang kau maksud dengan mereka?"


"Dia adalah orang yang melahirkan a Yi."


"I_itu tidak mungkin. Ah,, begini. A Hao,, aku tahu wajah mereka mirip. Tetapi Xiǎo mèimèi bukan Ibu dari keponakan mu, jadi tolong,, ku mohon,, jangan lagi kau datang menemuinya."


"Tidak. Aku mohon,, untuk kali ini saja. Pertemukan a Yi dengan nya,, dan aku berjanji setelahnya tidak akan pernah mengganggunya lagi."


~


"Apa yang ingin Jiějiě katakan,, tolong jangan mengulur waktu. Cc mohon,, katakan yang sebenarnya,, agar aku dapat memahami alasan yang kau beri padaku."


Entah apa yang ada dipikiran Cc saat ini,, ia sendiri tidak tahu. Namun ia sadar,, semua karna ia benar-benar mengkhawatirkan sang Jiějiě.


"Seseorang yang terlihat begitu mirip dengan a Lin. Wajah mereka sama, tidak ada satu celah pun yang berbeda dari mereka.


Cc,, orang tua a Yi,, ah, tidak. Maksud ku,, Ibu a Yi memiliki wajah mirip dengan a Lin. Hanya saja,,,"


"Katakan Jiě."


Kali ini jelas,, Cc benar-benar kehilangan kendali akan emosinya.


Lulu kembali berjalan mendekati Cc, setelah ia mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya.


"Lihatlah, dan kau akan mengetahuinya."


Mata Cc membulat sempurna setelah ia menerima dan melihat sesuatu yang Lulu berikan padanya.


"X_xiao Lin Jiějiě.! I_ini tidak mungkin." Gumam nya lirih.


"Kau merasakan nya bukan? Awalnya aku juga tidak mempercayai nya,, tetapi di situ jelas dapat kulihat,, semua yang dia miliki adalah apa yang ada pada a Lin.


Wajahnya, hidungnya, dan hiasan tinta kecil itu tidakkah itu milik a Lin?? Juga,,, bola mata itu,, tidak bisa membohongi, jika itu sama persis dengan milik a Lin.


Cx,, tolong jelaskan,, bagian mana yang tidak sama dengan a Lin. Bisakah kau memberi tahu ku??"


Meski dirinya tidak ingin mempercayai apa yang di ucapkan nya,, tetapi entah mengapa ada bagian dalam dirinya yang meyakini jika itu adalah kebenaran.


"Mungkin wajah mereka sama,, tetapi jelas dia adalah perempuan yang lain. Dan Jiějiě, Jiějiě berbeda dengannya. Jelas itu tidak sama Jiě.!"


Benar,, meski ia menolak untuk percaya, namun ada bagian dalam hati nya yang yakin jika itu adalah sang Jiějiě. Dan itu tidak bisa Cc pungkiri.


"Xiǎomèi,, untuk kali ini saja Jiějiě mohon padamu. Hanya untuk memastikan kebenarannya. Setelah mengetahui jawabannya, kita lakukan cara apapun untuk menjauhi mereka jika memang ada niat jahat dibaliknya.."


"Mungkin kau benar-benar mempercayai nya Jiě, sampai kau memohon padaku hanya untuk memastikan nya."


Cc tak bisa menolaknya lagi, kali ini mungkin ia harus mengalahkan egonya sendiri.


"Baiklah.."


"Terima kasih Xiǎomèimèi"


Merasa gembira dengan jawaban Cc, Lulu memeluknya erat.


"Lalu,, kapan kita harus mempertemukan keduanya?"


"Sekarang saja. Jiějiě akan memeriksa keadaan a Yi, sebaiknya sekalian kita berkunjung,, itu akan lebih baik. Karena a Yi pasti akan sangat senang."


"Mn. Kalau begitu Cc akan melihat Lin Jiějiě dulu."


Cc berlalu menuju pintu kamar di tengah ruangan tersebut.


Atmosfir yang sebelumnya membuat sesak nafas, kini telah hilang. Benar-benar lenyap, tidak ada ketegangan di antara mereka.


°


~


Ok. Kembali pada ruangan dimana si kecil a Yi berada.


Bocah kecil itu kini nampak asik memandangi pintu besar di seberangnya, entah siapa yang tengah ia tunggu.


"Paman,, bolehkah a Yi bertanya??"


Si kecil langsung mengajukan pertanyaan nya sesaat setelah sang paman memasuki ruangan nya.


"Wuah,, rupanya jagoan kecil nakal ini punya pertanyaan untuk Paman ya.." Godanya sembari mendekati sang keponakan.


"Bisakah???" Tanyanya lagi memastikan.


"Tentu. Eu,, tapi beri tahu Paman Hao terlebih dulu jika Paman adalah orang yang berarti untuk a Yi." Lagi godanya.


"Mn. Paman Hao sangat berarti bagi a Yi. Sama seperti Yi Paa dan Yi Maa. A Yi sangat menyayangi Paman Hao seperti a Yi menyayangi kedua orang tua a Yi."


Jawaban yang tak terduga,, niatnya hanya ingin menggoda sang keponakan, justru mendengar jawaban yang menyentuh hati nya.


"Aghh. Ini,, a,, tidak. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu,, bahkan usianya saja masih terlalu muda untuk bisa memahami makna sebuah kata.."


Wang Hao sangat menyayangi anak kecil di hadapannya itu. Meski sejak a Yi lahir ia tak pernah memiliki waktu untuk bersamanya, namun,, sejak ia kembali, Wang Hao benar-benar fokus membantu sang Gēgē merawatnya dan memberikan semua waktu juga perhatian nya untuk a Yi.


Dalam hatinya, ia tidak pernah berharap bisa menjadi seseorang yang berarti untuk si kecil. Dan ia tak pernah menyangka jika hari ini ia benar-benar di akui oleh si kecil dalam hatinya.


Sungguh,, hatinya serasa seolah di penuhi dengan kupu-kupu berterbangan di dalamnya. Ia bahagia,, benar-benar bahagia.


"Benar sih,, tidak heran jika anak sekecil ini bisa berpikir seperti itu, justru jika ia tidak memiliki perasaan seperti itu, tentu aku akan sangat kecewa. Bukan titisan WangXiao namanya. Hhh.."


Wang Hao sibuk memikirkan hal yang tentu saja tidak dapat di ketahui oleh mahluk kecil di hadapannya.


Dan tentu itu membuat si empunya merasa sebal, karna tidak mendapatkan respon dari sang paman sesuai keinginan nya.

__ADS_1


"Paman Hao.!! Menyebalkan.!!!" Kesalnya dengan mencebilkan bibir nya.


"Hoo,, aiyo,, maafkan Paman Hao membuat jagoan nakal ini kesal..."


Wang Hao mencubit kedua sisi pipi a Yi yang menggembung karena merasa gemas.


"Ah, sekarang tanyakan apa saja yang ingin a Yi ketahui dari Paman Hao." Sambungnya.


"Benarkah??" Tanyanya antusias yang di balas anggukan oleh sang Paman. "Asiiikk....!" Serunya girang.


"Paman,, sebenarnya apa yang terjadi dengan Yi Maa,? Dan mengapa Yi Maa pergi meninggalkan a Yi juga Yi Paa,?? Apa Yi Maa lebih bahagia hidup di surga, di bandingkan dengan a Yi dan Yi Paa??"


Bagai tersambar petir di pagi hari, itulah yang Wang Hao rasakan. Tak pernah terpikirkan olehnya pertanyaan itu akan terucap dari anak kecil yang masih begitu polos, dan tak mengetahui hal yang tidak seharusnya ia ketahui.


Bingung,, perasaan itulah yang menyelimuti hatinya. Bagaimana caranya untuk menjelaskan,? Ia sendiri sadar, dirinya tidak mungkin dan tidak bisa untuk mengatakannya.


Namun,, itulah kenyataan. Setidaknya ia harus menjelaskan beberapa hal agar dapat di mengerti oleh anak seusia a Yi.


"Nak,, ada beberapa hal yang tidak bisa di jelaskan di dunia ini. Tidak bisa menyimpannya, tetapi tidak juga bisa untuk di ungkapkan.


Kau masih terlalu muda, dan masih belum mengetahui apa-apa. Jadi,, lebih baik tunggu sampai kau dewasa dan dapat memahami semua yang terjadi di dalam kehidupan ini.


Dan untuk Ibumu,, percayalah,, baik di surga atau di sisimu,, itu adalah kebahagiaan nya. Jika saat ini Ibumu berada di surga, itu karena tuhan lebih menyayangi nya, dan itu demi kebaikan nya.."


"Tapi,,, mengapa Yi Maa tidak memberikan a Yi kesempatan untuk melihat nya Paman? Hiks,, a Yi ingin memeluk nya,, hiks,, ingin melihatnya walau hanya di dalam mimpi..


Hiks,, hiks,, mengapa a Yi tidak memiliki kesempatan itu, hiks,, mengapa Paman? Hiks,,"


Sungguh,, sesak yang begitu menyakitkan dada saat melihat wajah secerah mentari itu di liputi awan mendung dan tetesan embun membasahi pipinya.


"Jika a Yi benar-benar ingin bertemu dengan Yi Maa,, maka jangan biarkan Yi Maa mu melihat ini,,"


Wang Hao menghapus air mata sang keponakan, memberinya senyuman, harap harap si kecil dapat ikut tersenyum.


"Karena Yi Maa akan sedih melihat malaikat nya menangis. Jadi,,, lakukan ini," Lanjutnya sembari menarik kesuda sudut bibir a Yi membentuk senyuman.


"Buatlah Yi Maa mu tersenyum dan bangga memiliki seorang putra yang begitu kuat seperti mu.." Pungkasnya.


"Mn.! A Yi menge_Yi Maa..!!"


Si kecil menggantungkan kalimatnya, namun terganti dengan sebutan familiar khas miliknya.


"Paman Hao.! Lihat,, Yi Maa datang.."


Sang paman mengikuti arah pandang sang keponakan yang membuatnya membulatkan matanya lucu dengan binar kebahagiaan.


Saat tatapan nya bertemu pandangan dengan sang objek, Wang Hao mengerti, disitulah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Yi Maa..!!"


"Jangan.!!"


"Lin Jiějiě.!!!"


"Lín Xiǎomèi.!!!"


Seru keempat orang berbeda usia dalam ruangan tersebut secara bersamaan.


A Yi yang mencoba bangkit dan turun dari ranjangnya, namun a Lin mencegahnya.


Dan secara bersamaan, Cc dan Lulu memanggilnya karna khawatir jika yang mereka panggil akan terjatuh karna berlari di dalam ruangan demi mencegah a Yi agar tetap di atas ranjangnya.


Lalu bagaimana Wang Hao? Ya, pemuda itu dengan sigap menahan tubuh si kecil agar tak terulang kejadian sebelumnya.


"Kau tak apa nak? Apa ada yang sakit? Ada yang terluka atau,,,"


"Yi Maa..!!"


Lagi, a Yi hanya menyebut dengan panggilan untuk sang ibu, disaat si empunya mengkhawatirkan keadaannya.


"Yi Maa,, hiks,, a Yi rindu,, hiks,," Ucapnya sambil terisak, dan kemudian memeluknya.


"Ma_maaf,, jika a Yi tidak sopan. Hiks,, a_Yi seharusnya tidak bersikap kekanakan seperti ini,, ma_maafkan a Yi."


Dalam sekejap si kecil melepas pelukannya. Suaranya bergetar, seolah ia menahan tangisnya untuk tetap menahan diri.


Ia melepaskan kedua tangan mungilnya yang melingkari pinggang wanita di sisinya, tanpa tahu hal itu membuat kecewa si empunya.


"Terima kasih, sudah meluangkan waktu anda untuk menemui ku Nyonya. Maaf,, karena sejak pertama kita bertemu, itu membuat anda tidak nyaman. Tetapi a Yi berjanji,, mulai saat ini, tidak akan lagi ada hal yang menggangu anda.." Ucap si kecil berusaha berbicara dengan sopan pada orang yang lebih dewasa.


Sontak semua orang dewasa di sekelilingnya merasa terkejut mendengarnya.


"Tidak. Kau tidak boleh melakukan nya nak.. Jangan katakan hal itu.." Wang Hao menggeleng tak setuju dengan ucapan si kecil.


"Tidak. Tidak.! Mengapa,,? Mengapa hatiku sangat tidak rela mendengar ucapan nya,, tolong jangan katakan itu padaku nak.." Gumaman lain dari seorang di hadapan a Yi.


"Tolong,,, jangan katakan itu padaku."


Tanpa di duga, a Lin yang juga merasa tak rela mendengar ucapan si kecil langsung menerjang tubuh mungil di hadapannya iti.


Membawanya ke dalam pelukan, memeluk nya begitu erat, seakan tak ingin melepasnya.


"Lakukan apapun yang kau mau,, aku takkan melarang. Katakan apa saja yang kau ingin,, aku takkan marah.. Panggil aku sesuka hatimu, aku takkan menolaknya. Sebutkan semuanya,, asal itu membuat mu nyaman, aku akan bahagia..


Tapi tolong,, jangan pernah lakukan apapun untuk menjauhi ku.. Jangan katakan sesuatu jika itu untuk meninggalkan ku.. Ungkapan semua keluh kesah mu, kesedihan mu, juga kepedihan hati mu padaku, asal kau bisa tetap bersamaku..


Kumohon,,,"


Bukan hanya si kecil a Yi yang tak dapat membendung lagi air matanya. Tetapi semua orang yang ada di sekitar mereka ikut meneteskan air mata harunya.


Meski Cc dan Lulu tak mengerti alasan a Lin mengatakannya, namun entah mengapa mendengar semua kalimat yang ia ucapkan membuat hati mereka tersentuh.


"Hiks,,hiks,, Yi Maa,, hiks,,ini a Yi,, hiks,, a Yi sangat merindukan Yi Maa,, hiks,, a Yi disini baik baik saja bersama Yi Paa,, hiks,, jangan lagi khawatir,, hiks,, dan tenanglah di surga.. Hiks,,"


Meski suaranya tidak terdengar jelas bagi beberapa orang, namun itu cukup jelas terdengar oleh si empunya yang memeluk.


"A_apa yang dia maksud,? Su_surga? A,apa seseorang itu telah tiada? Tapi mengapa hatiku sangat sakit mendengar ucapan nya, sangat sakit,, seolah tidak bisa menerimanya..


Ada apa dengan diriku? Apa aku melakukan dosa di masa lalu yang membuat ku begitu terikat hingga saat ini,,? Tapi apa,??? Apa yang terjadi sebenarnya..?


Tuhan,, apapun itu, tolong tunjukkan kebenaran padaku,, jika memang aku memiliki kesalahan di masa lalu, biarkan aku menebusnya untuk sekarang.."






__ADS_1


__ADS_2